
"Mou berjanji akan menuruti apapun yang Abang katakan." Mou segera mengusap iar matanya dan mencoba tersenyum.
Menyunggingkan bibirnya dengan samar bahkan nyaris tak terlihat. Gemilang segera melajukan mobilnya.
"Abang," panggil Mou ketika mereka berhenti di lampu merah.
"Hem."
"Mou, nggak ganti baju dari kemarin. Apakah ada toko pakaian di dekat sini." Mou tampak ragu ketika mengatakannya.
"Di depan ada toko pakaian, aku akan membeli pakaian untuk kita berdua." Kembali melajukan mobilnya. Tanpa Mou mengatakan padanya, ia juga akan membelikan pakaian untuknya.
"Kamu tunggu di sini," ucap Gemilang saat mereka telah sampai pada toko pakaian sederhana.
"Memangnya Abang tahu ukuran Mou." Menggigit bibirnya pelan merasa itu terlalu tidak sopan jika Gemilang tahu ukuran untuknya.
Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal Gemilang segera membuka pintu mobil. "Jangan membatah, tunggu saja disini. Ingat jangan kemana-mana, bahaya."
Mou segera mengangguk.
.
.
.
"Mbak ada pakaian untuk wanita?" tanya Gemilang yang hanya melihat kaus berwarna serupa di sini.
"Di sini adanya kaus couple saja mas, untuk bawahannya juga ada. Pakaian dalam juga ada lengkap pokoknya." Mbak-mbak itu menatap kagum pada sosok sempurna di hadapannya.
"Kaus yang biasa saja nggak ada mbak?" tanya Gemilang mulai memilah kaus di sana.
"Tidak ada mas, mas nya nggak lihat nama toko ini toko couple." Menemani Gemilang yang sedang berkeliling.
"Kalau yang nggak couple adanya di toko sebelah mana ya?" Masih mencoba mencari tahu, ia tidak akan memiliki wajah di hadapan Mou jika membeli baju ini.
"Jauh mas, turun lagi. Sekitar setengah jam an."
Mendesah malas, Gemilang mengambil kaus hitam dengan tulisan 'King' satunya lagi 'Queen'.
Memilih celana panjang untuk dirinya, lalu juga untuk Mou dengan bersusah payah. Mana tahu ia ukuran Mou, masa bodolah kira-kira saja yang penting muat.
"Mbak," panggil Gemilang yang sebenarnya sangat malu.
"Iya mas?"
"Tolong pilihkan dalaman wanita." Gemilang menunjukkan foto pada ponselnya. Menutupi wajah wanita itu, "kira-kira saja." Malu bukan kepalang karena mbak ini terlihat menahan tawanya.
"Gampang mas," jawab mbaknya terkekeh geli.
"Body nya idaman ya mas," godanya lalu melangkahkan kaki untuk memilah pakaian dalam.
Gemilang membulatkan matanya, tiba-tiba udara terasa begitu panas karena omongan mbak ini.
"Yang merah ya mas, pasti lebih seksi." Mbak itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Terserah," jawab Gemilang segera melangkahkan kakinya menuju kasir.
.
__ADS_1
.
.
Mou tersenyum kecil saat pakaian yang di belikan oleh Gemilang begitu pas pada tubuhnya. Apalagi laki-laki itu repot sekali sampai membelikan dirinya pakaian dalam.
Menatap pantulan wajahnya pada kaca dan terus tersenyum, sejenak masalahnya terlupakan.
Segera keluar dari kamar mandi. "Abang, Mou sudah--" Mata Mou membulat ketika melihat Gemilang mengenakan kaus yang sama dengan dirinya. Mengerjap-ngerjapkan matanya masih tidak percaya.
Gemilang berdehem lalu membelakangi Mou karena begitu malu. "Aku tunggu di mobil," ujarnya lalu pergi dari sana.
Mou tersenyum kecil karena itu, memegangi wajahnya yang malah merona ketika melihat lucunya dirinya dan Gemilang mengenakan kaus ini.
.
.
.
"Jadi couplean nih?" tanya Mou yang kesekian kalinya sudah Gemilang abaikan.
"Hanya warnanya saja yang sama," elak Gemilang yang tetap fokus mengemudi.
"Sama aja Abang."
"Lebih baik kamu ke rumah Sam saja, karena media tidak tahu kalau Sam bagian dari keluarga Munaj." Gemilang mencoba mengalihkan pembicaraan ketika mobilnya memasuki area perumahan Sam.
Mou segera mengangguk. "Seperti yang Mou katakan tadi, Mou akan nurut sama Abang."
Sam tampak menunggu di teras. Menatap heran pada dua manusia yang baru saja keluar dari mobil.
Apakah mereka habis berkencan?
"Bang Sam," ucap Mou segera menghampiri Sam.
"Kamu nggak papa kan?" Sam mengusap lembut rambut Mou.
"Mou baik-baik saja."
"Kalian balikan?" tanya Sam yang membuat Mou dan Gemilang saling berpandangan.
"Mou kamu ke dalam saja dulu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Sam." Gemilang berucap begitu serius.
"Iya, apa Abang mau istirahat di sini dulu saja. Biar Mou siapkan kamar," tawar Mou.
"Tidak usah, nanti malam aku akan kesini lagi."
Mendengar hal itu membuat Mou tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Oh iya, Mou masuk dulu kalau begitu."
Gemilang hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Bagaimana, apakah Edwin sudah bisa di hubungi?" tanya Gemilang setelah Mou pergi.
"Bang Roman sudah menyuruh orangnya untuk mencari Edwin yang menghilang begitu saja." Sam mendengus kesal mengingat hal itu.
"Sam, aku dan anak buah ku sudah semaksimal mungkin menghentikan berita itu, tapi karena jangkauannya luar negeri sangat susah untuk kita tembus."
"Kita harus gimana lagi Gem," ucap Sam begitu frustrasi.
__ADS_1
"Serang balik," ucap Gemilang ambigu.
"Caranya?"
"Sudahlah aku mau beristirahat dulu, nanti malam kesini lagi." Menepuk pundak Sam pelan lalu melangkahkan kakinya.
.
.
.
Mou terus menatap kosong pada jendela kamarnya. Tidak berani melihat televisi, ponselnya pun masih di bawa Gemilang.
Biarlah kegelapan malam yang menemaninya saat ini.
"Jangan ngelamun mulu," ucap Sam yang baru saja memasuki kamarnya.
Mou tersenyum hambar pada Sam.
"Ayo ke bawah, Gemilang ada di sini." Mendengar itu membuat Mou tersenyum kecil.
"Ayo," ucapnya mendahului langkah Sam.
"Giliran ada Gemilang saja semangat," gerutu Sam mengikuti langkah Mou.
Mou sedikit terkejut ketika melihat bukan hanya Gemilang saja yang berada di sana. Kedua orangtuanya juga tampak mengobrol dengan Toro dan Roman.
"Mou.." Mila segera merentangkan tangannya, Mou segera menghampiri rengkuhan hangat itu.
"Semua baik-baik saja kan, cantik?" tanya Mila khawatir.
"Iya, Mam. Mou baik-baik saja" Mou bergantian mencium tangan Elang.
"Sabar ya," ucap Elang menepuk lembut kepala Mou.
"Iya, Pap."
"Mou, sini." Toro menepuk-nepuk sisi kosong sebelahnya dan Mou segera duduk di sana di susul dengan Sam.
"Sebelumnya, terimakasih banyak Gem." Toro tersenyum pasa laki-laki yang semenjak tadi terdiam. "Berkat kamu Mou aman," menoleh pada Mou dan menggenggam tangannya.
"Pak Toro, sebenarnya kedatangan saya kesini karena ada tujuan dan maksud tertentu." Gemilang menghela nafasnya dan menatap semua orang.
Toro mengerutkan keningnya bingung.
"Ijinkan saya menikahi Mouresa Munaj, putri semata wayang bapak."
Hening ...
Hanya Elang dan Mila yang tersenyum melihat keberanian anaknya.
"Kamu serius?" tanya Roman. Sedangkan Mou masih terdiam dan berpikir apakah ia hanya salah dengar saja.
"Sangat serius."
.
.
__ADS_1
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋