Gemilang Ku

Gemilang Ku
83 ~ Perasaan yang menggelap


__ADS_3

"Abang, boleh ya pakai bikini," pinta Mou yang sudah kesekian kalinya. Gemilang saja boleh bertelanjang dada, mengapa dirinya tidak boleh.


"Tidak!" masih dengan jawaban yang sama. Mereka saat ini sedang berjalan di pinggir pantai, merasakan sejuknya udara sore hari ini.


Memberengut kesal, Mou berjalan mendahului Gemilang.


"Jangan bermimpi untuk memakai pakaian sialan itu di depan umum." Gemilang berkata sedikit keras dan juga kesal.


Lagi-lagi Exel dan Ben yang berada dibelakang mereka dibuat mendesah malas.


Tiba-tiba Mou menghentikan langkah, kemudian menoleh pada sosok tampan yang menyebalkan itu. Lihat saja, para gadis disana menatap Gemilang dengan penuh damba.


Otot-otot besar, juga perut kotak-kotak nya dipamerkan begitu saja di hadapan semua orang. "Abang!, pakai kaus mu" masih dengan kesal menghentak-hentak kan kakinya.


Seulas senyuman manis pada bibir Gemilang, melihat betapa menggemaskan nya seorang Mou ketika sedang merajuk "Iya-iya," ucapnya begitu pasrah.


"Dikit-dikit bucin, dikit-dikit berantem." Ben menggeleng malas pada mereka berdua, "cari bule aja yuk." ucapnya kemudian menatap Exel.


"Setuju!" timpal Exel bersemangat.

__ADS_1


"Apa, mau cari bule juga?" Mou mendelik kesal ketika Gemilang mengikuti arah pandangan Ben dan Exel.


"Nggak," jawab Gemilang menelan ludahnya kasar. Mengapa wanita ini begitu sensi hari ini. Atau jangan-jangan Mou sedang kedatangan tamu bulanan.


"Ayo, kita cari es degan saja" Gemilang segera merangkul pundak Mou dengan kata-kata selembut sutra. Dan tentu hal itu mampu membuat Mou sedikit luluh.


Restoran terbuka dipinggir pantai menjadi pilihan mereka sore ini. Menatap deru ombak yang begitu merdu, langit sore mulai keemasan seiring berjalannya waktu.


Namun tetap saja, sosok cantik yang sedang memberengut lucu itu menjadi fokus Gemilang saat ini. Mengusap pipi bulat itu dengan lembut.


Rambut panjang Mou berterbangan kesana-kemari dibawa oleh hembusan angin, membuat Gemilang menyibakkan rambut yang menutupi pemandangan indah itu.


Lalu hampir saja menceburkan diri ke pantai ini. Rasanya ia akan benar-benar gila jika tidak bisa menyelamatkan Mou saat itu.


Mou mengangguk malu, mengingat bahwa otaknya memang tak pernah berpikir panjang. "Terimakasih sudah datang di waktu yang tepat." Wanita mana yang tidak hampir gila jika gagal menikah, apalagi sudah membuat malu seluruh keluarga.


Dan untungnya ia dipertemukan dengan laki-laki dihadapannya ini, jika tidak? entahlah mungkin ia akan benar-benar mengalami gangguan jiwa.


"Terimakasih sudah ke pantai ini waktu itu." ucap Gemilang.

__ADS_1


Karena jika tidak, aku tidak tahu lagi penantian ku harus sampai kapan. Mencari mu bertahun-tahun tanpa kejelasan.


Tatapan mereka saling mengunci, menyelami dalamnya perasaan satu sama lain, yang bahkan tidak akan cukup jika hanya dijabarkan melalui kata-kata.


"Apapun keputusan mu Mou, asalkan itu yang terbaik. Setidaknya aku akan mencoba semampu ku."


Baru saja Mou hendak membuka suara, namun ia tersentak ketika melihat Ben dan Exel berjalan kearahnya. Bukan, bukan Ben dan Exel yang menjadi masalah. Namun wanita cantik yang sedang bersama mereka.


"Ilona," gumam Gemilang tanpa sadar saat juga melihat mereka.


Matahari yang tadinya cerah begitu tampak mendung melihat wanita itu disini. Perasaannya menggelap bersamaan dengan langit sore ini.


.


.


.


1000 KATA AKU BUAT DUA PART YA, BIAR CEPET NYAMPE PART 100.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE SAMA KOMEN DULU DI PART SEBELUMNYA 💋


__ADS_2