Gemilang Ku

Gemilang Ku
100 ~ Haruskah menetap?


__ADS_3

Seorang wanita cantik duduk sendirian di tempat yang menurutnya asing. Meneguk minumannya begitu elegan.


"Permisi, nona." Seorang laki-laki mendekati dirinya.


"Iya," ucap Mou sembari mendongak.


Laki-laki berjambang itu tampak meneliti seluruh wajahnya. Sebelum senyuman mengembang di bibirnya.


"Mouresa," ucapnya tiba-tiba mengenakan bahasa Indonesia.


Mou mengerjapkan matanya masih berpikir. "Kak Edwin?" Tanya Mou kemudian.


Laki-laki itu mengangguk, mengusap kecil pada rambut Mou. "Sudah besar ya ternyata. Makin cantik lagi," pujinya.


Tersenyum kikuk, segera meraih tangan Edwin untuk dijabat. Tidak melupakan budaya negaranya.


Edwin segera duduk dihadapan Mou. "Dulu waktu kakak main ke Bali, kamu masih kecil."


Mou mengangguk, ia sudah lupa sebenarnya. Meskipun wajah Edwin tidak asing baginya.


"Kakak tinggal disini sudah lama?" tanya Mou berbasa-basi.


"Sudah Mou, sudah hampir lima tahunan. Anak kakak yang pertama sudah umur empat tahun sekarang, yang kedua baru dua tahun."


Mou mengangguk, "Kakak sepertinya sudah jadi orang sukses ya." Mou melihat pakaian dan juga jam tangan yang bisa dibilang begitu mahal.


"Hehe, sebenarnya kakak menjadi agensi model disini. Model Indonesia yang berada di London."


Mou tampak menganga mendengarnya. "Wah, kakak hebat."


"Kamu minat?" tanya Edwin yang membuat Mou terdiam. "Kamu selebgram kan, dan kakak rasa kamu juga punya bakat."


"Nanti dulu deh kak," jawab Mou sungkan.


.


.


.


"Abang, hari ini hari pertama Mou kuliah. Mou merasa minder sebenarnya, teman-teman Mou hebat semua... Tapi Mou harus lebih hebat."


~


"Abang, sekarang Mou punya teman. Dia adalah salah satu wanita kuat yang ingin Mou contoh."


~


"Abang, disini sedang musim salju. Andai Abang disini pasti Mou tidak akan kedinginan. Kita bisa melihat salju bersama."


~


"Kuliah hari ini benar-benar menegangkan, dosennya galak sekali, Mou takut Abang. Tapi tak apa, lama-lama juga terbiasa."


~


Ini yang pertamakali Mou mendapatkan nilai tertinggi, Mou senang sekali.


~


"Abang, setelah Mou memikirkan semuanya. Mou ingin mencari uang tambahan. Agar tidak terlalu menyusahkan papa."


~


"Abang, mungkin Abang tidak akan terlalu suka dengan hal ini. Tapi Mou tertarik dengan dunia permodelan. Setelah setahun akhirnya Mou menerima tawaran untuk menjadi model disini."

__ADS_1


~


"Mou menjadi model karena ada sesuatu yang harus Mou wujudkan. Sebenarnya Mou juga suka dengan profesi ini."


~


"Abang jangan khawatir ya, Mou tidak memakai pakaian minim kok."


~


"Abang, sekarang Mou sakit sendirian. Baru kali ini Mou terbaring lemah tanpa siapapun. Tapi Mou harus kuat."


~


"Abang, kak Edwin. Teman bang Roman yang sudah Mou anggap sebagai kakak sendiri. Menawarkan pemotretan untuk majalah internasional. Mou bahagia."


~


"Abang, Mou sepertinya lelah bekerja dan kuliah. Tapi nggak papa, Mou kan hebat."


~


"Abang, di hari ulang tahun Mou. Mou seperti melihat Abang dari kejauhan. Mungkin itu hanya ilusi saja, karena Mou begitu rindu dengan Abang."


~


"Semoga Abang nggak salah paham ya, saat aku menemani kak Edwin mencari cincin untuk istrinya, aku melihat sosok yang mirip dengan Abang."


~


"Abang lama-lama Mou memang tidak waras. Bayangan Abang selalu muncul. Tapi kenapa munculnya selalu sama kak Edwin, aneh."


.


.


.


"Kita pemotretan satu jam lagi ya, Mou." Seorang wanita cantik yang baru saja datang tersenyum pada Mou.


"Kak Laura juga kesini," Mou begitu antusias untuk memeluk wanita itu.


Setelah melepaskan pelukannya, Laura memperlihatkan cincin yang melingkar di jarinya. "Kakak suka pilihan kamu, Edwin memang tidak pernah becus memilih sesuatu. Baru kali ini kakak suka hadiahnya."


Ya, dia Laura istri Edwin yang juga sudah menganggap Mou sebagai adik sendiri. "Nanti kita makan malam bersama ya. Louis juga ikut, dia nyariin kamu loh."


Mou menggeleng, "Mou ada acara malam ini, maaf ya kak."


Abang, hati Mou cuma buat Abang. Disini Mou menjaga hati mati-matian. Tidak peduli jika nanti pun hati Abang sudah berpaling.


"Ayolah Mou, ponakan kakak satu-satunya itu akan sangat cerewet jika kamu tidak datang." Laura menatap Mou dengan tatapan memohon.


"Lain kali saja ya kak." Tolak Mou begitu halus.


"Jangan memaksanya," ucap Edwin yang baru saja datang. Merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. Ini adalah pemandangan yang sehari-hari Mou nikmati, bahkan kadang lebih fulgar lagi.


"Ya, aku tidak akan memaksa adikmu." Laura terkekeh mengingat dirinya selalu berdebat dengan Edwin, tentang Louis dan Mou.


.


.


.


"Hai Mou," sapa Jessie yang baru saja datang.

__ADS_1


"Hai, Jessie. Mimpi apa kamu datang lebih awal di jam perkuliahan."


Jessie segera merangkul bahu Mou. "Aku ingin menyaingi Mou," jawabnya terkekeh.


"Kamu menulis diary lagi?" tanya Jessie melihat buku kecil yang berada dipangkuan Mou.


Mou mengangguk, "mau melihatnya?" tanya Mou penuh ledekan.


"Aku tidak paham bahasa mu," ucap Jessie kesal dan segera mengeluarkan bukunya.


Mou tersenyum karena itu. "Buku ini tempat aku mengadu," ucap Mou mengenakan bahasa Indonesia.


"Berhenti meledekku." Jessie mendengus kesal. "Tapi aku sangat penasaran dengan laki-laki itu, yang berhasil membuat mu mengabaikan laki-laki tampan di kampus kita."


"Dia lebih tampan," ucap Mou tak terima.


"Ya, karena dia berhasil mendapatkan hati top model London."


"Berhenti memujiku," ucap Mou yang wajahnya menjadi bersemu.


.


.


.


"Hari ini adalah hari kelulusan Mou, Mou sedikit kecewa ketika tidak melihat Abang diantara keluarga Mou."


~


"Mou lulus dengan nilai yang lumayan, meskipun bukan lulusan terbaik."


~


"Abang, sepertinya Mou harus lebih lama lagi disini. Hari ini Mou menandatangani kontrak dengan brand terkenal di dunia. Satu tahun lagi, Mou baru bisa kembali ke Indonesia."


~


"Bertahan sedikit saja Mou. Tiga tahun di negeri orang, demi bisa meraih sesuatu yang Mou inginkan."


~


"Orang pertama yang akan Mou beri tahu tentang sesuatu itu adalah Abang."


~


"Sudah hampir dua tahun lebih ini, Mou tidak berani untuk sekedar menghubungi Abang. Mou takut dan merasa tidak pantas karena telah meninggalkan Abang."


~


"Sejujurnya selama ini Mou khawatir, Abang akan memiliki wanita lain. Dan hari ini hati Mou begitu ngilu mendengarnya. Mou mendengar dari salah satu stasiun televisi jika Abang akan bertunangan dengan Jasmine."


"Jasmine adik dari Kak Zaky yang dulu menjadi sahabat Abang dan bang Sam."


"Kenapa mendadak begini, dulu Abang menolak Jasmine mentah-mentah."


"Padahal tinggal beberapa bulan lagi Mou kembali ke Indonesia, haruskah Mou menetap disini selamanya?"


"Mungkin ini memang balasan yang setimpal karena sikap Mou yang seenaknya sendiri pada Abang."


"Mou harus bagaimana Abang?"


.


.

__ADS_1


.


Ijin libur agak lama sebelum menginjak season 2, dukungannya ya gais ❤️


__ADS_2