
Menatap kosong pada gemercik air yang di dalamnya dipenuhi oleh ikan-ikan yang tengah berkejaran. Dinginnya angin malam yang berhembus tak membuat laki-laki itu berpindah tempat. Entah sudah beberapa jam ia duduk dan melamun di sini, yang pasti hatinya sedang porak poranda hanya karena sebuah ciuman singkat.
Usapan di pundaknya membuat ia menoleh, wanita paruh baya itu tersenyum padanya. Membelai rambutnya dengan penuh sayang. "Belum ngantuk?" tanya Mila, tidak perduli jika saat ini Gemilang adalah CEO ataupun pimpinan untuk beribu-ribu karyawan. Tetapi jika sudah di rumah seperti ini, ia tetap putra kecilnya.
"Belum Mam," mencium tangan Mila dan membawanya dalam pipinya.
"What your problem?" Mila tahu betul Gemilang sedang gelisah, ia duduk di samping Gemilang.
Gemilang menggeleng, menyandarkan kepalanya pada pundak yang ternyaman di dunia ini.
"Kamu kangen dia kan, kenapa harus seperti ini Gem?" Mila tak habis pikir mengapa Gemilang memilih bersikap dingin pada Mou.
"Mam, Gemilang laki-laki, beribu-ribu orang hormat dan tunduk kepada ku. Tapi saat aku gagal membuat satu wanita hormat dan tunduk kepada ku, aku merasa menjadi laki-laki pengecut."
Mila paham, intinya Gemilang masih kecewa. Sosok yang menjunjung begitu tinggi harga dirinya terluka karena sosok yang di cintanya.
"Jika aku menerima Mou kembali, dia akan seperti itu lagi kan. Menginjak-injak aku saat aku luluh dan tunduk kepadanya. Lebih baik seperti ini, biar dia lebih tahu cara menghargai ku." Menghela nafasnya seolah-olah begitu berat ia mengatakannya.
Mila mengusap-usap lembut rambut Gemilang. "Kamu lihat sendiri kan, Mou sudah banyak berubah. Dia lebih dewasa Gem, berkelana di negeri orang selama tiga tahun benar-benar membuat perubahan luar biasa pada dirinya. Coba bayangkan jika Mou tidak ke London waktu itu. Dia hanya akan bisa mengurus anakmu di rumah saja. Tanpa tahu betapa luar biasanya dunia luar. Dan lebih hebatnya dia membuktikan itu pada seluruh dunia. Kuliah sembari bekerja tidaklah mudah lo Gem, Mami bangga sama dia."
Berbeda dengan pikiran Mila. "Gemilang lebih suka Mou yang manja, Mou yang cengeng, Mou yang akan bergantung pada Gemilang dalam hal apapun."
Mila paham apa yang dirasakan Gemilang, lebih baik Mou menyentuh hatinya perlahan. "Iya, intinya kamu tidak suka dan cemburu kan jika Mou menjadi sorotan publik." Mila terkekeh kecil.
"Bukan gitu Mam," elak Gemilang.
"Mamii besok mau belanja sama Mou, beli hadiah buat pernikahan Ben. Kamu mau ikut?" tanya Mila.
"Nggak," ucap Gemilang meraih sesuatu pada sakunya. Mengeluarkan dompet kulit dan menyerahkan black card pada Mila.
"Mamii pakai saja kalau mau belanja."
"Ini buat Mou ya," Mila tak bisa menahan senyumannya.
"Bukan Mam."
.
.
.
Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun di Elang Group, sesekali tersenyum pada karyawan di sana yang menyapanya. Rantang susun berwarna pink terus ia genggam sembari menuju ruangan paling atas gedung ini.
"Siang, Bu. Sudah di tunggu sama pak Gemilang." Yohan sedikit membungkukkan badannya.
"Pak Yohan, bisakah bapak bersikap biasa saja. Panggil Mou seperti sebelumnya." Mou begitu sungkan.
__ADS_1
Yohan berdehem sejenak, "apakah tidak papa?" lirihnya yang membuat Mou tertawa.
"Santai saja."
"Iya Mou, masuk saja pak Gemilang sudah mengomel dari tadi." Yohan membukakan pintu itu.
Benar kata Yohan Gemilang tampak menunggu dirinya. Sebenarnya ia telat setengah jam, karena harus ke Moon Beauty House dulu.
Mou tersenyum manis pada sosok yang sudah menyilangkan kakinya di sofa. Tatapan dingin yang seolah membuatnya semakin terbiasa.
"Maaf pak saya telat." Meletakkan rantang itu di atas meja disusul dirinya yang duduk di sofa.
"Tidak profesional, kamu tahu saya paling benci keterlambatan."
Sudah Mou pastikan Gemilang akan mengomel tiada hentinya. Sampai ide nakal terbesit di benak nya.
"Aw!," rintih Mou memegangi perutnya.
"Kenapa?" Gemilang mendekati Mou dengan khawatir.
"Kayaknya maag aku kambuh deh, belum makan tadi." Memejamkan matanya sejenak, sebenarnya perutnya memang sedikit nyeri karena haid. Tapi tidak apa-apa kan jika ia mengetes laki-laki ini sedikit saja.
"Bawa obat nggak?" Gemilang segera meraih ponselnya menghubungi Yohan untuk mencarikan obat.
"Pasti nggak kan," ucap Gemilang lagi. "Dasar ceroboh."
"Sebenarnya aku bawa makanan, gimana kalau kita makan saja dulu." Mou mengerjapkan matanya dengan lucu.
"Hemm," dehem Gemilang menjadi salah tingkah. Segera membuka rantang susun itu satu persatu.
"Kita makan bareng ya, sebentar lagi juga jam makan siang. Kita bicarakan scriptnya setelah makan saja."
Mou tidak menerima bantahan, segera mengambilkan Gemilang nasi, juga dirinya sendiri.
Menandaskan makanan dengan kebisuan. Sejujurnya Mou memilih rencana ini karena takut jika Gemilang akan memilih makan siang bersama Jasmine. Hanya di jam kerja dirinya bisa bebas bersama Gemilang.
"Kamu bohong kan?" ucap Gemilang kesal.
Namun herannya ia tetap diam ketika Mou membohonginya, karena biasanya jika maag Mou kambuh harus minum obat dulu. Baru bisa menerima makanan setelahnya.
"Beneran laper kok," elak Mou segera membersihkan meja saat mereka sudah selesai makan.
"Ini pak obatnya," ucap Yohan yang baru saja memasuki ruangan.
"Kamu minum sendiri saja, Han."
"Lah.." Yohan nampak bingung dengan bosnya.
__ADS_1
.
.
.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh sepasang kekasih selama bertahun-tahun ini. Ben menatap takjub pada mempelai wanitanya.
"Cie nikah," sindir wanita yang tengah duduk di kursi roda.
"Kenapa pengen lo ya," ucap Ben terus menatap Raisa yang masih di beri polesan make up.
"Nanti malam pertama dong," celetuk Ibel lagi. "Dasar otak mesum," sahut Ben mengusap gemas bahu wanita itu.
Juna dan Mou hanya terkekeh saat melihat mereka yang bertengkar namun begitu manis.
"Oh, ya Gemilang mana?" Ben menoleh sekitar sahabatnya belum juga datang menemuinya.
"Itu dia," lirih Juna saat melihat Gemilang datang bersama dengan wanita di belakangnya.
Mou menghela nafasnya ketika Jasmine di sana. Berkali-kali menguatkan dirinya tapi gagal. Mou tidak bisa melihat Gemilang bersama wanita lain.
"A-aku ke keluar sebentar ya," ucapnya gugup dan segera melangkahkan kakinya tanpa menatap dua manusia yang baru saja datang.
Mou terus menghindari mereka saat pesta berlangsung. Memilih tempat sepi yang tidak akan terlihat.
"Kok sendiri?" tanya seseorang yang sepertinya Mou kenali.
Menoleh dengan gugup, dan benar ternyata suara tak asing itu.
"Louis, kenapa kamu ada di sini?" Mou terkejut melihat laki-laki itu menghampirinya.
"Kamu sama siapa?" tanya Mou lagi dengan bingung.
"Sama Sam," jawab Louis santai dan segera duduk di hadapan Mou.
"Ke-kenapa bisa di Indonesia?" Mou tak paham dengan situasi ini.
"Mencari mu lah, apa lagi?" ucapnya terkekeh. Tidak peduli meskipun Mou tidak pernah menatapnya. Selagi ia masih bisa berusaha meluluhkan hati wanita ini.
.
.
.
Maaf telat. Thanks yang sudah follow Ig ku.
__ADS_1
Akhirnya Gemilang-ku naik levelnya berkat kalian semua cintaku 💋