
Masih ditemani oleh gelapnya malam, dengan hembusan angin yang berlarian mengelilingi sepasang makhluk yang seolah tak mau lepas satu sama lain. Mereka duduk disofa memanjang dengan saling berpelukan. Mengalahkan dinginnya udara malam ini.
Masih berkecamuk dengan pikirannya masing-masing. Padahal yang berada dipikiran mereka hanyalah perkara perpisahan.
"Kamu jangan sakit lagi ya," ucap Gemilang begitu lembut.
Mou mengangguk dan mempererat pelukannya.
"Mulai besok, aku nggak akan ganggu kamu." Tutur Gemilang yang membuat Mou mendongak detik itu juga.
"Bukan itu maksudku," Gemilang terkekeh sendiri ketika Mou salah mengartikan. "Aku tidak akan menghubungi mu, tapi aku akan tetap kesini setiap akhir pekannya."
Mou mendesah lega karena itu, kenapa ia menjadi pecundang seperti ini. Tidak mau melepaskan tapi disisi lain ia sudah berjanji dengan Ibel untuk melepaskan Gemilang.
"Abang,"
"Iya sayang,"
Mou menelan ludahnya kasar ketika Gemilang memanggilnya seperti itu, jantungnya berdegup kencang seolah ingin keluar darisana.
Mou Mendongak menatap netra tajam tapi teduh itu, mengusap rahang Gemilang dengan lembut. Sebelum melabuhkan kecupan kecil disana.
"Maafin Mou ya," Mou kemudian menunduk dan segera bersembunyi di ceruk leher Gemilang.
"Jangan memikirkan apapun, aku nggak mau kamu sakit lagi." Gemilang berkata begitu tegas tak ingin dibantah.
.
.
.
Sinar matahari mulai menghangatkan bumi, suara ayam berkokok terdengar merdu pagi ini. Wanita yang tengah bergelut dengan alat dan bumbu dapur itu senyumnya tak luntur.
Celemek berwarna pink serta rambut yang digelung keatas membuat Gemilang tidak tahan untuk merengkuh tubuh wanita itu.
Mou tersentak ketika merasakan pelukan hangat dari belakang, namun senyuman terselip pada sudut bibirnya ketika merasakan aroma favoritnya.
"Sudah mandi?" tanya Mou sembari menggoreng nugget.
"Sudah," jawab Gemilang melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat-lekat Mou yang sibuk memasak.
Gemilang sudah rapi dengan stelan jasnya, karena ia akan langsung menuju kantornya ketika sampai Jakarta nanti.
"Ganteng," puji Mou yang kemudian tersipu sendiri. Jika melihat Gemilang begitu gagah dan seksi seperti ini selalu membuat dirinya lemah.
__ADS_1
"Cium dulu," ucap Gemilang menyodorkan pipinya di dekat Mou.
CUP. . .
Mou menghadiahkan kecupan singkat pada rahang Gemilang.
Gemilang tampak melihat jam dipergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus segera berangkat."
Mou beralih pada dua kotak makanan di meja, sibuk menata berbagai macam lauk disana. "Abang, nggak sarapan dulu?" tanya Mou.
"Nggak keburu, Exel sama Ben sudah menuju bandara."
Mou mengangguk, ia sudah paham betul Gemilang yang selalu tidak punya waktu. "Kalau begitu makan di mobil saja, Mou sudah menyiapkan dua. Satunya untuk nanti siang di kantor ya, Mou sudah kasih tempat makan khusus supaya nggak basi."
"Makasih," Gemilang tersenyum menerima perhatian Mou.
"Iya," jawab Mou segera melepas celemek nya.
"Kamu mau ke kampus?" tanya Gemilang ketika melihat Mou ternyata sudah berpakaian rapi.
"Iya, abis kamu berangkat aku langsung berangkat nanti."
"Bareng aja,"
"Kan searah, Mouresa." Gemilang mencubit gemas pipi Mou.
"Oh, iya ya. Kalau begitu Mou ambil tas sebentar." Mou berlari kecil menaiki tangga.
Dua orang bertubuh besar sudah menunggu di depan rumah Mou. Mereka membungkuk sopan ketika melihat Gemilang keluar dari rumah itu.
"Silahkan, pak" ucapnya membukakan pintu mobil.
Gemilang hanya mengangguk dan menuntun Mou untuk memasuki mobil, disusul supir pribadi yang sudah disiapkan Yohan untuk mengantarkan Gemilang.
"Abang tadi sudah pamitan?" tanya Mou yang sibuk membuka kotak makanan.
"Iya sudah, Papa tadi nemenin Ara main. Kak Jen sama bang Roman ke pasar katanya."
Mou mengangguk, segera menyendok nasi dengan oseng ati diatasnya, mengarahkannya pada mulut Gemilang.
"Makan dulu," ucap Mou penuh perintah. Gemilang segera menerima suapan itu dengan tangan yang sibuk dengan benda persegi panjangnya.
Mou terus menyuapi Gemilang, sesekali menyeka bibir laki-laki itu yang tengah mengunyah.
"Abang harus sering makan sayur," ucapnya lagi sembari menyodorkan sesendok besar brokoli.
__ADS_1
Gemilang hanya mengangguk, setelah ia membaca laporan yang dikirim oleh Yohan. Ia segera memasukkan ponselnya dan beralih menatap wanita yang mengomel sedari tadi.
"Lama-lama kamu kayak Mamii ya," Gemilang meraih air putih yang disodorkan oleh Mou setelah menandaskan makanannya.
Mou kembali sibuk membereskan kotak makanan, "Mou terlalu cerewet ya."
"Iya, tapi aku suka." Gemilang meraih tangan Mou untuk di genggam.
Mou menyerahkan kotak makanan yang masih penuh, "Ini nanti untuk makan siang di kantor."
Gemilang tersenyum melihat kotak makanan berwarna merah muda dengan gambar bunga-bunga diatasnya. Mungkin ia akan ditertawakan oleh semua orang jika menentengnya di kantor. Tapi ia tidak perduli.
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat didepan gerbang kampus Mou. Gemilang ikut keluar mengantarkan Mou.
"Abang hati-hati ya," ucap Mou yang entah mengapa menjadi sedih.
"Iya, kamu belajar yang rajin." Gemilang mengusap pelan rambut halus itu, lalu membawanya dalam dekapannya. Tidak perduli dengan orang-orang yang menatapnya.
Mou mengangguk, mengeratkan pelukannya karena sebentar lagi tubuh ini tidak bisa ia rengkuh. Tangan besar milik Gemilang juga tidak bisa ia genggam. Yang pasti Mou akan merindukan laki-laki ini.
"Jangan nakal, nggak boleh ngelirik siapapun. Pokoknya awas aja kalo kamu mau dideketin sama cowok-cowok di kampus ini." Gemilang berkata panjang lebar.
"Nggak akan," ucap Mou yang sudah berkaca-kaca.
Gemilang melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Mou yang sudah disapa air mata. "Kalo kamu kangen kamu boleh telepon aku, tapi aku tidak akan menelepon mu meskipun kangen. Aku tidak mau mengganggu mu ataupun menjadi beban pikiran mu.
Mou tidak mampu menjawab hanya meremas kuat tangan laki-laki itu.
Gemilang melabuhkan kecupan manis pada kening, kedua pipi Mou dan juga bibirnya sekilas.
"Cepat masuk." ucap Gemilang kemudian mengusap-usap rambut Mou.
"Hati-hati," Mou mengangguk dan memutar tubuhnya untuk segera pergi, namun ia baru menyadari suatu hal. Semua mata menatap pada dirinya dan Gemilang, menunduk malu akan hal itu dan segera memasuki kampus.
Namun ia sempatkan untuk menoleh pada laki-laki yang tersenyum manis dan melambaikan tangan padanya.
Mou membalasnya dengan senyuman, dan segera melanjutkan langkah kakinya.
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1