Gemilang Ku

Gemilang Ku
68 ~ Tunggu gue mati!


__ADS_3

Tangan lentik Mou mengusap rahang Gemilang dengan lembut, senyuman manis tak lupa ia selipkan pada sudut bibir mungilnya.


"Aku suka, bahkan sangat suka mendengar jika kamu cemburu" usapan lembut nan halus itu membuat darah Gemilang berdesir dan membuatnya menutup mata sejenak untuk menikmatinya.


"Tapi ada yang harus kamu tahu. Bahwa aku juga tidak menginginkan Dion bersikap seperti itu padaku. Aku tidak bisa mengalahkan seseorang dengan perasaannya. Dion ataupun Ibel adalah orang yang hadir sebagai penguat rasa diantara kita".


Mengusap lembut rambut tebal Gemilang "Tapi hanya satu hal yang aku tahu. Aku hanya menginginkan mu tak seorang pun mampu mengubah itu" Mata Mou mengunci enggan untuk menatap yang lain selain laki-laki ini.


Gemilang membawa tangan Mou agar menyentuh dadanya. Bergemuruh serta debaran kuat didalam sana dan hal seperti ini hanya saat bersama Mou saja.


"Aku benar-benar gila , ingin menjadikan dirimu milikku segera".


Tatapan Gemilang terpaku pada bibir tipis semerah Cherry dan begitu manis dan lembut saat di sesap.


Secepat kilat ia memangkas pemikiran itu jauh-jauh. Ini sudah malam dan ia tidak tahu apa yang terjadi jika bibirnya mendarat disana.


"Ayo pulang" ucap Gemilang segera beranjak. Merusak suasana manis dan hangat ini. Tidak, mungkin dirinya sudah kepanasan karena geleyar aneh ini.


"Sekarang?" tanya Mou begitu tak paham. Baru Lima belas menit ia mendaratkan tubuhnya pada sofa nyaman ini. Dan masih ingin bermanja-manja dengan Gemilang sebenarnya.


"Iya, ayo aku antar pulang sekarang" ucap Gemilang seraya memakaikan jas miliknya pada tubuh Mou.


.


.


.


Sore ini, setelah pulang kerja dan pulang sebentar Mou memutuskan untuk menemui sahabatnya yang sudah ia sakiti hatinya.


Benar kan, aku memang manusia tak berperasaan. Mengkhianatinya sahabat ku sendiri.


Mungkin mereka pikir Mou bahagia mendapatkan hati Gemilang seutuhnya. Namun rasa bersalah menyeruak dalam dadanya, membuatnya begitu sesak tatkala mengingat nama Ibel dipikirannya.


"Selesaikan dengan baik" ucap Sam setelah memberhentikan mobilnya di depan rumah Ibel , mengusap rambut Mou dan tersenyum untuk memberinya kekuatan.


Mou mengangguk dan terlihat ragu untuk turun dari mobil.


"Ada apa lagi dek?" ucap Sam khawatir.


"Mou salah bang, Mou harus gimana" Mou memang telah menceritakan semuanya pada Sam, tak terkecuali. Sam tidak mengatakan apa-apa, tidak mengatakan setuju atau tidaknya hubungan Mou dan Gemilang.


Yang pasti apapun itu Sam ingin adiknya menyelesaikan masalah dengan Ibel.


Sam menggeleng "Kamu nggak salah, kamu cuma harus menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada Ibel".

__ADS_1


"Iya bang" dengan ragu Mou segera mencium tangan Sam. "Abang hati-hati, Mou pulang sendiri saja" ucap Mou yang tahu akan kesibukan Sam. Namun Sam tetap menyempatkan untuk mengantarkan adiknya saat ia hendak kembali ke rumah sakit.


Mou turun dari mobil dan menghela nafasnya berkali-kali. Wanita cantik mengenakan rok selutut serta sweater rajut ini tampak ragu ketika mengetuk pintu rumah Ibel.


"Mou" tiba-tiba pintu rumah terbuka, menampilkan sosok tinggi dengan rambut gondrongnya.


"Kak, Ibel nya ada" tanya Mou pada kakak dari Ibel yang sepertinya hendak pergi.


Membuka pintu lebar-lebar ia segera menyuruh Mou masuk dan mengatakan langsung saja ke kamar Ibel.


"Bel" mengetuk pintu kamar itu dengan hati-hati.


Mata Ibel melebar sempurna ketika melihat Mou berdiri didepan kamar nya "mau apa" ucap Ibel tak santai.


"Ibel aku--".


"Kalo kesini cuma mau minta maaf mending nggak usah" sela Ibel beranjak dari tempatnya, tujuannya adalah dapur untuk mengambil minum.


Mou mengikuti langkah kaki Ibel "Aku tahu aku salah bel, tapi ketika aku memutuskan untuk mundur justru takdir menyuruh aku dan Gemilang untuk bersatu. Aku harus gimana bel?" ucap Mou menepuk dadanya begitu sesak.


Ibel yang tengah membelakangi Mou tahu betul sahabat nya sedang menangis, ia berbalik dan menatap Mou dengan serius "Gue nggak tau Mou harus ngomong apa lagi. Tapi gue bukan orang munafik yang akan pura-pura baik di depan Lo, disaat hati gue nggak baik-baik aja!".


Meninggalkan Mou menuju kamarnya. Mou tidak menyerah dan terus mengikuti langkah Ibel "maafin aku bel".


Ibel duduk disisi ranjang menatap keluar jendela "jika kata maaf mampu menyembuhkan sakit hati gue, mungkin udah jauh-jauh hari gue maafin lo.


Mou terduduk dan bersimpuh menangis tersedu-sedu.


"Mungkin kalo cewe lain gak akan sesakit ini. Tapi ini Lo Mou, sahabat gue sendiri!" setetes cairan bening tak tertahankan lagi.


"Ibel maaf" suara Mou tercekat tak mampu berbicara lebih jauh.


"Apa gue harus mutusin persahabatan kita biar nggak sesakit ini" Ibel mengusap air matanya kasar.


Mou menggeleng kuat dan segera menghampiri Ibel, ikut duduk dan memeluk sahabatnya erat-erat "Bel, jangan gitu hiks".


Ibel meronta-ronta melepaskan pelukannya namun Mou kekeh memeluk sahabatnya.


"Sekarang gue tahu Mou, berkat Lo gue tahu gimana rasanya ingin mati".


"Ibel" ucap Mou disela-sela isakan nya.


"Gue tahu rasanya gimana waktu lo ditinggal Bara dan memutuskan untuk bunuh diri, gue juga gitu Mou sekarang. Mungkin Lo bakal mandang gue cewe nggak tau malu karena berharap pada seseorang yang sangat mustahil untuk jadi milik gue" Air mata terus bercucuran di pipi Ibel, namun tetap mengatakannya dengan tegas.


"aku harus gimana bel?" ucap Mou dengan pilu.

__ADS_1


"Jauhin Gemilang, kalo Lo mau persahabatan kita lanjut. Tapi gue nggak maksa terserah Lo Mou" Ibel berdiri tak kuasa dengan semua ini. Biar, biar semua orang menilai dirinya egois tapi ia tidak bisa munafik dan menerima ini semua.


"Atau nggak tunggu gue mati aja, terserah kalo abis itu kalian mau bersama, gue nggak perduli. Yang penting gue udah mati!".


"Ibel!" sentak Mou yang merasa omongan Ibel semakin melantur.


Tiba-tiba Mou melihat lipatan kertas yang berada dibawah kakinya. mengambilnya dan membukanya perlahan.


Mata Mou membulat seketika, tangannya bergetar hebat ketika membacanya.


"I-ibel" lirih Mou, Ibel langsung berbalik dan merebut kertas itu.


"anggep aja Lo nggak pernah tahu" ucap Ibel pada Mou yang tangisnya semakin pecah.


"Kanker otak stadium tiga" ucap Mou dengan bibir yang bergetar.


Ibel mengangguk bibirnya terus melengkung meskipun air mata tumpah dengan derasnya.


"Maka dari itu gue kan udah bilang, tunggu sampai hari kematian gue, itu nggak akan lama".


Mou segera memeluk Ibel dengan erat, Isak tangisnya begitu pilu. "udah berapa lama bel" ucapnya setelah melepaskan pelukannya dan mengguncang pelan pundak sahabatnya.


"gue juga baru tahu Mou, dan gue juga bersyukur karena itu gue nggak akan sakit hati lebih lama lagi" Ibel memalingkan wajahnya tak kuasa menatap mata Mou yang sudah sembab.


Menutup wajahnya dengan kedua tangannya Mou benar-benar tak kuasa dengan ini semua. Ibu Ibel juga meninggal karena penyakit itu.


Ibel menyembunyikan penyakitnya rapat-rapat dari siapapun. Ia tak ingin semua orang menatapnya penuh kasihan. Ia tak ingin disisa hidupnya hanya berbaring di ranjang rumah sakit.


Bahkan jika sakitnya kambuh ia memilih menyendiri agar tidak ada yang tahu betapa menyedihkannya dirinya.


Apakah aku harus sakit hati dulu melihat mu hidup dengan Gemilang. Setelah itu baru akan mati.


.


.


.


KONFLIK TERKAHIR SEBELUM.........?


A. TAMAT


B. NIKAH


C. GAK JADI NIKAH

__ADS_1


D. ISI SENDIRI


SENENG DEH KALO KOMENNYA PADA PANJANG. MAKASIH GAESS. LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2