
Gemilang benar-benar menepati omongannya. Seminggu bersama dengan Mou, ia manfaatkan waktu untuk saling memahami, juga melihat keindahan pantai, tempat favorit wanita itu.
Sekarang saatnya kembali ke dunia nyata. Pahit manisnya dalam berumah tangga, akan ia nikmati mulai detik ini.
"Sayang!" teriak Mila begitu heboh saat Mou dan Gemilang memasuki rumah.
"Mamii." Tersenyum saat wanita paruh baya itu memeluknya terlebih dahulu.
"Ayo, istirahat dulu." Merangkul bahu Mou tanpa melirik kearah Gemilang.
"Mentang-mentang sekarang sudah punya anak cewe," sindir Gemilang mengekori mereka yang tengah berjalan menuju kamar.
"Muka kamu kok beda sih Gem setelah Mamii perhatikan." Menoleh pada Gemilang sejenak.
Dahi Gemilang berkerut. "Maksud Mamii?"
"Lebih seger gitu," ucap Mila terkekeh. "Aura pengantin baru memang seperti itu ya."
"Mamii kan pernah muda," sahut Gemilang setelah mereka menaiki lift.
"Gimana beban kalian sudah hilang kan." Mila menatap penuh haru atas perjuangan cinta keduanya.
Menggenggam tangan Mou dengan erat. "Mamii senang atas di persatukannya kalian berdua, tidak pernah terbayang sebelumnya jika bukan Mou yang berada di samping Gemilang." Mengusap air matanya yang tiba-tiba melintas.
Mou mengusap punggung Mila. "Mamii kok nangis sih."
"Mamii nangis karena bahagia, Mou. Asal kamu tahu betapa hancurnya seorang Gemilang saat kamu pergi dari hidupnya..hiks."
"Mamii.." lirih Gemilang.
"Dia mabuk-mabukan nggak jelas setiap harinya. Berhenti mabuk, malah main wanita. Pokoknya Mamii bersyukur karena kalian kembali dengan perasaan yang masih sama."
Keluar saat pintu lift terbuka.
"Kalau ke depannya nanti ada masalah. Kalian harus mengingat betapa tidak mudahnya perjalanan kalian untuk sampai pada titik ini."
"Iya, Mam. Pasti," sahut Gemilang.
"Makasih juga ya Mam, karena selalu dukung Mou untuk mendampingi Abang." Mou mengusap mata basahnya.
"Iya, istirahat sana. Mamii juga mau keluar sebentar cari bahan makanan."
"Biar Mou temenin ya, Mam."
Menggeleng sembari mengusap pipi Mou. "Nggak usah sayang, pokoknya hari ini Mamii mau masak buat menyambut kedatangan menantu Mamii."
.
.
.
__ADS_1
"Abang bangun!" Mou terhenyak ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Segera memunguti bajunya yang tercecer di lantai dan menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi laki-laki itu masih saja tertidur dengan lelapnya. Mengguncang bahu Gemilang dengan pelan. "Abang, bangun!"
"Jam berapa sih?" tanya nya masih memejamkan mata. Satu hal yang sudah Mou hafal dari suaminya ini, Gemilang adalah type orang santai dan susah di bangunkan.
"Sudah hampir jam delapan, ayo cepat mandi. Mou sudah menyiapkan air hangat dan baju buat Abang."
Mendengar hal itu membuat Gemilang tersenyum. Baru mengingat jika sekarang sudah ada yang memanjakan dan melayani dirinya. Segera bangkit dan memeluk tubuh istrinya. "Sayang banget sama kamu."
Gimana nggak sayang kalau Mou selalu menuruti keinginan laki-laki ini meskipun tubuhnya tengah remuk.
"Mandi dulu," sahut Mou mendekap erat tubuh telanjang suaminya.
"Padahal aku mau mandi bareng loh, kamu malah mandi duluan," gerutu Gemilang saat melihat rambut Mou yang sudah basah.
"Abang lama sih, Mou kan nggak enak masa di rumah mertua jam segini baru bangun."
Tersenyum kecil saat melihat leher Mou yang sudah membiru akibat kelakuannya. "Mereka pasti paham kok, jangan turun dulu tunggu aku mandi dulu." Mencuri satu kecupan lembut pada bibir Mou.
.
.
.
"Maaf ya Mam, Pap, kita kesiangan." Mou menatap sungkan pada kedua mertuanya yang sudah menunggu di meja makan.
Elang justru tersenyum karena itu. "Santai saja Mou, Papii tahu betul kalau masih pengantin baru gini."
"Keluarga aku itu santai orangnya."
"Mulai besok, biar Mou saja Mam yang masak." Tersenyum kecil saat berbagai macam makanan sudah tersaji hanya untuk sarapan.
"Nggak usah Mou, biar bibi saja."
"Tapi Mam.." ucap Mou terhenti ketika Gemilang menggenggam tangannya.
"Nggak boleh repot dan capek-capek."
"Gimana soal rumah sudah kalian bicarakan?" tanya Elang angkat bicara.
"Sudah, Pap. Mou lebih memilih untuk tinggal di sini katanya." Gemilang tidak pernah bosan menatap sosok cantik di sampingnya.
"Kamu yakin Mou?" tanya Mila. "Mamii sih senang kalau kalian tinggal di sini, tetapi Mamii juga tahu kok Mou tinggal dengan mertua itu nggak enak."
"Mou yakin kok Mam, lagian mau pindah kemana. Kata Abang nantinya juga akan menetap di sini kan."
Lagi-lagi Mila terharu akan jawaban menantunya.
"Tuh kan Mam, istri Gemilang benar-benar berbeda dari yang lainnya." Gemilang berucap dengan bangga.
__ADS_1
.
.
.
Mobil Gemilang sudah berhenti di depan Moon Beauty House, menatap gedung ini dengan perasaan bangga. Jerih payah Mou berwujud ini, meskipun sebenarnya Gemilang bisa memberikan lebih dari ini tanpa Mou jauh-jauh pergi ke London.
"Maaf ya sayang aku nggak bisa lihat tempat kamu hari ini, ada meeting satu jam lagi." Gemilang mengusap lembut pipi istrinya.
"Iya nggak papa, Abang kerja saja. Mou juga sebentar di sini, mau cepat-cepat pulang masak makan malam untuk Abang." Menggenggam tangan besar Gemilang seolah enggan berpisah.
"Males banget harus pisah," ucap Gemilang yang malah mendekap tubuh Mou.
"Abang malu," gerutu Mou melepaskan pelukannya. Merapikan jas Gemilang yang sedikit kusut.
"Aku berangkat dulu ya sayang." Meninggalkan kecupan pada kening Mou. Lalu beralih merogoh saku celananya.
"Pakai ini dulu sementara," ucap Gemilang menyerahkan black card pada Mou.
"Bebas mau kamu pakai apapun."
Tersenyum kecil dan segera menerimanya. "Makasih, suami." Hatinya berbunga ketika mendapatkan nafkah dari laki-laki itu. Bukan karena uangnya tetapi karena merasa sekarang ada yang bertanggung jawab penuh atas dirinya.
"Sama-sama juga istriku, nanti kalau mau pulang telepon aku dulu ya."
"Kenapa?" tanya Mou dengan polos.
Mencubit gemas pipi bulat Mou. "Mulai sekarang apapun itu harus ijin denganku dulu. Mau kemana saja, dengan siapa pun. Dan aku tidak mengijinkan istriku pergi dengan laki-laki."
"Siap pak suami." Meraih tangan Gemilang untuk di cium. "Sana keburu telat sayang."
"Iya sayangku.." Mencuri satu kecupan pada bibir Mou sebelum memasuki mobilnya.
Bibir Mou terus melengkung ketika memasuki ruangannya. Aura kecantikan wanita itu benar-benar luar biasa setelah menikah. Ia bahagia, sangat bahagia menjadi istri Gemilang yang memperlakukan dirinya dengan baik.
Beban hidupnya benar-benar terangkat, sekarang tidak ada lagi kecemasan dalam dirinya. Tidak perlu meminum obat sebelum tidur, tidak perlu menangis sendirian lagi.
Ah, pokoknya Gemilang adalah sumber kebahagiaannya.
Baru saja Mou menghempaskan tubuhnya pada kursi, notifikasi dari laki-laki itu membuatnya kembali tersenyum.
Semangat istriku, bakalan kangen kamu banget hari ini.
Pesan penuh gombalan yang terkesan lebay ini membuat Mou berdebar setiap kali memikirkan Gemilang, apalagi sentuhan laki-laki itu yang kini mulai terbiasa di terima oleh tubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAES
MAAF TELAT 💋