
Ben mengetuk pintu kontrakan minimalis modern ini. Suasana tenang dan damai, tempat tinggal yang ia pilihkan untuk kekasih hatinya.
Sosok cantik yang masih mengenakan celemek itu membuka pintu dengan senyuman yang cerah.
"Masuk" ucap Raisa mempersilahkan Ben agar segera masuk. Memang kebiasaan Ben adalah ke kontrakan nya untuk sarapan pagi hari lalu berangkat kerja bersama.
"masak apa sayang" Segera mengikuti Raisa ke arah dapur dan mengecup rambut nya dengan sayang.
"Aku masak ayam ungkep kesukaan kamu" jawab Raisa segera menyiapkan makanan untuk Ben.
"Enak" puji Ben mencuri satu gigitan pada paha ayam itu, masakan Raisa adalah sumber perasaannya tumbuh.
Awal mula cinta mereka dimulai dengan kecocokan kuliner bersama, masakan Raisa yang begitu nikmat, lalu menyentuh hati seorang Beniqno Bagaskara.
"Kamu ih, belepotan bee" mengusap bibir Ben yang menyisakan sisa makanan.
Ben mencekal tangan Raisa lalu mengecupnya "kamu butuh kepastian?" tanya nya menjadi begitu serius. Tapi ini bukan yang pertamakali nya Ben membicarakan hal ini, ia sedang berusaha meyakini orang tuanya bahwa Raisa pantas bersanding dengannya.
Membalas dengan senyuman, Raisa hanya menggeleng "tumis sawi mau kan?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.
"Doa in aku ya sa, semoga papa mama ku cepat luluh" Mengingat umur Raisa yang tak muda lagi, membuat Ben berpikir keras. Wanita itu pasti ingin segera menikah dan memiliki anak. Apalagi keluarga Raisa sudah mendesaknya.
"Iya, kamu makan dulu, biar aku ambilkan dasi kamu dulu" jawab Raisa yang selalu menghindari pembicaraan itu. Terlalu menyakitkan ketika mengingat orang tua Ben tidak merestui hubungan nya.
"Pakai yang warna merah aja sa" sahut Ben segera mengunyah makanan nya.
Iya memang Ben banyak menghabiskan waktunya disini, jadi tak heran jika barang-barangnya berada disini dan diurus oleh Raisa. Ia juga tinggal di apartemen sendiri, masih malas jika harus pulang ke rumah dan di uring-uring keluarga nya soal Raisa.
.
.
.
"Apa?! , permohonan percepatan magang?" ulang Gemilang begitu tak paham. Baru kali ini ia mendengar hal seperti itu.
"Tau tuh, bini Lo" ucap Ben kesal menatap wanita cantik disamping nya. Kenapa harus mendadak seperti ini, Mou meninggalkan setumpuk pekerjaan. Apalagi si bos pasti mengijinkannya.
Mou tersenyum kecut dan mengangguk "Karena bapak kasih nilai saya A terus, maka pihak kampus memberikan kelonggaran untuk skripsi terlebih dahulu".
"itupun jika bapak mengijinkan" ucap Mou menghela nafasnya tampak memelas.
Tentu saja Gemilang tidak tega. Ia juga ingin Mou segera menyelesaikan studinya dan segera menikah.
Semoga saja!.
Gemilang meraih lalu menandatangani kertas dihadapannya itu. "Belajar yang rajin ya, biar cepat aku lamar" ucap Gemilang tersenyum.
__ADS_1
"Makasih pak Gem" jawab Mou membalas senyuman itu.
"Terus gue sama siapa ajg!" umpat Ben. Selagi ini adalah jam istirahat jadi tak apalah mengumpat sedikit pada Gemilang.
Gemilang tampak berpikir untuk itu "Anaknya paman Aris, yang berada di divisi keuangan" ucapnya seolah mendapat ide brilian.
"Yang dulu mau dijod-" Gemilang segera membungkam mulut Ben yang seperti panci bocor.
Ben tampak sadar dengan hal itu, menyadari jika ada Mou disana.
"Yang mau apa pak Ben?" tanya Mou.
"Yang mau di jadikan pengganti kamu, selama sekretaris asli gue belum masuk kerja" sahut Ben menyengir.
"Oh" Mou tampak mengangguk.
Setelah menyelesaikan urusannya, Ben meninggalkan dua manusia itu, agar lebih leluasa membucin. Malas saja jika dirinya harus menjadi obat nyamuk.
Gemilang tersenyum menepuk-nepuk sofa, memberi isyarat agar Mou mendekat padanya.
Segera beranjak, Mou mendekat pada Gemilang, aroma maskulin menyeruak masuk dalam Indera penciuman nya.
Sangat menenangkan.
"Bakalan kangen banget sama kamu" ucap Gemilang meraih jemari lentik Mou untuk digenggam.
"Hey, aku akan sering mengunjungi mu" hibur gemilang pada Mou yang tampak bersedih "Kalau perlu aku bisa kesana setiap pulang kerja, malam harinya". Ya, dia menjawab segampang itu karena memiliki jet pribadi.
Mou menggeleng cepat, senyuman hambar terlihat jelas pada sudut bibirnya "Nggak usah Abang, Mou kan juga sibuk skripsi".
"Oh iya ya" jawab Gemilang yang mengingat hal itu, pasti Mou sangat sibuk dan ia tak ingin menganggu.
"Yang penting kamu harus bisa dihubungi, jangan telat makan kamu punya magh Lo" ucap Gemilang memperingatkan, Mou memang suka telat makan.
Mou mengangguk, tiba-tiba memeluk tubuh Gemilang dengan erat "Abang harus baik-baik disini, Abang nggak boleh capek-capek" Mengusap buliran bening yang hampir saja tumpah.
Kecupan lembut terasa menghangatkan pada kening Mou "Kamu yang harus pinter-pinter jaga diri. Kan aku nggak ada didekat kamu, hati-hati disana".
Mou hanya mengangguk dan tak mampu menjawab apapun.
"Jaga diri, jaga hati" ucap Gemilang lagi merengkuh tubuh Mou yang begitu hangat dan nyaman.
"Pasti" jawab Mou tanpa melihat Gemilang.
"Udah mau habis jam makan siang nya, aku harus kembali" ucap Mou beranjak pergi begitu saja, tidak mampu menatap netra tajam Gemilang, karena pertahanannya pasti akan rapuh.
.
__ADS_1
.
.
Berjalan sendiri dalam gelapnya malam, pikirannya berkecamuk tak karuan sampai kepalanya mau pecah. Mengenakan jaket Hoodie yang kebesaran serta celana training yang membuat lekuk tubuhnya nyaris tak terlihat.
Mou memakai topi Hoodie, menyembunyikan wajahnya. Ditemani sandal jepit, Mou memasuki mini market yang sudah lumayan sepi itu.
Setelah membeli beberapa kebutuhan dan makan ringan. Mou keluar dari mini market dengan kantong plastik putih ditangannya.
Duduk di bangku mini market itu sendiri. Menikmati es krim rasa Valina yang berbalutkan cokelat di luarnya. Pandangannya kosong, semakin ia mencoba berpikir semakin sulit ia menerima keadaan.
Percakapannya dengan Ibel kemarin masih teringat jelas pada kepalanya.
"Oke, aku akan kembali ke tempat asal ku. Tapi kamu harus sembuh, kamu harus berobat bel".
"Aku akan menjauh dari Gemilang maupun kamu, agar semuanya baik-baik saja seperti sebelum aku datang kesini".
"Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat bel, aku juga tidak mau munafik".
"Aku mencintai Gemilang lebih dari apapun".
"Aku akan benar-benar pergi menjauh, tapi jika suatu saat takdir berpihak padaku dan Gemilang. Sungguh, itu diluar kuasaku bel".
"Aku tidak sanggup melukai hati Gemilang sejauh itu".
Entah keputusan bodohnya ini akan berimbas baik atau buruk pada kehidupan mereka nantinya. Yang pasti ia sedang berusaha untuk tidak menyakiti siapapun. Entah apa yang terjadi nantinya, ia hanya mencoba mengikuti alur.
Dan bersyukur dengan alasan ini, ia akan benar-benar menjauh. Sampai sahabatnya sembuh dari sakitnya dan patah hatinya. Toh, meskipun ia tidak pulang sekarang, sebulan lagi ia juga akan tetap kembali ke Bali untuk menyelesaikan studinya.
Tapi yang ia harapkan saat ini adalah kesembuhan Ibel dan juga takdir yang memihak padanya dan Gemilang.
"Cewek" panggil seseorang yang sedari tadi sudah duduk disebelah Mou, namun ia tak menyadarinya.
Mou mengerjap-ngerjap kan matanya seolah tak percaya melihat sosok laki-laki itu berada disana.
"Abang?"
.
.
.
APA HARUS KONPLIK TERUS BIAR YANG KOMEN PADA BANYAK 😌
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1