Gemilang Ku

Gemilang Ku
53 ~ Memasang topeng


__ADS_3

"Masuk Mou" ucap Ben ketika Mou masih terdiam diambang pintu.


"Eh, i-iya pak" ucap Mou segera melangkahkan kakinya.


tuk.


Mou meletakkan kopi itu dihadapan Ben, Gemilang dan juga Ilona.


"kamu masih suka kopi hitam?" tanya Gemilang begitu nyaring suaranya.


"iya" jawab Ilona kemudian tersenyum pada Mou "kamu kok masih inget sih Gem".


"Nggak ada yang Gemilang lupain dari Lo kayaknya" ucap Ben mengompori.


Mou mengepalkan tangannya, mencoba untuk tidak menatap pada mereka.


"Saya permisi dulu" ucap Mou menunduk.


"Eh, Mou tunggu" ucap Ben yang membuat Mou mendengus kesal, ia segera membalikkan badannya dan tersenyum semanis mungkin.


Membuktikan bahwa dirinya begitu baik-baik saja saat ini, entah dengan hatinya.


"iya pak".


"Tolong kamu pisahkan dokumen yang berada di meja pak Gemilang ya, seperti yang tadi, kita kan sudah tidak ada jadwal hari ini" ucap Ben dengan santainya.


Namun ingin sekali Mou melemparkan nampan yang ia bawa pada Ben, sialan!.


"baik pak" Berjalan menuju meja Gemilang dan berusaha tidak mempedulikan mereka bertiga.


Tapi mau bagaimanpun suara mereka tetap terdengar pada telinganya.


"Kuku kamu warnanya biru laut lagi" ucap Ben begitu keras, seolah dua orang yang dihadapannya adalah orang tuli.


"iya, lucu kan" ucap Ilona memamerkan kuku-kuku indahnya.


"Warnanya cantik" puji Gemilang.


Ilona nampak tersipu karena Gemilang bukan laki-laki yang mudah mengatakan hal itu.


"pasti kamu cat biru terus karena warna kesukaannya Gemilang ya" ucap Ben melirik wanita yang sedang sibuk dengan dokumen itu "sama Raisa juga kayak gitu, dia selalu pakek cat kuku warna kesukaan ku".


Mou mendengus kesal, padahal jelas-jelas Raisa tidak pernah mengenakan cat kuku, apa mata Ben sudah buta.


Sembari memilah dokumen Mou terus mencengkeram erat ujung roknya.


Saat ini hatinya memang terasa seperti diremas-remas.


"Mou" panggil Ben lagi.


"iya pak Ben" ucap Mou menoleh kemudian memasang senyuman termanis nya.


"kamu hari ini lembur?" tanya Ben.


"Tidak pak, saya ada acara, lagipula kita kan sudah tidak ada kerjaan lagi" jawab Mou kemudian berdiri, berjalan menghampirinya mereka.


Oh, sial.


Gemilang baru menyadari jika Mou mengenakan rok sialan itu lagi.


"sudah selesai pak, saya permisi dulu" ucapnya dengan sopan, lalu melangkahkan kakinya untuk pergi.


"gila, bentuk tubuhnya bikin meremang" ucap Ben tanpa sadar.

__ADS_1


"Udah nggak betah lagi kerja disini" ucap Gemilang yang membuat Ben nyengir kuda.


"heheh, bercanda pak".


"kenapa?" tanya Ilona yang tak tahu apa-apa.


"hehe gapapa na" sahut Ben.


.


.


.


Dada Mou naik turun menatap pantulan wajahnya yang berada di cermin kamar mandi.


Buliran bening itu kembali membasahi pipinya. Rasanya sakit sekali ketika melihat Gemilang seperti itu pada Ilona. Gemilang terus melemparkan senyum padanya.


Senyuman yang dulu ia tunjukkan ketika bersamanya.


Mou mengikat rambut panjangnya, kembali menghapus air matanya meskipun itu adalah hal yang sia-sia.


Menyalakan kran air pada wastafel kemudian mengadakan tangannya, mengguyur wajahnya yang sudah tidak menyisakan perhiasan.


Semuanya sudah luntur karena air matanya.


"kamu nggak boleh lemah Mou" ucap Mou menyemangati dirinya sendiri.


Dengan terpaksa melengkungkan bibirnya "iya kamu harus seperti ini" ucapnya menunjuk bayangannya di cermin.


Sebelum kembali ke ruangannya Mou berkali-kali menghela nafasnya.


"kamu kenapa?" tanya Raisa terheran-heran melihat wajah Mou tanpa riasan, rambut bagian depannya masih nampak basah.


.


.


.


"Mou ayo pulang" ucap Raisa yang sudah menunggu sedari tadi namun Mou terlihat masih sibuk dengan dokumen nya.


"Eh, sudah pulang ya mbak" ucap Mou melihat jam tangannya. Ia sampai lupa waktu karena tenggelam dalam pekerjaannya.


Mungkin ia juga harus mencari kesibukan agar pikirannya terus teralihkan.


"udah, mbak tungguin dari tadi loh" ucap Raisa yang sudah menenteng tas jinjing nya.


"maaf ya mbak" ucap Mou tersenyum dan segera merapikan meja lalu meraih tasnya.


Mou dan Raisa berjalan beriringan menuju lift.


Dan sialnya lagi, ada tiga manusia itu disana.


Mou memejamkan matanya sejenak sebelum memulai akting terbaiknya, bersembunyi dibalik topeng nya.


Tersenyum.


"Eh kalian juga mau pulang?" tanya Ben.


"iya pak" jawab Raisa.


Mou hanya menunduk, tidak mampu menatap Gemilang dan Ilona, dadanya begitu nyeri saat melihat mereka.

__ADS_1


"Masuk lift sini saja" ucap Gemilang pada Raisa dan Mou.


"tidak usah pak" ucap Raisa sungkan, karena itu adalah hal lift khusus direktur.


"udah nggak papa" sahut Ben langsung menarik tangan tangan Raisa begitu saja.


Dan mau tidak mau Mou harus mengikuti mereka.


Gemilang berada ditengah-tengah Mou dan Ilona, sedangkan Ben dan Raisa berdiri dibelakang.


Canggung, hening, dan sunyi tentunya.


"Nanti aku turun di kantor aku aja ya Gem" ucap Ilona menatap Gemilang.


"iya" jawab Gemilang dengan lembut "nggak makan dulu?" tanya Gemilang lagi.


"nggak usah masih kenyang" jawab Ilona.


"beneran?".


"iya Gem".


Ben tersenyum puas atas akting Gemilang yang sepertinya sudah mendekati sempurna, karena Gemilang tidak pernah berakting pada siapapun, ia selalu menjadi dirinya sendiri dan begitu jujur.


Mou terus menunduk, tidak berani menatap manapun. Dadanya bagai dihantam dengan keras.


Matanya sudah memanas, ia menggigit bibirnya yang mulai bergetar.


tes.


Air matanya jatuh bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Mou terburu-buru meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.


"loh Mou" ucap Raisa yang bingung dengan tingkah aneh Mou.


"udahlah yang" ucap Ben menggenggam tangan Raisa.


"masih di kantor pak" ucap Raisa mengingatkan. Ben hanya mendengus kesal karena itu.


Sedangkan mata Gemilang masih tertuju pada gadis yang berjalan sangat cepat itu, sebenarnya ia juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, ia seperti ini agar wanita itu mengakui perasaannya dan memintanya untuk berjuang.


"Abang" ucap Mou segera berhamburan kepelukan laki-laki yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Dek" ucap Sam mengusap punggung Mou yang bergetar "ada apa dek?" tanya Sam tak paham.


"peluk Mou sebentar saja bang" lirih Mou terisak di pelukan Sam, ia sudah cukup menahan tangisnya sedari tadi dan sekarang sudah tak terbendung.


Sam memeluk tubuh adiknya "jangan nangis, Abang ada disini, semua akan baik-baik saja" ucap Sam menenangkan meskipun sebenarnya ia tidak tahu alasan Mou menangis.


Tapi mata Sam membulat ketika melihat Gemilang yang berjalan beriringan dengan wanita cantik itu "oh jadi karena dia" ucap Sam mengepalkan tangannya.


Mou mengikuti arah pandangan mata Sam "Eng-enggak bang, bu-bukan dia" ucap Mou khawatir abangnya akan bertindak yang tidak-tidak.


"Biar Abang beri pelajaran, si sialan itu!" Sam menggertakkan giginya karena emosi.


"Abang jangan!".


.


.


.


SELAMAT MALAM MINGGU SEMUANYA.

__ADS_1


LIKE KOMEN AND VOTE YA GAESSS 💋


__ADS_2