Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 136 ~ Kabar baik dan buruk


__ADS_3

Derap suara langkah kaki terdengar begitu nyaring pada lorong rumah sakit. Sepatu pantofel milik laki-laki itu di hentakkan dengan terburu-buru.


Bibirnya terus mengomel sepanjang perjalanan. "Dua laki-laki tubuhnya gede-gede jagain satu wanita aja nggak becus," omelnya dengan terus berjalan.


Ben mengekori langkah kaki panjang itu. Kepalanya benar-benar pusing mendengarkan dumelan laki-laki itu. Otaknya serasa pecah saat manusia posesif ini tahu istrinya habis di tabrak.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Mou gue bakalan pecat anak buah lo ya, Ben!"


Ben menjadi panik sendiri. Ia belum berani memberitahu jika Mou di tabrak bersama Edwin.


Ruangan VVIP adalah tujuan mereka. Beberapa manusia dengan pakaian serba hitam sudah berdiri tegap di depan pintu.


Tatapan tajam langsung Gemilang hunuskan kepada mereka. "Sudah nggak betah kerja lagi!" ucapnya pelan namun begitu menusuk. Menatap mereka satu persatu yang hanya menundukkan kepalanya.


Sebelum akhirnya membuka pintu ruangan di mana Mou di rawat. Hatinya seperti teriris saat melihat wanitanya terbujur lemah di sana. Tubuhnya sudah berbalut pakaian rumah sakit, juga infus di tangannya.


"Sayang.." Membelai pipi Mou dengan lembut, tangannya menggenggam erat tangan istrinya dan tak henti-hentinya memberikan kecupan manis di sana.


"Ben, panggilkan dokter!" perintah Gemilang menoleh pada Ben.


"Ini gue lagi hubungin Sam." Ben terlihat sibuk dengan benda persegi panjang miliknya.


Belum sempat Ben melakukan panggilan, pintu sudah terbuka tiba-tiba dan menampilkan Sam dan sosok wanita berjas putih yang mendekati mereka.


"Tenang saja dia cuma syok kok." Sam tahu betul raut wajah Gemilang.


"Lo yakin?" tanyanya masih tak percaya.


Sam berdehem sejenak kemudian menatap dokter Santi yang berada di sampingnya. "Ada dua kabar sebenarnya. Satunya buruk satunya baik, lo milih yang mana dulu."


Dahi Gemilang mengernyit menatap Sam penuh tanya.


"Jangan emosi dulu, pilih salah satu." Ben menepuk-nepuk pundak sahabatnya.


"Buruk."


"Mou hampir saja tertabrak mobil. Tetapi karena seseorang yang menyelamatkan mereka baik-baik saja," jelas Sam sedikit ragu.


"Siapa?"


"Edwin."


"Apa?" Matanya Gemilang membesar saat nama itu disebutkan. Lalu beralih menatap Ben dengan kesal.


"Lo tahu?"


"I-iya Gem, gue nggak mau lo emosi. Tapi kan yang penting Mou baik-baik saja."


Tangan Gemilang mengepal kuat hingga otot-otot terlihat menyembul di sana.

__ADS_1


"Lo harus berterima kasih kepada Edwin Gem, karena dia menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Gue nggak tahu apa yang akan terjadi jika Edwin nggak nolongin Mou." Sam beralih menatap Mou yang tengah tertidur pulas.


"Maksud lo apa, emang Mou sama siapa?" tanya Gemilang.


"Ini kabar bahagianya. Gue bersyukur karena Edwin menyelamatkan istri sama anak lo. Meskipun sekarang tangan Edwin patah."


Gemilang hanya terfokus pada kata-kata anak. Apakah ia hanya salah mendengar, sebenarnya Sam ngomong apa sih.


"Ben lo urusin Edwin sama gue ayo. Gem, biar dokter Santi yang menjelaskan semuanya, biar lo paham nantinya," ujar Sam menarik tangan Ben. Meninggalkan Gemilang yang masih membeku.


"Jadi Mou hamil?" tanya Ben pelan masih tidak menyangka juga sebenarnya.


.


.


.


"To-tolong dokter katakan sekali lagi?" ucap Gemilang yang tak henti-hentinya menatap sang istri. Ia dan dokter Santi sedang duduk di sofa untuk berbincang kejelasan dari semuanya lebih lanjut.


"Istri dan calon buah hati bapak baik-baik saja. Ibunya hanya syok dan butuh istirahat saja."


Mata tajam itu tiba-tiba saja basah, segera mengusapnya sebelum dokter Santi melihat itu. "Istri saya beneran hamil?" tanyanya lagi, masih saja tidak percaya bahwa Tuhan memberi nya kepercayaan secepat ini.


"Iya, Pak."


Gemilang segera berdiri menghampiri Mou yang ternyata sudah membuka mata.


"Mou kenapa?" tanyanya, namun Gemilang malah memeluknya begitu erat dan menciumi rambutnya.


"Abang kenapa?" Mou mengusap rahang laki-laki itu. Terheran saat mata suaminya memerah seperti habis menangis.


Tangan besar Gemilang menyelipkan rambut Mou yang menutupi pandangannya. "Cantik banget sih," pujinya tersenyum lembut dan lagi-lagi membenamkan pelukan pada Mou.


Mou membalas pelukan itu. "Mou nggak papa kok, Bang." Mengusap punggung tegap suaminya. Pasti Gemilang khawatir dengan dirinya.


Gemilang segera mengecup kening Mou dengan lembut. "Terimakasih sudah baik-baik saja. Aku berjanji lain kali tidak akan membiarkan kalian berdua dalam bahaya dan akan selalu melindungi kalian."


"Sama siapa?" tanya Mou.


"Mouresa istriku tercinta, kita akan segera menjadi orang tua. Karena saat ini kamu sedang mengandung anakku."


Dunia Mou seperti berhenti detik ini. Mengerjap-ngerjapkan matanya bersamaan dengan buliran air mata yang jatuh. Mengusap perutnya yang masih datar. "Benarkah dia sedang hidup disini."


Dokter Santi mendekati pasangan muda itu. "Dari penjelasan dokter Sam, kalian sudah menikah dua minggu lebih ya?"


Mou mengangguk dan mengusap air matanya.


"Kapan terakhir kali menstruasi?"

__ADS_1


Mou tampak berpikir dengan hal itu. "Saya lupa-lupa ingat dok. Kurang lebih dua minggu sebelum menikah sepertinya."


Dokter Santi mengangguk. "Usia kandungannya sekarang sudah satu bulan."


Mou dan Gemilang saling berpandangan dan sedikit terkejut.


"Tenang saja, ada penjelasannya agar nantinya tidak ada kesalahpahaman jika ada orang yang bertanya tentang hal itu. Jadi, usia kehamilan bukan ditentukan dari tanggal terjadinya ****** dan sel telur bertemu, tapi dihitung berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT)."


Gemilang bernapas lega karena itu, genggaman pada tangan Mou tak ia lepaskan sedari tadi.


"Untuk hal-hal yang perlu diperhatikan saat istri mengandung. Nanti akan saya jelaskan dan kasih bukunya. Besok pagi saja, bapak Gemilang silahkan ke ruangan saya."


.


.


.


"Mau makan apa?" tanya Gemilang yang malah bergabung di ranjang Mou. Memeluk istrinya dengan perasaan bahagia.


"Nanti saja," jawab Mou dengan suara seraknya.


"Sayang, jangan nangis terus dong." Mengusap sudut mata Mou yang basah.


"Mou nangis bahagia Abang, masih nggak nyangka aja. Pantesan akhir-akhir ini Mou makannya banyak banget."


Terkekeh geli mendengarkan celoteh istrinya. "Nggak papa dong, kan buat berdua makannya."


"Tapi tengah malam pasti lapar terus."


"Bangunin aku, biar aku yang ambil makan buat kamu."


Mou mengangguk. "Sebenarnya Mou bangun sendirian tanpa sepengetahuan Abang. Kasihan Abang capek."


"Nggak ada kata capek buat kamu sama baby." Mengecup pipi Mou lalu beranjak.


"Mau makan apa, biar aku suruh orang cariin. Aku juga sudah lapar." Senyuman di bibir laki-laki itu tidak luntur sedari tadi. Gemilang terus berbicara dengan lembut pada istrinya.


"Abang, tadi Mou beli bolu pisang sebelum.." ucap Mou terhenti ketika mengingat Edwin tadi menyelamatkan dirinya. Lantas bagaimana keadaan laki-laki itu, ia sampai melupakan hal itu karena terlalu bahagia dengan kabar kehamilannya.


"Oh, mau bolu pisang ya. Siap sayangku," ucap Gemilang mengecup bibir Mou sekilas lalu pergi keluar ruangan untuk menyuruh anak buahnya.


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋

__ADS_1


__ADS_2