Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 135 ~ Kehilangan kesadaran


__ADS_3

"Seenak itu ya?" tanya Gemilang yang menjadi kenyang sendiri saat Mou terus mengunyah dengan lahapnya.


Wanita itu mengangguk, mengusap perutnya yang membuncit setelah piring-piring di hadapannya kosong dengan bekas saus kacang.


"Makasih ya, Abang." Mou menatap suaminya penuh cinta.


"Sama-sama," jawab Gemilang yang masih bersandar pada kursi. Lelahnya karena mengantri untuk membeli gado-gado terbayar lunas saat melihat Mou makan dengan lahap.


"Kok panas ya," ucap Mou yang sudah membuka kulkas. Mengambil satu botol minuman dingin rasa mangga.


"Di luar hujan sayang, masa panas sih." Merengkuh tubuh Mou dari belakang, kepalanya bersandar pada pundak wanita itu. Rasa bersalah kembali membeludak mengingat ia membentak makhluk lemah ini kemarin.


Tangan Mou terulur untuk mengusap rambut tebal Gemilang. "Abang, Mou mau ngomong."


"Ke kamar yuk. Kita bicarakan dengan baik-baik setelah.." ucap Gemilang menggantung pembicaraannya.


"Setelah apa?"


"Setelah melakukan hubungan suami istri." Gemilang berbisik pada telinga Mou yang membuatnya meremang seketika.


"Sekarang?" tanya Mou dengan polosnya, lalu beralih menatap luar jendela yang tengah menampilkan derasnya hujan.


Gemilang sangat gemas dengan istri yang masih saja begitu polos. Mencubit gemas pipi wanita itu. Lalu menghimpitnya hingga membentur tembok. "Kenapa, kan jarang-jarang sore bisa."


Mengangguk dengan malu, karena memang biasanya mereka lebih sering melakukannya di pagi hari atau malam.


Mendekatkan bibirnya pada bibir tipis milik Mou yang begitu menggoda untuk di gigit. Memejamkan matanya saat benda kenyal itu sudah dapat ia rasakan kelembutannya.


Brak!


Dua manusia itu reflek menjauh dan menoleh ke sumber suara.


"Papii!" ucap Gemilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat Elang memunguti botol minum yang tengah terjatuh.


"Anggap saja papii nggak tau," terkekeh geli dan segera pergi darisana.


"Abang sih, kan malu." Mou menutupi wajahnya yang memerah karena itu.


"Kok aku?"


Orang kamu juga nggak nolak.


.


.


.


Tangan Gemilang tidak henti-hentinya mengusap rambut Mou yang tengah menyandarkan kepalanya pada pundak kokoh miliknya.


Kecupan-kecupan kecil ia berikan pada kening istrinya. Masih bergelung dalam selimut yang hangat, enggan untuk beranjak saat mendapatkan kenyamanannya.


"Sayang, maafin aku ya."


Mendengar hal itu mata Mou yang tengah terpejam, terbuka seketika. Mendongak menatap netra tajam milik suaminya.

__ADS_1


"Maaf kenapa?"


"Karena kemarin sudah emosi dan bentak-bentak kamu. Aku harusnya dengerin penjelasan kamu dulu."


"Mou yang salah Abang, seharusnya Mou memang ngomong lebih awal. Tapi karena Mou tahu Abang pasti nggak ijinkan, jadi Mou sudah mengubur keinginan itu." Berucap dengan seulas senyuman pada bibirnya.


"Aku mengijinkan mu jika kamu memang benar-benar ingin bermain film." Mengusap wajah cantik Mou yang malah mematung.


"Abang.." lirih Mou terharu.


"Syarat dan ketentuan berlaku ya," ucapnya terkekeh sembari mencubit hidung Mou.


"Abang tidak perlu memaksakan hal itu. Mou baik-baik saja kok tanpa harus bergelut dengan dunia hiburan." Menyatukan jemarinya dengan Gemilang agar menjadi satu.


"Aku serius Mouresa. Aku tidak ingin nantinya kamu bosan jika aku terus mengekang dan mengurungmu di rumah terus." Sorot mata Gemilang menunjukkan ketakutan mendalam tentang sebuah kehilangan.


Tiba-tiba Mou memeluknya dengan erat. Menyembunyikan isak tangisnya pada dada telanjang Gemilang. "Mou nggak akan kemana-mana."


"Kalau kamu mau, ajak aku jika akan bertandatangan kontrak. Agar aku bisa mengajukan persyaratan sebelum kamu membintangi film itu."


Kejar mimpimu tanpa melepas tanganku.


.


.


.


Laki-laki bertubuh tegap itu menuruni tangga sembari melilitkan dasi pada lehernya. Tujuannya adalah meja makan yang sudah di huni oleh kedua orangtuanya.


"Masih tidur," jawab Gemilang santai sebelum menghempaskan tubuhnya pada kursi.


"Mou akhir-akhir ini kok bangun siang terus sih," ucap Mila sedikit kesal. Seharusnya ia kan menyiapkan keperluan Gemilang.


"Mam, udah," sahut Elang yang tahu betul bagaimana istrinya. "Nanti kalau Mou nggak mau tinggal sama kita baru tahu rasa."


"Dia capek, Mam. Gemilang nggak tega bangunin dia. Lagian Mou sudah siapin pagi-pagi sekali tadi semua keperluanku."


"Ya udah deh."


"Mamii lebih baik kalau mau komplain mengenai Mou, ke Gemilang langsung saja. Dia terlalu sensitif jika Mamii salah bicara, juga Mou adalah type orang yang pemikir." Meneguk segelas susu putih di atas meja.


Berdecak malas dan menggelengkan kepalanya. "Bucin kamu udah akut deh Gem kayaknya," ucap Mila.


"Nggak papa kan sudah suami istri." Tampak cuek dengan perkataan sang Mamii.


"Gem, kamu udah ajak Mou ke dokter kandungan belum? katanya mau program," ucap Elang menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Minggu depan mungkin, kalau libur agak lama. Sekalian tanya dokternya kalau kondisi Mou terlalu sulit untuk mengandung, lebih baik ke luar negeri langsung."


"Papii pengen cepat-cepat gendong cucu." Elang berkata dengan bersemangat. Tidak sabar menantikan makhluk mungil yang nantinya akan meramaikan seisi rumah.


"Padahal Mamii mau kasih obat herbal dulu, tapi sama kamu nggak boleh ya udah deh," ucap Mila kesal.


"Jangan Mam, Mou selalu sedih dan murung jika membahas tentang anak." Gemilang sebenarnya masih santai untuk hal itu. Hanya saja orangtuanya sudah begitu menginginkan keturunan darinya.

__ADS_1


.


.


.


"Bolu pisang kukusnya atas nama Resa Moon." Seorang wanita mengenakan celemek itu memandang sekitar sampai wanita cantik itu berdiri saat merasa namanya di panggil.


"Makasih ya mbak," ucap Mou meraih paper bag yang berisi kue itu.


"Sama-sama," jawabnya sopan. Matanya tak berkedip tatkala memandangi model terkenal ini.


Mou segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari toko roti itu. Selain membeli untuk dirinya sendiri ia juga memberikan untuk para karyawannya.


Senang sekali ternyata di depan Moon Beauty House ada toko kue seperti ini. Dan sepertinya ia akan sering mengunjungi tempat ini.


Dengan langkah yang berbunga ia menghentikan langkahnya dan bersiap untuk menyebrang.


"Mou!" Satu panggilan yang membuat Mou membeku. Tidak berani menatap sumber suara yang begitu ia kenali.


"Resa Moon," panggilnya lagi.


Memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya menoleh pada laki-laki itu.


"Ka- kak Edwin?"


"How are you?"


Mou menatap laki-laki itu dengan wajah paniknya. Melihat sekitar yang hanya menampilkan kendaraan yang berlalu lalang.


"Kakak ngapain disini."


"Aku mau ngomong sebentar sama kamu. Ikut aku ke kafe sebelah sebentar saja," ucap Edwin penuh permohonan.


Mou menggeleng cepat. "Maaf sekarang Mou sudah memiliki suami dan harus meminta ijin dulu padanya jika bertemu laki-laki. Tetapi menurut Mou sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Menunduk tanpa berani menatap Edwin.


"Mou, aku mohon sekali ini saja." Mengatupkan tangannya di depan dada.


Selain takut dengan laki-laki ini, Mou juga takut dengan marahnya Gemilang. Jadi lebih baik ia pergi saja.


"Maaf kak, Mou harus pergi." Melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa melihat mobil yang tengah melaju kearahnya.


"Mou!" teriak Edwin berlari cepat menarik tubuh Mou saat mobil sudah semakin dekat.


Membiarkan tubuh tegapnya untuk melindungi Mou. Terjatuh dengan keras membentur aspal tapi untung saja Mou berada di atasnya. Tangan Edwin seperti mati rasa, tapi tidak ada yang lebih ia khawatirkan kecuali punggung Mou yang untungnya membentur dadanya.


"Mou.." panggil Edwin merintih kesakitan.


"Mou!" panggilnya lagi saat tidak ada sahutan. Dan wanita itu memejamkan mata saat kehilangan kesadarannya.


.


.


.

__ADS_1


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2