Gemilang Ku

Gemilang Ku
92 ~ Miss but missing


__ADS_3

Gelapnya malam mulai menyelimuti seisi bumi, bintang-bintang sedang berlarian di atas sana. Hembusan angin masuk melalui jendela kamar Mou yang sedari tadi ia biarkan terbuka.


Masih termenung menatap satu buket bunga mawar yang berada dihadapannya. Tangannya tergerak untuk mengambil bunga mawar merah itu.


Aroma wangi dari seseorang yang sangat ia rindukan, tidak salah lagi, Mou hafal betul parfum laki-laki itu. Tapi mengapa hanya untaian bunga saja yang datang, mungkin memang dirinya terlalu naif karena mengharap Gemilang akan datang tadi.


Mou menghirup dalam-dalam aroma bunga itu, memeluknya begitu erat.


I really miss you, but I missing you.


.


.


.


"Ada apa?" tanya Gemilang menatap malas pada Ben yang menganggu jam istirahat nya siang ini. Biasanya Gemilang akan menghabiskan waktunya untuk tidur sejenak saat istirahat.


Ben tampak ragu untuk mengatakannya ketika melihat Gemilang yang sudah berbaring disofa.


Tapi ia hanya ingin Gemilang bangkit dan tidak lemah begini.


"Ada laporan dari bandara," Ben segera duduk dihadapan Gemilang.


"Apa?" ucap Gemilang acuh sembari memejamkan matanya.


"Mou melakukan penerbangan ke Jakarta pagi tadi." Gemilang membuka matanya seketika, namun tidak membuatnya beranjak.


"Kenapa lo bilang ke gue!" masih mempertahankan sikap acuhnya.


"Kan lo yang minta pihak bandara memeriksa hal itu dua bulan lalu." Rasanya ingin sekali melemparkan bantal pada Gemilang yang menyebalkan.


"Sekarang bukan urusan gue, suruh pihak bandara berhenti melaporkan hal yang nggak berguna itu." Gemilang mengerakkan tubuhnya untuk membelakangi Ben.


"Terserah, yang penting gue udah kasih tau." Ben yang kesal segera melangkahkan kakinya meninggalkan laki-laki galak itu.


Rasa kantuk Gemilang hilang seketika, matanya terbuka sempurna. Pikirannya masih menerka-nerka mengapa Mou ke Jakarta?


.


.


.


Sedangkan Mou sudah tiba di Jakarta dua jam yang lalu, saat ini ia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Masih memandang kosong pada luar jendela mobil, siang ini rintikan hujan mengguyur wilayah kota Jakarta.


"Sudah sampai, nona." Pak Ji menyadarkan Mou dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh, iya. Terimakasih pak Ji, bapak boleh pulang biar nanti Mou pulang sama bang Sam saja."


Mou segera membuka pintu mobil, karena selama ini ia sudah berpesan pada pak Ji, bahwa selama ia masih sehat ia tidak ingin merepotkan pak Ji, dan terlalu tidak sopan jika pak Ji membukakan pintu untuknya.


Mou segera melangkahkan kakinya menuju lantai atas dirumah sakit ini. Tujuannya adalah ruangan dimana Ibel dirawat.


Tangan lentik Mou tampak ragu ketika mengetuk pintu yang setengah terbuka itu, terlihat Ibel sedang terlelap sendirian.


"Masuk aja," ucap Juna yang tiba-tiba berada di balik pintu.


"Eh, iya Jun." Mou segera menghampiri sahabatnya yang terbaring lemah pada ranjang rumah sakit.


Ibel tak sesegar biasanya, wajahnya pucat tubuhnya juga menjadi lebih kurus. Mou menggenggam tangan Ibel yang dingin itu, segera menepis air matanya ketika Ibel tergerak.


"Mou," lirih Ibel tersenyum melihat sahabat.


"Iya," jawab Mou mengangguk dan membalas senyuman itu.


"Sakit," lirih Ibel yang membuat Mou menjadi sesak.


"Sabar ya, kamu pasti bisa, kamu pasti sembuh bel." Ibel tersenyum kecut karena itu.


"Aku tidak yakin,"


"Bel, enggak boleh gitu." Mou segera meraih semangkuk bubur yang berada di atas nakas. "Makan dulu ya, biar cepat keluar dari sini. Aku benci bau rumah sakit." Mou terkekeh pelan untuk menghibur sahabatnya.


"Kamu mau ke London?" tanya Ibel sembari menerima suapan dari Mou.


"Iya, kan aku sudah bilang aku ingin mewujudkan sesuatu dulu disana."


"Bukan karena aku kan?" tanya Ibel, Mou menghentikan pergerakannya seketika.


"Bukan bel," jawabnya dengan senyuman lalu menggeleng.


"Maaf ya Mou," Mou menyentuh tangan Ibel agar tidak membicarakan hal itu. Hal yang begitu menyakitkan untuk mereka berdua.


Hampir seharian ini Mou menjaga Ibel dan memastikan Ibel meminum obatnya, hingga ia tak sadar kini sudah pukul tujuh malam. Bahkan saat ini ia ketiduran di sofa, matanya mengerjap ketika Ibel memanggil-manggil namanya.


"Pulang Mou, sudah malam." Bukan mengusir, Ibel tahu betul sahabatnya itu sangat tidak tahan dengan rumah sakit. Ia takut Mou sakit jika memaksakan untuk menginap.


Mou mengangguk, segera mencuci muka ke kamar mandi.


Namun saat Mou keluar dari kamar mandi sudah ada seseorang yang berada disana. "Ben," sapa Mou.


"Hy, Mou long time no see." Ben menampilkan gigi-gigi putihnya.


"Mou kamu biar diantar Ben saja ya," ucap Ibel.

__ADS_1


"Ngusir lo," ucap Ben mendengus kesal.


"Alah biasanya lo juga cuma semenit disini." Sakit bukan alasan untuk membuat mereka berhenti bertengkar, bahkan Ben selalu menyempatkan waktu untuk melihat Ibel sepulang kerja sejenak. Hanya untuk bertengkar sekaligus memberi hiburan pada Ibel.


.


.


.


"Kok kesini," ucap Mou yang baru sadar bahwa mobil Ben berhenti di Sky Forrest Residence.


"Kamu harus tahu sesuatu," ucap Ben yang membuat Mou menggeleng.


"Sebentar saja," Ben segera keluar dari mobil. Namun Mou tidak bergerak dari tempatnya, rasanya ia masih belum siap untuk membuka kembali kenangan yang dulu terlukis indah di gedung apartemen ini.


"Ayo Mou," Ben membukakan pintu untuk Mou, dan Mou hanya bisa pasrah ketika raut muka Ben tidak bersahabat.


Benar dugaan Mou, tujuannya adalah kamar Gemilang yang berada dilantai paling atas. Ben segera membuka pintu itu dengan Card lock, didalam sana masih gelap ketika pintu berhasil dibuka.


Ben segera mengajak Mou untuk masuk, namun mata Mou membelalak sempurna ketika melihat sosok yang tengah berbaring di sofa dengan botol alkohol yang tercecer di atas meja.


"Sudah dua bulan ini dia jadi makhluk yang nggak berguna," ucap Ben bersuara. "Sejak udahan sama lo, gue nggak tahu lagi harus gimana-"


Mou segera menghampiri Gemilang tanpa mendengar perkataan Ben. Berlutut lalu mengusap lembut rambut Gemilang.


"Abang," panggilnya dengan lembut.


"Maafin Mou,"


Gemilang mengerjapkan matanya, masih berusaha membuka matanya. Mungkin ini hanya mimpi, ketika berada sentuhan hangat Mou dan juga aroma memabukkannya dari wanita itu.


"Kalian masih saling cinta, kenapa nggak ada yang mau ngalah sih." Ben kesal sendiri melihatnya, melangkahkan kakinya menuju dapur.


Gemilang tiba-tiba menarik tubuh Mou, hingga Mou menindih tubuhnya. "A-abang" Mou begitu gugup dengan posisi seperti ini.


Bukannya melepaskan Gemilang malah mempererat pelukannya, "aku lelah Mou."


Aku lelah berpura-pura tidak peduli denganmu, aku lelah ketika harus berjauhan denganmu, dan aku lelah saat hari-hari ku tidak melihatmu..


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋

__ADS_1


__ADS_2