
"Aku akan memaafkan mu jika kamu mau melanjutkan S2 di Indonesia saja." Gemilang tetap dingin, mencoba untuk tidak goyah ketika melihat Mou menangis begitu pilu seperti itu.
"Tapi jika tidak mau, memang lebih baik kita berpisah saja. Kamu memang meraih mimpi mu Mou, tapi kamu juga menghancurkan mimpiku."
Mou mengusap air matanya meskipun terus terisak. Tidak mampu menjawab apapun karena ia sadar ia bersalah.
Gemilang menyunggar rambutnya begitu frustasi. Pantas saja Roman selalu membahas tentang kuliah, dan mimpi Mou akhir-akhir ini. Secara tidak langsung Roman memberi penjelasan pada Gemilang. Tapi tidak pernah terbayangkan Mou akan memilih melanjutkan S2 nya di London.
"Abang, Mou ingin kuliah di London karena--"
"Simpan alasanmu, aku sedang tidak membutuhkannya. Apapun alasan mu Mou, kamu tahu ini begitu menyakitkan untukku."
Mou mengangguk paham, ia tahu bahwa dirinya sangat bersalah dan memang patut disalahkan atas semua ini.
Mou menarik nafasnya dalam-dalam. "Maaf, maafkan sikap Mou yang begitu menyakiti hati Abang. Mou begitu sadar dan paham begitu kekanak-kanakan nya Mou selama ini. Maka dari itu, Mou ingin mencari pengalaman dulu. Agar nantinya Abang tidak merasakan seperti ini lagi. Mou ingin memperbaiki sikap Mou dulu." Susah payah Mou mengatakan hal itu dengan suara tercekat.
"Ayo pulang biar ku antar," ucap Gemilang dingin, ia berdiri dan melangkah kakinya. Meskipun ia sedang kecewa tapi ia akan tetap memastikan Mou aman sampai rumah.
Mou mengikuti langkah kaki Gemilang dengan isakan kecil yang mengiringi langkahnya. Terus memandangi punggung laki-laki itu yang sudah berjalan terlebih dahulu, biasanya Gemilang selalu menggenggam tangannya. Tapi kali ini ia benar-benar sendiri.
Gemilang terdiam ketika sudah sampai di gerbang depan rumah Mou. Menunggu wanita yang sejak tadi terus menangis dibalik punggungnya.
Gemilang berusaha menghindari tatapan mata sembab Mou. Agar ia kuat untuk tidak merengkuh tubuh lemah itu.
"Masuk." Satu kata yang tidak bisa Mou bantah lagi, Mou sangat takut jika Gemilang seperti ini.
__ADS_1
Kemana Gemilang ku yang selalu lembut kepada ku, kenapa Gemilang ku berubah menjadi monster menyeramkan seperti ini ketika sedang marah.
"Biar barang-barang ku diambil orang suruhanku, besok." Masih tidak mau menatap mata Mou.
"Masuklah!"
Mou mengangguk, menatap mata tajam yang terus mengalihkan pandangannya. "Maaf sudah mengecewakan Abang. Jaga diri Abang baik-baik ya." Mou terus menepis buliran bening yang terjatuh. Lalu melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
Gemilang menunggu Mou sampai menutup pintu rumah, baru ia pergi dari sana dengan langkah gontai nya.
Sedangkan Mou menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya pada pintu kayu itu. Mou benar-benar lemas dan terduduk di lantai, membenamkan wajahnya pada kedua lututnya.
"Dek, kamu kenapa?" Sam yang baru saja menuruni tangga mempercepat langkahnya untuk menghampirinya Mou yang terlihat begitu mengenaskan.
Berjongkok, mengusap lembut rambut Mou, "Gemilang apain kamu!" Suara Sam menggelegar memenuhi seisi rumah.
Sam paham apa yang dimaksud Mou, segera memeluk adiknya yang begitu menyedihkan. "Dia cuma butuh waktu," ucap Sam menenangkan.
"Tapi Abang marah sama Mou, dia kecewa sama Mou." Sam terus memberikan ketenangan untuk adiknya, untuk urusan seperti ini ia memang tidak mau ikut campur lebih jauh lagi, karena Mou juga sudah dewasa. Tapi jika Mou menangis seperti ini ia benar-benar merasakan dunianya hancur. Saat ini, bagi Sam kebahagiaan Mou adalah nomor satu, terlalu banyak air mata yang sudah Mou keluarkan selama ini.
.
.
.
__ADS_1
Gemilang berjalan sendirian, tanpa tahu arah. Pandangannya kosong, seperti pikirannya saat ini. Menendang botol bekas yang berada di pinggir jalan.
"Shit!" umpatnya menjambak rambutnya sendiri begitu frustasi.
Harapan-harapan yang sudah ia bangun, hancur lebur malam ini. Dia benar-benar sudah mencintai Mou lebih dari apapun, dan berharap wanita itu menjadi miliknya secepatnya.
"Woy, berhenti lo sialan!" umpat seorang preman yang kepalanya terkena botol bekas itu.
Laki-laki itu menghampiri Gemilang disusul dengan teman-temannya yang lebih dari lima orang.
"Apa?! , gue lagi males berantem," geram Gemilang.
"Bocah kurang ajar!" preman itu melemparkan tonjokan pada wajah Gemilang, namun Gemilang segera menepisnya.
Gemilang membabi-buta baku hantam dengan preman-preman itu. Bahkan kini wajah tampannya dipenuhi dengan lebam kebiruan. Terus hajar menghajar sebelum seseorang membantu Gemilang menghajar preman-preman itu yang beraninya main keroyokan.
"Lo biasanya nggak selemah ini," cibir Sam dengan nada khas kesombongannya. Segera melayangkan bogem nya pada salah satu preman disana.
"Hati gue lagi patah."
.
.
.
__ADS_1
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋
NGGAK TAU KENAPA BERHARAP BANGET PARA READERS NANGIS 😂