
Ditanyai seperti itu membuat Mou bingung harus menjawab apa.
Mungkin nyaman?
iya. . . mungkin
Bersama dengan Gemilang ia merasa terlindungi dan aman, Mou sangat suka cara Gemilang memperlakukan dirinya, apakah ini yang dinamakan kenyamanan?
Wanita bodoh macam apa yang tak nyaman ketika diperlakukan sedemikian rupa oleh laki-laki yang tidak hanya tampan, hatinya juga baik, ia tahu betul bagaimana cara memperlakukan dan menghargai seorang wanita.
Namun berbeda lagi ketika Mou bersama dengan Bara, bersama laki-laki itu Mou memang nyaman tapi harus berhati-hati, jika sampai Mou membuatnya marah, Mou akan benar-benar dipukul.
Tapi dengan bodohnya Mou mempertahankan hubungan itu sampai empat tahun, empat tahun seperti penyiksaan lahir dan batin untuk nya.
dan kini Mou bisa merasakan apa arti kebebasan itu.
Jadi kembali lagi pada laki-laki yang kini tengah menatapnya menunggu jawaban, bahkan ia sampai memberhentikan mobilnya di pinggir jalan hanya untuk menunggu jawabannya.
Mou menatap mata tajam itu, pandangannya bertemu "aku nyaman karena bersama kamu aku aman" jawab Mou menipiskan bibirnya.
Mendengus kesal, lalu menyandarkan tubuhnya pada jok mobil "maksud aku itu bukan kenyamanan yang seperti itu, aku nggak mau ya kamu samain kaya bodyguard kamu" ucapnya kesal.
Mou tersenyum karena itu "jadi kenyamanan seperti apa?" tanya Mou dengan jahil menusuk-nusuk pipi Gemilang dengan telunjuknya.
Gemilang menangkap pergelangan tangan Mou "nyaman ketika aku melakukan hal ini" ucap Gemilang lalu mendekat dan mengecup kening Mou begitu lama.
Mou masih mematung karena merasakan kecupan yang manis ini, hembusan nafas Gemilang masih terasa panas di dahinya "Gemm" lirihnya menatap Gemilang.
"aku serius sama kamu Mouresa" ucap Gemilang dengan serius.
"ayo pulang" ucap Mou lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Gemilang terus menatap Mou yang sepertinya menangis, ia mengusap lembut rambut panjangnya "jangan di jawab sekarang kalo kamu belum siap" ucap Gemilang dengan lembut.
Mou mengangguk sembari mengusap air matanya yang menetes begitu saja, mengingat betapa bersama dengan Gemilang adalah ketidakmungkinan yang sebenarnya harus ia hindari.
Tapi mengapa ia terus bersamanya.
Mengapa takdir selalu mempertemukan dengannya, seharusnya takdir tahu bahwa Mou tidak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri dan mengkhianati Papa nya.
"aku nggak maksa Mou" ucap Gemilang lagi.
"maaf Gem" hanya itu kata yang mampu ia sampaikan untuk mewakili semua rasa bersalahnya.
"jangan meminta maaf, ayo pulang sekarang ya" ucap Gemilang kembali mengusap punggung Mou.
Gemilang melajukan mobilnya, sebenarnya masih tak paham dengan Mou yang menangis hanya karena ditanyai seperti itu.
Apakah ia masih trauma pada laki-laki?
Mengingat Mou yang batal menikah beberapa bulan lalu, oh ya bahkan dia sampai mau bunuh diri hanya karena Bara sialan.
Setelah sampai di Munaj Hotel's, Gemilang membukakan pintu untuk Mou.
"thanks Gem" ucap Mou yang mencoba tersenyum.
Gemilang mengangguk, Mou hendak melangkahkan kakinya untuk memasuki hotel.
Namun secepat kilat Gemilang menarik tangannya dan membawanya dalam dekapannya, merengkuhnya begitu erat.
__ADS_1
"aku nggak suka lihat kamu nangis" ucap Gemilang mencium rambut wangi Mou "kalo ada apa-apa itu cerita , jangan kamu pendam sendiri terus nangis kayak gini" lanjutnya.
Mou mengangguk lemah, lalu melepaskan pelukannya "mungkin karena lagi pms aja jadi lebih sensitif dan pengen nangis" candanya.
"nggak usah alesan" ucap Gemilang mengacak-acak rambut Mou.
"Gemmm!"
"aku anter keatas ya" ucap Gemilang dengan senyumnya.
"nggak usah , kamu cepet pulang gih, istirahat" ucap Mou.
"yaudah aku tunggu kamu masuk dulu" ucap Gemilang yang membuat Mou mengangguk.
"hati-hati Gem" ucap Mou melambaikan tangannya.
"iya my moon" lirih Gemilang saat Mou sudah hampir jauh.
Gemilang terus menunggu hingga sosok itu tak terlihat lagi, menatap gedung paling atas hingga lampu nya menyala menandakan gadis itu sudah sampai disana dengan aman.
"Gem kamu ngapain disini?" ucap seorang yang membuat Gemilang menoleh.
"bang Roman" ucap Gemilang ketika melihat sosok itu yang mengangetkan nya.
"kamu ngapain ngelihat keatas terus, nanti leher kamu pegel baru tahu rasa hahaha" canda Roman menepuk-nepuk bahu Gemilang.
"ada deh bang" jawab Gemilang mengusap tengkuknya "Abang sendiri ngapain disini?"
"mau ketemu sama adek Abang, ayo mau sekalian Abang kenalin" ucap Roman begitu serius.
"Eh, nggak usah bang" ucap Gemilang yang akan mengerti akan jalan pikiran Roman, pasti ia berniat akan menjodohkan ia dan adiknya.
"lain kali aja ya bang" ucap Gemilang menepuk pundak Roman lalu pamit.
.
.
.
Gemilang menyesap kopi panasnya, memandang ikan-ikan dihadapannya, iya. . . setelah ia membersihkan diri, ia memilih untuk bersantai halaman belakang rumah nya, yang terdapat kolam ikan kecil disana.
ia bergelut dengan pikirannya sendiri, baru kali ini sampai memikirkan wanita dengan segila ini.
"Gem" ucap Elang yang membuat Gemilang menoleh.
Elang mendekati Gemilang sembari membawa secangkir kopi nya, ia duduk di samping Gemilang.
"Papii belum tidur?" tanya Gemilang.
"belum bisa" ucapnya lalu ikut memandang ikan-ikan itu.
"Gimana, dengan gadis incaranmu?" tanya Elang menoleh.
Gemilang menghela nafasnya "sepertinya dia belum mau untuk aku jadikan milikku Pap".
Elang tersenyum kecil "perjuangan mu belum seberapa Gem, masak mau nyerah gitu aja , wanita memang kadang susah dimengerti dan dipahami, tapi tidak sesulit itu asal kamu membuktikannya dan membuatnya benar-benar jatuh".
Gemilang menatap serius pada Papii nya.
__ADS_1
"sekeras-kerasnya hati perempuan, akan luluh juga jika kamu tidak kekeh untuk mendapatkan nya" ucap Elang kemudian menyesap kopinya.
"aku benar-benar menginginkan nya untuk menjadi istri ku Pap, dia sama seperti Mamii, cuma bedanya dia versi lembutnya" ucap Gemilang terkekeh.
"Mamii mu juga lembut kok Gem" ucap Elang ikut tertawa "apa yang membuat mu yakin dia memiliki kesamaan dengan Mamii mu?" tanya Elang lagi.
"dia penuh perhatian, dan hatinya juga baik, masakan nya enak dan orangnya juga cantik, kadang bawel juga sih hahaha" ucap Gemilang mengingat hal itu.
Elang mengangguk "dekati dulu keluarganya, setelah itu Papii yakin dia akan luluh".
Mendengar hal itu membuat Gemilang menelan ludahnya kasar, Papa Mou saja sangat membencinya, bagaimana mendekati manusia tua yang galak itu.
"kenapa?" tanya Elang saat Gemilang terdiam.
"Ehm, kayaknya Papa nya gak suka sama aku Pap".
Elang terkekeh mendengarnya "memang ada yang bisa menolak seorang Gemilang Galaxio Kusuma, bilang saja warisan mu banyak hahahah".
"aku belum mencobanya Pap" ucap Gemilang ikut tertawa.
"tidak ada yang boleh meremehkan mu Gem, you have anything , kamu ganteng, kaya, pintar , dan dewasa, Papii sangat tidak rela jika ada orang yang berani menolak mu" ucap Elang panjang lebar.
"beliau belum mengenal ku lebih jauh Pap, rencananya jika anaknya sudah bisa aku taklukkan, aku baru akan menemui Papa nya" jelas Gemilang.
Elang mengangguk "perjuangan mu masih panjang, tapi anggap saja dengan mengatakan kamu adalah ahli waris satu-satunya dari Elang Group dan memiliki setengah saham dari Mawardi Utama , itu akan mempermudah jalanmu Gem" ucap Elang kemudian berdiri.
"Papii nyuruh aku buat sombong" ucap Gemilang terkekeh.
"rugi jadi anak sultan kalo nggak sombong" ucap Elang lalu pergi darisana dengan bibir yang terus melengkung.
Gemilang ikut tertawa renyah karena itu. . .
.
.
.
Mau sesempurna apapun diriku, bisa apa aku jika hatiku telah memilih mu....
Mau sesempurna apapun diriku, percuma rasanya jika menaklukkan hati mu saja tidak bisa....
dan mau sesempurna apapun aku, rasanya tidak ada gunanya tanpa kamu yang melengkapinya...
just you🖤
Secercah harapan dari laki-laki biasa-biasa saja (Gemilang Galaxio Kusuma)
.
.
.
WKWK BANG GEM GANTENG MAKSIMAL YA KALO DANDANAN NYA KEK GINI.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1