
"Dia sakit apa?" tanya Gemilang tak santai sembari menatap tajam pada Sam.
Ia sedang bertamu dirumah Roman, namun tak sengaja mendengarkan pembicaraan Mou dan Sam melalui telepon panjang lebar. Intinya Gemilang sudah tahu semuanya.
Sam menelan ludahnya kasar ketika Gemilang tiba-tiba muncul dibalik dinding dapur itu.
"Sejak kapan Lo disitu" ucap Sam yang entah mengapa menjadi begitu gugup.
"Apa itu masih penting sekarang?" mencengkeram kerah Sam dengan emosi yang membeludak. Kecewa dibohongi oleh wanita yang benar-benar ia cintai.
Ya, ia mendengar semuanya mendengar Mou sedang sakit dan Sam juga menasehati nya untuk tidak terlalu memikirkan masalah Ibel.
Ia bukan laki-laki bodoh yang tak paham akan hal itu, memang Mou sudah lama tak bercerita tentang Ibel, ia kira masalah nya sudah selesai.
Tapi apa ini?
Kecewa bertubi-tubi pada wanita yang berani-beraninya membohongi dirinya tentang skripsi yang dipercepat atau apalah.
Bulshit!
Tatapan tajam dan menghunus membuat Sam tak berkutik. Sudah paham betul dengan sikap keras Gemilang yang tidak akan menyerah pada semuanya.
"Oke-oke, lepasin dulu" Sam menghempaskan tangan laki-laki itu.
"Gue bener-bener akan habisin Lo malem ini kalo masih mau menyembunyikan semuanya" Mata Gemilang memerah dadanya naik turun tak beraturan.
Sam berdecak malas, selalu seperti itu "Sebenarnya....".
.
.
.
"Siapkan penerbangan ke Bali malam ini juga" ucap Gemilang kemudian mematikan panggilannya.
Ia menatap rumah sederhana dihadapannya, emosinya semakin menggebu-gebu ketika mengingat cerita Sam tentang semuanya.
Turun dari mobil, lalu mengetuk pintu kayu itu.
Menunggu beberapa saat sebelum akhirnya pintu itu terbuka menampilkan sosok wanita yang begitu pucat dengan jaket tebalnya.
__ADS_1
"Ge-gemilang" ucap Ibel tak percaya laki-laki itu berada disana.
"Gue mau ngomong" tatapan dingin yang mencekam itu membuat tubuh Ibel membeku seketika.
"masuk".
"Nggak usah, disini saja" ucap Gemilang menuju sofa yang terletak di teras.
"Gue mau to the points bel, nggak mau muluk-muluk".
Ibel segera menyusul Gemilang untuk duduk.
"Ada apa?" tanya nya meremas lututnya yang terasa lemas.
"Apa maksud Lo nyuruh Mou buat jauhin gue" suara Gemilang terdengar santai namun begitu menusuk.
Ibel membuang pandangannya tanpa berani menatap manik tajam itu "A-aku nggak bermaksud seperti i-tu" ucap Ibel dengan gelisah.
"Karena Lo suka sama gue" ucap Gemilang sedikit menekankan kalimat nya, seringai kecil dengan tatapan mengejek.
Ibel menghela nafasnya "iya" jawabnya dengan lantang. Sudah cukup ia memendam perasaan ini bertahun-tahun lamanya, dan akan menyakiti dirinya sendiri.
"Tapi gue nggak suka sama Lo, sedikitpun nggak pernah ngelirik Lo dan asal Lo tahu bel gue selalu jaga jarak sama Lo karena gue udah tahu hal itu".
Inilah Gemilang dengan sikap kerasnya dibalik kelembutan itu.
"kenapa Gem?" lirih Ibel yang sudah berhamburan air mata.
"Kenapa Lo nggak pernah ngelirik gue sedikitpun. Apa karena gue nggak cantik" begitu sesak ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya "Apa karena gue nggak kaya".
"Lo dengerin gue baik-baik bel" ucap Gemilang dengan serius.
"Mau ada Mou atau nggak dalam kehidupan gue, yang jelas Lo nggak akan pernah dapetin hati gue. Ditambah sekarang ada Mou yang hatinya bak malaikat, rela mengalah demi sahabatnya yang sakit-sakitan" ada helaan nafas panjang sebelum Gemilang memulai kalimat selanjutnya.
"sebaik itu hati dia bel" Gemilang menyandarkan tubuhnya pada sofa lalu tersenyum kecil.
"Dan Terimakasih berkat Lo, gue bener-bener ngerasa dia adalah calon istri yang baik. Gue semakin yakin sama dia hahaha. . . Rasanya gue bener-bener akan jadi laki-laki yang beruntung dapetin wanita sebaik Mou" ucap Gemilang penuh sindiran.
"Gue kesini cuma mau bilang aja, kalau gue nggak goyah. Dan lo seharusnya perlu banyak belajar lagi dari Mou, kalau mau dicintai oleh seseorang" ucap Gemilang beranjak berdiri.
"Oh ya, satu lagi. Sakit bukan alasan untuk menjadi egois, gue bakal nyuruh Ben anterin Lo ke dokter besok".
__ADS_1
Gemilang pergi meninggalkan wanita itu yang tengah terisak. Soal Gemilang dia memang lemah, tak mampu menjawab apapun yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Ucapan memang selalu tajam dan apa adanya, itulah Gemilang. Berkali-kali ia sudah menyiapkan untuk sakit hatinya ini, namun tetap saja rasanya begitu menyayat.
Ditambah lagi, cincin pada jari manis laki-laki itu yang membuat tubuhnya lemas.
Apa Mou hanya berpura-pura saja melepaskan laki-laki itu.
.....
Gemilang mencengkeram erat stir mobil nya, sejujurnya ia hanya berpura-pura bahwa ia senang melihat sikap Mou yang mengalah.
Ia hanya ingin Ibel tahu dan paham bahwa sikap Mou yang begitu baik dan patut dicintai. Tapi nyatanya tidak seperti itu, ia kecewa dengan sikap wanita itu yang berbohong kepadanya.
Dan malam ini juga ia akan meminta penjelasan padanya.
.
.
.
Gemilang mengambil buku yang terjatuh dilantai, dan menyerahkan nya pada genggaman wanita yang masih mematung itu.
"Kenapa harus kaget?" ucap Gemilang begitu dingin.
Mou menelan ludahnya kasar ketika melihat seseorang didepannya ini adalah nyata, bukan ilusinya saja.
"Ka-kamu ngapain disini?".
"Loh kamu sudah pulang Mou" ucap Toro yang tiba-tiba berada dibalik punggung Gemilang.
"Masuk dulu Gem kalau begitu, nggak perlu dicari lagi" Toro terkekeh, namun dahinya langsung mengernyit ketika melihat wajah suram dari keduanya.
"Nggak usah Pak, kita mau ngobrol diluar saja cari udara segar" ucap Gemilang yang tak mengalihkan pandangannya pada wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
GASSSSS TEROSSSS , TAPI SUDAH CUKUP SAMPAI SINI SAJA 😌
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋