Gemilang Ku

Gemilang Ku
96 ~ Maafkan Mou


__ADS_3

Lagu acoustic classic menemani perjalanan Sam dan Mou siang ini. Sam bernyanyi dengan suara menggema disepanjang perjalanan. Berbeda dengan wanita cantik yang berada disampingnya. Mou terus diam dan melamun, sesekali memainkan kancing yang berada di tasnya.


"Enjoy, Mou." Sam menggoyang-goyangkan kepalanya seirama dengan lagu yang ia putar.


Mendengus malas saat Mou melirik kearah Sam. Bagaimana bisa dirinya tenang saat mereka sudah memasuki area komplek perumahan mewah milik Gemilang. Hari ini adalah hari minggu, seharusnya laki-laki itu juga berada di rumah.


Di gerbang depan rumah Gemilang, Mou segera membuka kaca mobil agar satpam segera membukakan gerbang.


"Siang nona," ucap salah satu satpam yang sudah hafal dengan Mou.


Mou membalasnya dengan senyuman. "Siang pak," ucap Mou bersamaan dengan gerbang yang terbuka.


Mou berkali-kali menghela nafasnya ketika Sam sudah memarkirkan mobilnya di sana.


Segera turun dengan jantung yang berdetak kencang.


"Pasti orang tua Gemilang ngertiin kamu kok," ucap Sam menenangkan.


Tangan Sam segera menekan bel pada pintu. Menunggu beberapa saat sampai pintu dibuka secara perlahan.


"Mou," ucap Elang saat melihat siapa yang berada dibalik pintu.


"Iya papii. Eh, om." Mou bingung harus memanggil apa saat hubungannya sudah berakhir dengan Gemilang.


"Panggil papii saja, Papii sudah nyaman dengan panggilan itu." Mou segera mengangguk ketika Elang mengatakan itu. Rasanya senang sekali Elang masih baik kepadanya.


"Ayo, masuk." Elang menggandeng Mou yang tampak ragu. "Masuk Sam, anggap saja rumah sendiri. Om baru tahu kalau kamu dulu temennya Gemilang."

__ADS_1


"Iya om, teman lama." Jawab Sam segera mengikuti langkah kaki mereka menuju sofa besar diruang tamu.


Tapi sekarang musuh.


"Silahkan duduk, Papii panggilkan mamii dulu sama sekalian ganti baju." Elang memang masih memakai baju olahraga. Kelihatannya habis main golf.


"Iya, Pap."


Belum sampai Elang melangkahkan kakinya, namun Mila sudah menghampiri mereka terlebih dahulu.


"Mam, ada Mou sama Sam. Papii mau ganti dulu."


"Iya Pap." Mila menjawab tanpa ekspresi. Hati Mou lagi-lagi seperti diremas dengan kuat. Wanita paruh baya itu selalu tersenyum padanya. Tapi tidak hari ini.


Mou segera berdiri dan mencium tangan Mila. "Tante apa kabar?" tanya Mou.


"Sam, kamu keatas saja ke kamar Gemilang. Dia mungkin masih tidur." Mila berganti melirik Mou. "Mamii mau bicara sama Mou."


Mou tercengang karena Mila masih mau dipanggil mamii olehnya.


"Yasudah Tante, kalau gitu mau lihat Gemilang dulu." Sam sebenarnya tampak ragu ketika meninggalkan sang adik.


"Adik saya hatinya lembut Tante," ucap Sam sebelum meninggalkan mereka berdua.


Mila tersenyum samar, paham apa yang dimaksud oleh Sam.


"Kita bicara di halaman belakangan saja ya," Mila sedikit lebih melembutkan suaranya. Meraih tangan Mou agar mengikuti nya.

__ADS_1


.........


Dua cangkir teh hangat telah tersaji diatas meja. Menemani Mou dan Mila yang masih saja sama-sama diamnya.


"Mamii akan mengijinkan Mou berbicara terlebih dulu." Mila menoleh pada Mou yang nampak ragu ketika hendak berucap.


Mou segera meraih tangan Mila untuk digenggam. Menatap Mila dengan tatapan kesedihan. "Sebelumya tujuan Mou kesini adalah untuk meminta maaf. Mou mau Mamii memaafkannya Mou." Suara Mou sudah bergetar, padahal baru itu kalimat yang terucap.


"Kenapa tiba-tiba kamu memilih untuk ke London Mou?" Mila membalas usapan lembut ditangan Mou.


"Setelah Mou pikir-pikir Mou memang membutuhkan itu Mam. Jika sekarang Mou menikah dengan Abang, lalu orang-orang pasti akan bertanya tentang keistimewaan apa yang dimiliki Mou, hingga membuat Gemilang memilih Mou diantara beribu banyak wanita yang lebih baik. Dan setelah Mou pikir panjang, Mou tidak memiliki nya." Mou menghela nafasnya.


"Mou tidak mau mengecewakan Mamii, karena nanti orang pasti bertanya tentang pendidikan, dan hal yang Mou raih. Mou tidak ingin membuat Mamii malu nantinya...."


Mila segera memeluk tubuh Mou yang sudah terisak. "Mamii nggak malu, Mamii tau Abang sayang sama Mou apa adanya. Sebenarnya keluarga kita tidak membutuhkan itu semua. Karena kamu sudah menjadi pilihan Gemilang, yang pasti Gemilang sudah tahu baik buruknya kamu."


Mila menyingkirkan anak rambut yang memenuhi wajah cantik Mou. "Tapi jika kamu berpikiran seperti itu, sebenarnya mamii malah bangga sama Mou."


"Mou tetap anak mamii kok, tenang saja. Tapi semua keputusan tetap Mamii serahkan pada kalian berdua. Karena Mou tahu sendiri kan cita-cita Abang ingin menikah muda. Mungkin karena itu Abang kecewa sama Mou dan memilih untuk berpisah."


Mou mengangguk. "Ini semua salah Mou Mam, jika nanti Abang akan memilih menikah dengan wanita lain yang lebih baik. Mou akan menerima risikonya." Hancur lebur hati Mou saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.


.


.


.

__ADS_1


Yuk, bantu dukungannya❤️


__ADS_2