Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 111 ~ Scandal


__ADS_3

Sahutan kamera, bersamaan dengan gerak tubuh Mou yang begitu lihai. Tatapan mata lentik itu begitu mematikan menghadap ke arah kamera.


Menyemprotkan parfum pada gaun berwarna putih dengan design elegan itu. Memejamkan matanya sejenak, menghirup dalam-dalam aroma mint bercampur vanilla. Sudut bibirnya terangkat, "harumnya mempesona." Menggigit bibir bawahnya menampilkan kesan seksi, pada dirinya sekaligus parfum yang ia kenakan.


"Cut," teriak seseorang bertopi itu, yang notabenenya adalah sutradara iklan ini. "Terimakasih kerjasamanya. Hari ini luar biasa, Resa Moon."


"Sama-sama, pak Reno." Mou menjawab bersamaan dengan langkah kaki seseorang yang tergesa-gesa menghampiri dirinya. Menarik tangannya dengan paksa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sampai orang-orang yang berada di sana terperangah melihatnya.


"Ada apa?" tanya Mou yang terus mengikuti langkah kaki Gemilang. Menyusuri koridor yang begitu sepi.


Gemilang mempercepat langkahnya. "Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan."


Mou semakin bingung di buatnya. Terus berjalan cepat dengan high heels yang begitu tinggi. Tangannya sibuk menenteng dress panjangnya


Saat sampai di parkiran khusus. Mou tampak tercengang karena Yohan sudah berdiri tegap di sana.


"Pakai mobil ini saja, Pak." Yohan membuka pintu mobil yang ternyata sudah ada seseorang di dalamnya.


"Exel?" Mou tambah bingung dengan ini semua.


"Pastikan plat nomornya aman. Tidak ada yang tahu," ucap Gemilang dengan wajah datarnya.


"Ini milik salah satu karyawan kita, saya jamin tidak akan ada yang tahu." Yohan bergantian menatap Exel yang sudah duduk di bangku pengemudi.


Yohan sedikit membungkukkan badannya. "Pak Exel, villanya sudah di siapkan. Bapak bisa langsung ke sana sekarang."


"Ada apa sih?" tanya Mou menatap Gemilang yang sepertinya khawatir akan sesuatu.


Gemilang menggenggam erat tangan Mou. "Untuk saat ini kamu ikut Exel saja dulu, nanti malam aku akan menyusul."


"Mou nggak mau, sebenarnya ada apa." Kekeh wanita ini begitu keras kepala.


"Ada suatu hal yang harus aku urus terlebih dahulu. Kali ini saja, ikuti kemauanku." Gemilang benar-benar tidak ingin bantahan saat ini.


Mou mengangguk kecil, meskipun masih bingung namun ia mencoba berpikir positif, yang penting Gemilang sudah sedikit mencair saat ini. Tangannya di genggam oleh Gemilang saja sudah senangnya luar biasa.


Mou memasuki mobil dengan ragu, tak rela melepaskan genggaman tangan hangat ini.


"Gue titip dia, karena gue percaya sama lo." Gemilang berkata begitu serius.

__ADS_1


"Iya," jawab Exel yang juga berubah menjadi serius.


Gemilang segera menutup pintu mobil. "Nanti malam aku akan kesana."


Mobil itu melaju, Gemilang berganti menatap Yohan. "Hubungi semua media, cari tahu siapa yang menyebarkan berita itu." Melangkahkan kakinya disusul oleh Yohan.


"Para wartawan terus mengelilingi perusahaan dan rumah Mou pak. Sampai-sampai apartemen juga menjadi sasaran mereka siang ini."


Ben tampak berlarian menyusul mereka. "Gem, gimana ini. Mou udah tahu belum?" tanya nya dengan napas yang tersengal. "Beritanya sudah sampai koran."


Gemilang merebut koran yang tengah di genggam oleh Ben.


Model cantik Resa Moon yang baru saja pulang ke tanah air. Kini di kabarkan menjadi perusak rumah tangga orang.


Edwin, agensi dari model ini ternyata memiliki hubungan gelap dengan Resa Moon.


Foto Mou dan juga Edwin tampak memenuhi sampul koran. Bukan hanya satu foto saja, bahkan banyak foto kebersamaan mereka.


Gemilang merobek-robek koran itu menjadi beberapa bagian. Rahangnya mengeras dengan dada naik turun.


"Lo nggak berpikir negatif kan?" tanya Ben hati-hati. "Itu hanya foto kok, cuma satu saja yang pelukan." Melipat bibirnya takut diamuk.


Ben terus membuntuti langkah Gemilang sampai di ruangannya. "Edwin itu temannya bang Roman. Pasti foto itu hanya kesalahan pahaman saja."


"Jangan berkata apapun hari ini. Cukup bantu Yohan menyelesaikan masalah ini." Gemilang yang baru saja duduk di sofa, memijit pelan pelipisnya.


Yohan datang dengan tas jinjing di tangannya. "Ini tas milik Mou, Pak. Ponsel dan dompetnya berada dalam."


"Kenapa nggak lo aja yang bawa Mou pergi dari sini?" tanya Ben.


Mendesah pelan. "Itu kesannya kita menutupi skandal Mou, karena menjadi model parfum kita."


Ben mengangguk, "lebih baik jangan sampai Mou tahu dulu deh, komentar di media sosial pasti bikin mentalnya down."


"Lo mending samperin bang Roman dulu, dia nelpon terus dari tadi."


Ben mengangguk, "tenang saja." Untungnya ia menunda bulan madu, jadi bisa membantu Gemilang mengurus masalah ini.


.

__ADS_1


.


.


"Aku nggak tahu, Mou" Exel nampak frustrasi menjawab pertanyaan Mou. Wanita ini terus bertanya apa yang tengah terjadi.


Padahal ia tadi hanya mampir sebentar ke Elang Group, tapi kenapa jadi terjebak dalam masalah rumit seperti ini.


Mou nampak melamun, masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Boleh pinjam ponsel kamu?" tanya Mou lagi


Exel gelagapan menjawabnya. "Ja-jangan, itu baterainya habis maksudnya."


Mou tahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres saat ini.


"Memangnya kenapa sih Abang nyuruh kita ke puncak?" tanya Mou setelah mereka sampai pada kawasan hijau ini.


"Liburan kali," celetuk Exel tidak jelas.


Mou menatap Exel dengan tatapan tajamnya. "Jujur sama aku, apa yang sedang kalian sembunyikan."


"Nggak ada," jawab Exel yang enggan menatap Mou.


"Pasti ada sesuatu kan?"


Lagi-lagi Exel mendengus kesal mendengarnya. "Mou kita sudah tiga tahun lebih tidak bertemu. Bisakah membahas tentang kabar satu sama lain saja?" Exel berusaha mengalihkan perhatian.


"Tidak!"


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya...


Kan udah double 💋

__ADS_1


__ADS_2