
Mondar-mandir tidak jelas, tiba-tiba saja Gemilang teringat akan sesuatu. Bodohnya ia memberikan ijin pada Mou untuk menjadi artis dan sekarang kan istrinya sedang hamil. Bagaimana cara membicarakannya, ia takut Mou akan kepikiran tentang hal itu dan berdampak pada kandungannya.
"Abang ngapain?" tanya Mou yang baru saja memasuki kamar dengan satu toples keripik pisang di tangannya.
"Nungguin kamu," gombalnya segera menarik tangan Mou untuk duduk di sisi ranjang.
Terus mengunyah dengan santainya dan menatap curiga pada gerak-gerik Gemilang. "Mau?" tawar Mou menyodorkan satu keripik pisang pada suaminya.
"Buat kamu aja." Menggenggam tangan Mou lalu mengecupnya.
"Abang.." panggil Mou lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Gemilang dengan manjanya.
"Iya sayang."
"Abang mau ngomong sesuatu?" tanyanya yang membuat Gemilang menelan ludahnya kasar.
"E-enggak."
"Kalau gitu Mou yang mau ngomong sesuatu." Mendongak menatap netra tajam milik Gemilang.
"Apa?"
"Mou sudah pikirkan semuanya baik-baik dan Mou memilih untuk fokus dengan Abang dan juga anak kita saja. Mou nggak mau main film, mending urus kalian saja."
Seolah sesuatu yang mengganjal di benak Gemilang terhempas begitu saja. Mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum menatap mata sipit Mou. "Bener?"
"Iya Abang." Tersenyum manis pada sang suami.
Gemilang tak henti-hentinya memberikan kecupan pada pipi bulat istrinya. "Terimakasih."
Mou masih tidak menyangka kalau reaksi Gemilang akan sesenang ini. Bukankah sebelumnya laki-laki ini mengijinkan dirinya untuk menjadi artis.
"Jangan-jangan Abang selama ini terpaksa ya, bilang ijinin Mou jadi artis." Mou mendelik kesal pada suaminya yang malah nyengir kuda.
"Itu tahu," jawab Gemilang sembari mencubit gemas pipi Mou yang semakin mengembung.
Bibir wanita itu mengerucut dengan lucu. Memainkan jarinya pada dada bidang suaminya. "Abang," ucap Mou lagi dengan ragu.
"Ada apa lagi?" tanya Gemilang dengan dahi yang mengernyit.
"Tapi beliin kulkas buat di taruh di kamar ya." Menampilkan puppy eyes yang menggemaskan.
__ADS_1
Gemilang menaikkan sebelah alisnya. "Kulkas?" tanyanya tak percaya, ia kira Mou akan meminta sebongkah berlian atau barang-barang mewah lainnya. "Buat apa sayang?'
"Mou itu suka gerah sejak hamil, bawaan bayi kata Mami dan Abang tahu sendiri kan kalau Mou akhir-akhir ini sering ke dapur buat duduk ngadem di depan kulkas." Mou berceloteh panjang lebar tentang keluh kesahnya.
Gemilang tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya. Jika hanya kulkas saja ia mampu membeli beserta pabriknya kalau Mou mau.
"Iya sayang." Mengecup bibir Mou sekilas. "Kalau minta apa-apa bilang saja nggak usah sungkan. Suamimu kaya Mouresa." Terkekeh geli saat Mou mendelik kesal.
"Sombong!"
.
.
.
Aroma dari ikan kembung yang baru saja tercebur ke minyak membuat perut Mou bergejolak seketika. Berlari kecil menuju kamar mandi saat aroma ikan itu semakin menusuk hidungnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gemilang yang tengah mengenakan kemejanya. Segera menyusul langkah kaki Mou dengan khawatir.
"Huek. . . huek. . ." Tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Hanya cairan yang begitu terasa pahit di lidahnya.
Gemilang membantu untuk mengusap punggung istrinya, tak lupa menyingkirkan rambut panjang Mou.
"Kamu kenapa, abis makan apa?" Memeluk istrinya untuk memberikan ketenangan. Dan benar, pelukan dari suaminya adalah obat dari segalanya.
"Kayaknya baby nggak suka sama aroma ikan deh, lebih suka aroma Daddy nya." Tersenyum lembut dan meyakinkan Gemilang bahwa dirinya baik-baik saja. Laki-laki itu selalu saja khawatir berlebihan jika ada sesuatu yang tidak beres pada Mou.
"Siapa sih yang masak ikan pagi-pagi begini." Rahang laki-laki itu mengeras dan membuang napasnya saat emosi begitu ingin ia luapkan.
"Abang nggak boleh gitu," ujar Mou mengusap-usap rahang suaminya. "Kita baik-baik saja, bahkan kata dokter mual adalah hal yang wajar saat awal kehamilan." Membawa tangan besar suaminya untuk mengusap perutnya.
"Aku nggak mau kamu ngerasain sakit Mou. Sekalipun itu untuk mengandung anakku. Maaf ya sudah membuatmu mengalami hal-hal sulit saat mengandung anakku."
Mou tersenyum kecil karena itu. Kembali mendekap erat tubuh suaminya. "Asal Abang tahu, ini mimpi Mou untuk menjadi seorang ibu. Apalagi ibu dari anak seorang laki-laki yang begitu Mou cintai. Mou bahagia bisa merasakan ini semua, bagi Mou cukup kalian berdua yang menjadi semangat Mou untuk menghadapi hal-hal sulit ini."
"Aku mencintaimu, Mouresa Munaj." Bahagianya bisa memiliki pendamping hidup seperti Mou.
"Aku juga mencintaimu, Daddy."
Terimakasih untuk kebahagiaan tiada akhir ini.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa bulan kemudian...
Memegangi perutnya yang sudah begitu besar dan membuncit. Mou terus menatap keluar jendela, menunggu pesanannya datang. Eh, bukan menunggu suaminya maksudnya.
Begitu mendengar deru suara mobil Mou segera beranjak untuk membukakan pintu. Tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya.
"Ini sudah jam berapa Mouresa!" geram suaminya yang begitu kesal karena Mou begitu membangkang selama kehamilannya. "Kan sudah aku bilang jangan tidur terlalu larut." Terus mengomel meskipun tangannya merengkuh tubuh istrinya dengan erat.
"Kan baby lagi pengin makan terang bulan, Abang." Segera merebut sesuatu yang menggantung di tangan Gemilang.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang ia mau lalu pergi meninggalkan Gemilang menuju dapur. Mendengus kesal Gemilang tetap mengikuti langkah Mou.
"Aku benar-benar akan gila," gerutu Gemilang mendesah kesal sembari menghempaskan tubuhnya pada kursi. "Kemarin rujak singkong, sekarang terang bulan isi daging sapi. Besok apa lagi?" ucapnya begitu frustrasi. Sudah beberapa bulan ini ia pulang malam hanya untuk menuruti ngidam aneh istrinya.
Tanpa memperdulikan celotehan Gemilang, Mou malah sibuk makan dengan lahapnya. "Anak kamu loh yang minta."
Baiklah itu adalah senjata yang selalu membuat Gemilang terdiam dan tidak mampu berkata-kata. Laki-laki itu mati kutu, memijit pelipisnya dan hanya mengangguk.
Kesabaran Gemilang benar-benar diuji oleh istrinya sendiri. Kali pertama Mou mengidam ia sangat antusias namun begitu Mou mengidam yang aneh-aneh kepalanya serasa mau pecah. Apalagi Mou hanya ingin Gemilang saja yang menuruti ngidamnya.
Gemilang kenyang sendiri saat melihat pipi Mou yang mengembung dan terus mengunyah. Mengusap sudut bibir Mou yang belepotan. "Makanya pelan-pelan," ucapnya penuh perhatian. Kadang gemas sendiri melihat tubuh istrinya yang sudah mulai membulat semua.
Mengangguk dan menyodorkan sesuap terang bulan isi daging sapi pada Gemilang. Ini adalah hal yang paling ia benci. Mou akan memaksanya untuk memakan apa yang tengah ia makan dan kalau tidak wanita itu akan menangis nantinya.
Begitu pasrah saat rasa aneh memenuhi lidahnya. Segera berdiri sebelum Mou kembali memaksanya. "Aku mau mandi dulu," dalihnya.
"Cepat habiskan Mouresa, setelah ini aku yang akan menghabisi dirimu karena telah menyusahkan ku." Gemilang tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya.
"Abang!"
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah setia menunggu, tinggal beberapa part lagi ya. Aku udah nggak mau mereka ada konflik ❤️