
Pagi hari nya Siska keluar dari apartemen nya. untuk berangkat bekerja seperti pagi-pagi kemarin.
"Hello good morning young miss!"( Hallo selamat pagi Nona muda!)" sapa Erick yang berdiri tepat di depan pintu apartemen Siska.
"Om Erick? ngapain..." tanya Siska dengan nada sedikit terkejut.
"Mulai hari ini, esok, dan seterus nya saya akan mengantar, dan menjemput anda. dan jika anda ingin protes jangan kepada saya tapi kepada Tuan saya yaitu, ayah Anda" ucap Erick sambil tersenyum kecil.
"Om, kenapa mau saja di suruh? bukan nya. Om adalah tangan kanan Daddy ku kenapa sekarang malah jadi supir!" Tanya Siska kesal.
"Itu karna Ayah anda memberikan saya bonus. dan tetap menggaji saya" membuat Siska menatap malas.
"Kalau Om mau uang aku bisa berikan tapi Om tidak usah mengantar, dan menjemput ku"
"Ouh... tidak semudah itu dan tidak bisa!" tolak Erick sambil menggelengkan kepala nya.
"Tuh kan Om, kelamaan berkerja dengan Daddy. jadi ikut-ikutan Alay!" Ucap Siska dan langsung pergi meninggalkan Erick. dan Erick langsung mengikuti langkah kaki Siska dari belakang.
Tapi saat melewati kamar kelima dari kamar nya. langkah nya langsung terhenti untung saja Erick melihat itu jika tidak dia sudah menabrak tubuh Nona muda nya.
"Pak Julian?" Ujar Siska yang melihat Julian sedang mengunci pintu.
__ADS_1
Julian membalikan badan nya. pandangan nya terlebih dahulu melihat tatapan tajam Erick.
"Mampus gua!" batin nya dalam hati merinding disko.
Cepat-cepat pandangan nya ia arahkan kepada Siska.
"Siska?" tanya nya pura-pura terkejut.
"Bapak tinggal di sini?" Menatap Julian.
"Ya, apartemen saya sedang di renovasi karna ada orang yang tidak waras menghancurkan nya!" ucap Julian memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
Siska mengangguk"Itu" menunjuk pintu kamar nya.
"Icha ayo berangkat nanti kau telat ke kantor" ajak Erick.
"Saya duluan Pak" pamit Siska Julian menganggukkan kepala nya.
"Kau keparkiran lebih dulu Om, akan menyusul" Dan Siska mengangguk berjalan pergi meninggalkan Julian, dan juga Erick. saat melihat Siska sudah masuk ke dalam lift Erick langsung memojokkan tubuh Julian ke tempok.
"Maaf Om, jangan seperti ini" Ujar Julian saat Erick terus menerus memepetkan tubuh nya ke tubuh Julian.
__ADS_1
"Siapa kau?"
"Apa tadi Om tidak mendengar saat Siska memanggil nama saya? Nama saya Julian Om."
"Apa itu Julian? apa karna kau lahir di bulan Juli"
"Orang tua saya yang memberikan nama itu Om,"
"Awas saja jika kau macam-macam aku penggal kepala mu!" Ucap Erick menjauhkan tubuh nya dan pergi menyusul Siska.
"Mana camera. di mana camera nya tolong aku sudah tidak sanggup!" Julian merapikan Jas nya. dan berjalan pergi.
Erick sampai ke parkiran tapi ia sama sekali tidak melihat Siska. dan saat itu juga ponsel nya berbunyi.
Nona muda;
Maafkan aku Om Erick, aku pergi menggunakan taxi.
Membuat Erick seketika merasa sesak nafas.
"Kenapa kalian sekeluarga selalu membuatku kesusahan! Nona apa yang harus saya katakan kepada Ayah anda. dan untuk Tuan bagaimana saya menjelaskan tentang ini? dan untuk mu yang di panggil Julian seperti nya saya tidak jadi untuk memenggal kepala mu, karna sebelum itu mungkin kepala ku yang akan di penggal duluan"
__ADS_1