Hargai Aku

Hargai Aku
" NIAT BURUK"


__ADS_3

" loh bapak kok ngomong gitu". kata Tiwi sembari bangun lalu menghampiri dimana bapak berdiri.


" Pak, bapak kenapa?" kok kayak wong kesambet, datang - datang bicaranya ngawur". kata ibu yang keheranan dengan sikap dan kaya kata bapak.


Ibu juga bangun dari tempat tidurnya karena akan membantu tugas dari bapak dimana menjaga anak yang masih didalam kandungan ibunya.


" Ah itu perasaan kamu saja Bu, aku baik baik saja". kata bapak sebisa mungkin tersenyum agar tidak tau masalahnya sama anak - anak dan suaminya.


" Wi sana tidur gih biar besok kamu tidak kesiangan temani ibu ke terminal saja". kata ibu seraya memeluk anak gadisnya dan mengusap lembut kepalanya.


" Iya iya,Bu, pak" kata Tiwi seraya mencium tangan mereka bergantian.


Tiwi pun berlalu dari kamar bapak dan ibu. menuju ke kamarnya lalu segera istirahat.


sementara ibu menghampiri bapak yang dari tadi sejak Tiwi keluar kamar ini seperti ada yang sedang di pikirkan. firasat seorang istri tidak pernah salah.


" pak jujur ajalah sama ibu, bagi apa yang bapak rasa biar ibu rasa juga pak, Sudah hampir dua puluh tiga puluh lima tahun loh pa kita bersama sama, ibu tu tau siapa bapak begitupun sebaliknya, jadi tolong kalau ada apa apa ayo kita berbagi pak". kata ibu panjang lebar.

__ADS_1


Bapak menarik nafas dalam lalu menghembuskan ya dengan lembut. lalu mulai bercerita.


" maafkan bapak ya Bu". kata bapak mengawali ceritanya


" iya pak, cerita saja tapi kalau bapak belum siap tidak apa apa kok pak". kata ibu mengalah tidak mau memaksakan kehendak.


" Kalau bapak cerita, ibu harus janji, nggak boleh sedih, nggak boleh cerita ke siapa - siapa ibu harus janji apa yang akan bapak cerita cuma kita berdua yang akan menyimpannya.


" oh iya pak, ibu janji , tidak akan cerita pada siapa siapa". kata ibu meyakinkan bapak


" itu loh Bu tadi waktu bapak mau ke dapur, nggak jadi". kata bapak.


" Tadi itu bapak tidak sengaja mendengar mertuanya Rani Menelepon seseorang bu, bapak dengar dia akan ambil lagi anaknya Rani kalau sudah lahir, dia bilang juga kaku dia tidak bisa memisah Rani dengan Randi setidaknya dia berhasil memisahkan Rani dengan anaknya." kata bapak menjelaskan kepada ibu.


" Astagfirullah pak, kok kejam banget sih Bu Ambar sama Rani". kata ibu dengan syok.


" Sabar Bu, kita hanya bisa mendoakan Rani semoga Dia sabar dan rumah tangganya langgeng". kata bapak tanpa di sadari air matanya sudah menetes di pipinya.

__ADS_1


" Tidak bisa seperti itu to pak, kita harus kasi tau Rani biar Dia tetap waspada sama mertuanya". kata ibu sudah dengan emosi dan air mata luruh tanpa komando di pipinya.


" Astagfirullah Bu, istighfar bu, kita kita boleh terlalu dalam mencampuri urusan rumah tangga mereka, nanti tambah runyam masalahnya iya". kata bapak membujuk ibu agar lebih tenang.


" Iya pak, maafkan ibu ya". kata ibu masih dengan deraian air mata.


" Kita Solat dulu yuk". Ajak bapak biar lebih tenang. ibu menanggapi dengan anggukan kepala mereka pun sama - sama ke kamar mandi untuk melakukan wudhu lalu solat berjemaah lalu merekapun istirahat.


Keesokan harinya taksi yang menjemput


ibu untuk berangkat ke terminal sudah datang. kali ini bapak dan ibu memilih naik bus pulang kampung selain untuk irit gunanya juga untuk menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan pulang.


" Bu maafkan Rani ya kali ini tidak bisa ngantar ibu dan bapak juga Tiwi karena keadaanku seperti ini, mas Randi juga ada meeting pagi ini kliennya sudah sampai dan setengah jam lagi mereka akan bertemu". kataku kepada bapak dan ibu maupun Tiwi.


" Jangan dipikirkan to nduk, yang penting kamu sehat ibu ikut senang". kata ibu berusaha untuk menghibur anak sulungnya tersebut .


" Iya Nduk, benar kata ibumu, jangan lupa juga minum vitaminnya. kami berangkat dulu ya". kata bapak seraya mengelus kepalaku dengan lembut.

__ADS_1


Akhirnya Aku Salim sama bapak dan ibu juga Tiwi, mereka pun naik di mobil taksi, taksi pun melaju membelah jalanan yang telah ramai.


__ADS_2