Hargai Aku

Hargai Aku
" DILEMA". POV : Rani


__ADS_3

Tiga hari sudah Randi di rumah sakit akhirnya dinyatakan pulih dan boleh keluar hari ini. seperti biasa Rahma selama ini setia menunggu kakaknya tentu ada udang di balik batu ada yang di inginkan Rahma sehingga dia harus merahasiakan keberadaan Randi selama tiga hari ini kepada kedua orang tuanya. Hari ini pun dengan cekatan Dia membantu Randi persiapan keluar dari rumah sakit karena termasuk administrasi Randi ternyata Rahma juga yang menyelesaikan jadi menurut Rahma banyak hutang yang harus di bayar Randi setelah keluar dari rumah sakit, mereka tidak ingin membebani pak Dani dengan semua ini. setelah beres semua mereka pun keluar dari rumah sakit pulang ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah Randi segera masuk ke kamarnya, melihat kamarnya dia merindukan seseorang yang selalu dia sakiti. hatinya kali ini antara rindu dan dilema.


lama dia memandang foto di atas meja sadar oleh panggilan Rahma foto segera di letakkan ya lalu menggambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di rumah sakit Bu Ambar juga sudah mulai membaik, namun ada beberapa tahap pemeriksaan lagi yang harus di selesaikan sehingga beliau harus masih tetap berada di rumah sakit walau sesungguhnya sangat membosankan namun apa hendak di kata semua harus di syukuri dan di jalani air mengalir akan berjalan begitu saja.


" Pak kenapa Randi beberapa hari ini tidak jenguk aku sih". kata Bu Ambar sedih dalam berapa hari Randi tidak kunjung menjenguknya walau hanya melihat keadaannya.


" Randi bapak suruh mengerjakan pekerjaan kantor Bu, kalau bukan Randi siapa lagi, bapak kan setiap hari temani ibu di sini siang dan malam". kata pak Dani berdusta walau hati kecilnya juga risau memikirkan dimana keberadaan anak laki - lakinya saat ini walaupun Rahma selalu menjelaskan dan meyakinkan bahwa Random baik - baik saja namun hatinya berkata tidak.


" Oh Tuhan semoga anakku baik - baik saja". doanya dalam hati.


Beda halnya dengan di singapura bukannya membuatku bahagia, namun aku dilema dengan keadaan seperti ini, mungkin aku tidak terbiasa, aku seperti wanita pengecut yang meninggalkan suami entah sedang apa dia saat ini. walau sering sugesti diri agar menikmati hidup ini namun belum juga bisa, mungkin karena aku tidak terbiasa hidup seperti ini. seharusnya aku bahagia tinggal menikmati fasilitas yang ada namun belum bisa juga aku masih dilema dengan statusku saat ini, bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah sementara aku disini dia di sana.


" Ahk... ". aku menjambak rambutku frustasi. " aku harus bicara pada Oma atau opa untuk bisa pulang secepatnya menyelesaikan masalahku dengan mas Randi". Batinku.


Ku ambil benda pipih di dalam tasku lalu mendial nomor Oma namun tak diangkat. setelah itu kucoba hubungi opa juga sama hasilnya tidak ada. aku semakin frustasi. ku lihat jam menunjukkan pukul empat waktu setempat. aku pergi ke kamar mandi membersihkan diri lalu ku melakukan solat agar hati ini lebih tengah dan damai serta lebih jernih berpikir dan bertindak itulah harapanku memohon pada yang maha kuasa .


Dikediaman pak Dani, dimana Randi berjanji akan menceritakan semuanya kepada Rahma apa yang terjadi setelah makan malam mereka pun bersantai di ruang keluarga. Rahma membuat jus alpukat menemani malam mereka tak lupa cemilan alakadarnya juga.


" mas baik - baik saja kan?" tanya Rahma kepada Randi.

__ADS_1


Randi hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan adik yang sangat iya sayangi itu.


" Kamu sudah siap Dengar ceritanya De?" Tanya Randi untuk memastikan bahwa Rahma baik - baik saja setelah mengetahui kenyataan yang ada.


" Siap kok mas ". jawab Rahma tenang walaupun hatinya was - was memangnya ada apa sih kayaknya kok genting banget". batinnya.


" Kamu harus Janji lho De kalau kamu akan Baik bai saja setelah mas cerita". kata Randi lagi meyakinkan adiknya.


" Iya iya mas bawel banget waktunya keburu nih kita mau ke rumah sakit juga. desak Rahma.


Randi pun menceritakan semua kejadian yang sesungguhnya semua ulah ibunya sendiri termasuk ulahnya juga karena mau saja mengikuti kemauan ibunya yang tidak masuk akal. setelah panjang lebar Randi bercerita tiba tiba raut wajah Rahma berubah dingin Randi tau kali ini Rahma sedang marah. namun dia tidak tau marah pada siapa.


" Begitulah ceritanya De, maafkan Mas mu ini". kata mas Randi sedih man send.


" Enak saja. pokoknya aku tidak mau, mas harus ganti uangku yang mas Pakai selama di rumah sakit ". kata Rahma penuh penekanan. itulah Rahma dari kecil seperti itu, anaknya memang baik tapi dia tidak rela jika uangnya dikatakan di pinjam tidak dikembalikan apa pun situasinya dia tidak peduli.


" Maafkan Mas ya De, maafkan ibu juga". Katanya memohon pada Rahma.


" Aku sudah kasi tau ibu dan mas, kenapa sih kalian kayak anak kecil saja nggak ada nyadar - sadarnya jadi orang. kalian nggak sadar apa di keluarga ini ada aku mas, bagaimana kalau suami aku kelak memperlakukan aku seperti kakak memperlakukan mbak Rani, apa kakak senang?" tanyaku dengan emosi menyala nyala sampai ke ubun - ubun rasanya.


" Ok mas ngaku salah De, mas kan udah minta maaf De.


" Tetap Saja mas, aku tidak terima dengan sikap kalian yang semena mena sama kalian. sekarang saja kalian sudah terima akibatnya.

__ADS_1


"Oh iya De yang penting mas sudah cerita sekarang berjanjilah agar bersikap biasa saja jika bertemu ibu nanti di ruma sakit.


" Iya iya dasar bawel " . jawab Rahma dengan sebal dan menahan geram di tangan.


akhirnya mereka pun berangkat ke rumah sakit ketika sudah menyepakati aturan aturan yang mereka bua berdua. tiada lain ini untuk kebaikan dan masa depan mereka pula.


Di rumah sakit


Ceklek


Rahma membuka pintu


" Cieee cucu Oma yang paling cantik kapan datangnya kenapa nggak ngabarin Oma ". kata kata Oma selalu buat Rahma senang.


" Oma kapan kesini nya" tanyanya balik sambil mencium tangan dan pipi Oma dan opanya bergantian tak luput pula ke bapak dan ibu yang masih berbaring.


" Sudah sejam yang lalu sayang". Ucap Oma dengan lembut seraya mengusap lembut bahu Rahma.


"RAN kamu apa kabar nak? " Tanya opa.


" Baik opa selaya melakukan ritual seperti yang rahma lakukan.


Tuan Wijaya memang ramah, begitupun nyonya Kumala. beliau tidak pernah memperpanjang masalah. yang penting masalah itu Sudah diselesaikan setelah itu beliau akan bersikap seperti biasa seolah olah tidak ada masalah. itu lah kelebihan mereka sehingga nama mereka selalu harum dikalangan apapun juga.

__ADS_1


__ADS_2