
Setelah menyuguhkan secangkir kopi pada Oma dan opa, Rani pun duduk di sebuah sofa.
" Opa mengerti dengan perasaanmu Nak";Suara opa dengan lembut membuka perbincangan kami.
" Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri". kata opa lagi
" Namun Opa tidak ingin kamu berlarut larut dalam kesedihan dan selalu menyalahkan diri sendiri". kata opa lagi masih dengan nada yang sangat lembut.
Inilah yang membuat Rumah tangga kami bisa bertahan sampai hari ini, karena semua keluarga suamiku menyayangiku tanpa melihat statusku dari keluarga kurang mampu. itu yang aku syukuri dan bisa kuat walau mas Randi selalu mengikuti kemauan ibu mertuaku penyebab aku selalu sakit hati namun di sisi lain aku mendapat dukungan dan support yang lebih dari keluarga suamiku.Manusiawi kadang aku jenuh dengan sikap suamiku, namun sebisa mungkin aku sugesti diri sendiri agar tabah dan kuat menjalani bahtera rumah tangga yang penuh dengan cobaan dan rintangan.
" Maafkan Randi ya". Kata Oma seraya mengelus lembut pundakku,
"Bersiaplah, kami sudah mempersiapkan semuanya untukmu". kata Oma masih mengelus lembut pundakku.
" Tapi Oma...
__ADS_1
" ust tidak ada tapi - tapi, besok pagi kalian akan ke bandara, penerbangan jam tujuh pagi, Raja juga Oma sudah persiapkan selama di sana, nikmatilah liburanmu nak". kata Oma tulus dengan yang selalu mengembang di bibir manisnya.
Akhirnya berangkat lah Rani dan Raja ke bandara, Bu Kumala dan tuan Wijaya turut mengantar kami dengan sopir pribadi.
Sesampai di bandara, Aldo sudah mengurus semuanya jadi aku tinggal menunggu naik pesawat saja dengan raja.
" Eyang jangan lupa ya kasi tau papa entar susul kami di Singapura". kata raja dengan polosnya. Aku berusaha tabah mungkin aku tak boleh lemah di depan Raja, kasian masih kecil haru menanggung masalah akibat ke keegoisan kami.
Akhirnya waktu keberangkatan pun telah tiba lewat mikrofon nama kami di panggil untuk segera menuju ke pesawat.
" Siap Eyang jawab Raja sembari menaikan tangan kanannya di kepala tanda hormat.
" Oma dan Opa memeluk dan menciumi dengan penuh kasih sayang.
" Berbahagialah kamu nak doa kami selalu menyertai". Suasana haru menyertai kepergian kami, sampai di awak pesawat mereka masih melambaikan tangan ke arah kami tak terasa buliran bening jatuh tak tertahankan di pipi ini berat rasanya berpisah dengan mereka. namun ini demi kebaikan Raja.
__ADS_1
" Oh Tuhan lindungilah mereka". batinku seraya berdoa, akhirnya pesawat pun tinggal landas meninggalkan kota Jakarta.
Di Rumah sakit suasana masih tegang karena Bu Ambar tiba tiba mengalami struk ringan, posisi bibirnya tidak lagi simetris.
Ceklek pintu di buka ternyata Rahma baru datang setelah tadi pagi mendengar kabar bahwa ibunya sakit diapun ambil penerbangan pertama tadi pagi.
" Bu kenapa jadi begini". tanya Rahma sedih melihat ibunya berbaring lemah.
Bu Ambar hanya bisa melihat putrinya.
" KA mu Ke Napa PU Lang Rahma?" tanyanya kepada Rahma dengan kata kata yang berbata - bata dan kurang jelas.
" Sudahlah Bu sekarang nggak usah mikir yang aneh - aneh biar ibu sembuh dan bisa cepat pulang ke rumah". Kata Rahma menyemangati ibunya.
" Ini semua gara - gara perempuan itu, awas saja jika aku sudah sembuh aku akan buat perhitungan". batinnya masih menyimpan dendam.
__ADS_1