
***
Tak terasa kini kandunganku sudah berumur sembilan bulan, hanya meninggal waktu melahirkan saja. Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah.
Mas Randi sudah mengutarakan keinginan orang tuanya bahwa kali ini ingin mengajak anakku tinggal bersamanya lagi. Ak
u sempat menolak dengan berbagai cara, namun lagi lagi aku tak berdaya. Aku terlalu lemah untuk itu . Aku hanya ingin menjaga pikiranku agar kewarasanku tetap terjaga sehingga aku bisa melahirkan nantinya secara mandiri.
__ADS_1
Aku juga tak bisa menolak karena mas Randi sendiri selaku kepala rumah tangga sekaligus ayah dari anakku saja setuju dengan permintaan mertuaku.
" Oh Tuhan beti aku kekuatan dan keikhlasan dengan cobaan ini yang datang silih berganti.
Mas Raja masih tetap kukuh dengan pendiriannya memberikan anak kedua kami kelak di asuh oleh kepada ibunya. Aku sebenarnya sangat kecewa dengan sikap mas Randi yang tidak tetap pada pendiriannya yang seolah tidak menghargai aku sebagai istrinya di mana aku yang mengandung sembilan bulan setelah lahir akan menyerahkan hak asuh kepada orang lain walau itu adalah nenek dari anakku. Bayangan beberapa tahun yang lalu terlintas lagi di benakku dimana Raja diambil paksa dari tanganku untuk di asuh oleh ibu mertuaku sendiri nenek dari anakku namun hati ini terasa berat untuk menerima kenyataan yang kedua kalinya.
Mas Raja memang tega, begitu juga dengan ibu mertuaku, di mana hati nurani mertuaku sebagai seorang ibu tega memisahkan ibu dan anaknya. Ini adalah kejadian kedua kalinya di mana aku pun belum melahirkan namun mereka sudah mengutarakan maksud dan tujuannya Tanpa menjaga perasaanku sebagai seorang ibu.
__ADS_1
" Kamu harus kuat, ini demi anak kita". Kata mas Randi masih bisa bersamaku sebelum kami berpisah untuk sederetan rangkaian operasi banyak pesan yang di sampaikan dengan tujuan memberikan aku support dan doa yang terbaik. Sehingga tibalah saatnya kami untuk berpisah karena perawat sudah mendorongku ke sebuah ruang di mana aku akan di operasi. Ada perasaan takut menyelimuti, aku merasakan situasi yang begitu asing, walaupun dokter dan perawatnya selalu bersikap ramah kepadaku. Rangkaian ritual persiapan operasi pun di lakukan aku hanya pasrah seraya berdoa agar aku dan anakku baik baik saja walaupun setelah ini kami akan berpisah. Tak sadar butiran bening pun mengalir dari sudut mataku.
" ibu yang sabar ya, yang kuat ya Bu" dapa salah satu dokter yang menangani ku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa bisa menahan air mata yang keluar begitu derasnya. Masih aku rasakan tangan seorang suster mengelap air mata dari pipiku seraya tersenyum memberi aku penguatan.
Hingga akhirnya aku sudah berada di sebuah ruang dimana aku dirawat. Dengan sisa tenaga dan ingatanku aku mencari keberadaan anakku.
" Mas anak kita". Kataku lemah kepada mas Randi. Lagi lagi dia hanya menggenggam erat tanganku lalu mencium keningku.
__ADS_1
" terimakasih ya, kamu sudah melahirkan anakku yang ke dua dia laki - laki, kali ini mukanya miri kamu kata mas Randi seraya menangis
"Aku minta maaf, karena ibu sudah membawa anak kita pergi sebelum kamu sadar. Kata mas Randi seolah tanpa bersalah dan berdosa dengan ucapannya yang begitu lancar dan blak - blakan tanpa memikirkan perasaan aku.