
Mas Randi hampir mengejar Dayu namun dia sadar ternyata ada aku bersamanya. Mas Randi menghampiriku dengan gelagat salah tingkah.
" Kalian kenapa di Sini, ibu dan bapak nyariin kalian". kata Rahma mengagetkan aku dan Mas Randi.
" Oh iya kami dari toilet, yuk". jawab Mas Randi berusaha setenang mungkin.
Sementara Rahma mencium aroma Aroma yang tidak sehat Dia tau betul jika terjadi apa - apa dengan hubungan kami terutama Mas Randi tidak bisa menyembunyikan rasa gugup, malu masih saja saja menyimpan rasa dengan wanita lain padahal aku ada di sampingnya, bagaimana jika aku tidak bersamanya tadi apa mas Randi akan tetap mengejar wanita itu.
" Ah" batinku.
" mbak ayok". Ajak Rahma seraya menarik tangan ku.
Aku pun berjalan mengikuti Rahma sementara Mas Randi mengikuti dengan santai.
Setelah sampai di mana ibu dan bapak mertuaku berada kami pun duduk.
Tak lama aku beranjak mengambil ice cream. ku ambilkan juga buat mas Randi.
" Mas ini ". seruku seraya berjalan mendekati mas Randi.
Di kamar mandi seseorang menangis hingga tak bersuara. Dia malu karena di cap sebagai pelakor.
" Aku tak habis pikir separah itu kah hidup dayu". batinku
"..Hai Ra ternyata kalian ada di sini ". kata Selfia menyapa Rahma.
" Hai Pa kabar kalian teman kuliah Rahma ya". kataku seraya cipika cipiki dengan mereka kecuali Mario dan Anjas.
" Mbak kita foto bareng Ya". ajak Selfia seraya mendekatkan tubuhnya begitu juga dengan dengan yang lainnya. aku turut bahagia melihat mereka bahagia. sesekali tataan kami bertemu.
" Tau apa yang ada di hati mas Randi ". batinku.
tak lama kemudian ada gadis seumuran dengan Rahma
mendekati dia adalah Jeni.
" Aku ikut dong".
__ADS_1
" Kalian payah nggak ngajakin aku". cecar JENI seraya menelisik ketempat dimana kami berada.
Setelah puas melakukan foto - foto bersama mereka pun duduk dekat makanan yang masih tersedia.
Tidak lama datang ibu mertuaku menanyakan Dimana keberadaan Dayu sebenarnya.
" oh iya Bu, tadi Dayu menuju ke Toilet .
" Entah mas Randi, ibu mertua semua masih peduli dengan Dayu.
" Bu ngapain sih ibu nanyain mbak Dayu di sini?" jawab Rahma kesal kepada Bu Ambar
" Itu tadi Bu Tika dengan mas Wisnu , katanya mereka udah mau pulang.
" Kase tau saja mereka Bu kalau Dayu ada di dalam kamar mandi sudah lama.
" Memangnya kenapa dengan Dayu kata ibu mertuaku entah penasaran atau karena pedulinya.
ibu mertuaku pun pergi ke tempat dimana Bu Atika dan pak Wisnu duduk entah apa yang dikatakan mereka langsung menuju ke toilet dimana Dayu berada.
Tok Tok Tok
lama Bu Tika menunggu tak ada juga yang membuka pintu dari dalam.
" Bu bagaimana ini kenapa Dayu tidak mau membuka matanya
" Apa dia baik - baik saja.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, mereka kaget yang keluar baikannya Dayu, namun yang keluar bukannya Dayu melainkan orang lain. Bu Tika kini akan menelpon seseorang di rumahnya untuk menanyakan apakah Dayu sudah di rumah atau belum.
Namun belum selesai mereka bicara muncul Dayu dari tempat lain berlama laki laki yang tidak aku kenal.
Bu Tika dan pak Wisnu pun buru buru menghampiri mereka sampai di hadapan mereka, Dayu kaget begitu pula laki - laki yang bernama Luki itu langsung gugup seketika melihat ibu mertuaku .
" Tunggu, ini ....." . kata ibu mertuaku terputus karena masih mengingat sepertinya beliau pernah bertemu tapi di mana.....
" Oh iya baru Aku ingat kamu kan iparnya teman kuliahnya Rahma siapa namanya...". kata mertuaku sambil mengingat ingat lagi.
__ADS_1
" JENI ya Jeni temannya Rahma. Kata Bu Ambar lagi membuat Bu Tika dan pak Wisnu heran tak percaya dengan uang di katakan ibu mertuaku.
" Tidak mungkin, mungkin Bu Ambar salah lihat atau salah orang ". kata Bu Tika sembari meneteskan air mata mengingat nasib anaknya jika benar Luki suami orang maka orang orang dimanapun berada akan mengecap Dayu perempuan tidak benar.
" Luki apa benar yang dikatakan bu Ambar barusan?" tanya pak Wisnu dengan emosi meluap - luap.
Bu Tika dan pa Randi langsung menarik kasar tangan Dayu.
" Tante, Om kami saling mencintai". jawab Luki tanpa merasa bersalah.
Seketika langkah mereka berhenti.
" HM hebat juga kamu bisa mengelabui mereka". Kata ibu mertuaku mengatai mas Luki yang masih terpaku berdiri sendiri.
" Cukup, lupakan anak ku". kata pak Wisnu dengan nada tinggi. dan melanjutkan langkah mereka. untuk pulang padahal baru menunjukan pukul sembilan tiga puluh menit.
ditempat tadi dimana masih ada Luki dan ibu mertuaku.
Ibu mertuaku tidak mau membuang kesempatan emas ini, terus saja mengoceh tanpa beliau sadari dari tadi aku berada di belakangnya. sekarang kalian leluasa ingin merubah semua keadaan mu, silahkan kata Tante utama yang akan merubah semuanya
setelah itu iya pergi lagi mengikuti kita tolong jauhi mobil kami.
Setelah mengikuti permainan tersebut Luki mengikuti langkah seseorang yang berjalan seorang diri, Bu Ambar tidak punya perasaan takut sedikitpun, kini langkahnya diikuti oleh seorang Luki.
"Bukannya orang tua ini yang ingin menggagalkan rencana ku tadi siang". batinnya seraya mempercepat langkahnya. Bu Ambar yang merasa langkahnya diikuti oleh seseorang segera menelpon Randi. namun tidak semudah itu, karena Randi tidak memegang handphone nya. Bu Ambar pun tak mau tinggal diam terus berusaha agar ada yang membantunya. memang kali ini di lorong dimana iya sedang berjalan sedang sepi tiada satupun yang berpergian.sungguh keadaan sangat mencekam.
" Kenapa sih nggak ada yang angkat. batin Bu Kumala seorang diri.
Luki yang merasa mangsanya sudah mulai ketakutan dia pun melanjutkan aksi berikutnya.
Iya melempar petasan ke segala arah agar mangsanya bingung. dan ketakutan. nah yang dilakukan Luki berhasil membuat Bu Ambar takut. beliau pun syok kaget lalu terjatuh.
"Hu rasakan itu siapa suruh ikut campurdengan urusan gue". kata Luki setelah sampai di depan Bu Ambar.
Iya pun segera pergi setelah menyadari ada seseorang yang sedang menuju ketempat di mana iya berada, Diapun segera bersembunyi di balik dinding.
" Ini kan Bu Ambar kata salah satu dari mereka setelah mendapatkan Bu Ambar tidak sadarkan diri. mereka pun mengangkat tubuh yang sudah lemas tersebut.
__ADS_1
" kita harus segera membawanya ke rumah sakit " . kata yang lainnya lagi . mereka pun dengan susah payah menganggap tubuh Bu Ambar yang sudah lemas lunglai tak sadarkan diri. untung saja dari tempat itu parkiran sudah tidak jauh. mereka pun masuk ke dalam mobil menuju ke rumah sakit .