Hargai Aku

Hargai Aku
"NASI SUDAH MENJADI BUBUR" POV: Rani


__ADS_3

Keadaan Randi benar benar kacau, malam pun telah tiba namun ia belum juga beranjak dari ruangan itu. ruangan itu seolah olah menjadi saksi bisu apa yang Randi alami saat ini.


Dia membuka galeri yang ada di benda pipihnya dan memandang foto seseorang yang sebenarnya sangat dia sayangi.


***


Ceklek


tiba - tiba ada yang membuka pintu membuat Randi sedikit terkejut.


" Tuan ada kabar bahwa nyonya Ambar saat ini sedang berada di rumah sakit". kata Aldo selaku Asistennya


" Kenapa dengan ibu, bukannya tadi keadaannya biasa biasa saja kenapa sekarang tiba - tiba ada di rumah sakit. apa maksudmu? tanya Randi penuh murka.


" Iya Tuan aku hanya berkata apa adanya, maafkan aku tuan jika sudah lancang.


" Ibu di rumah sakit mana?" tanya Randi pada asistennya.


" Permata indah tuan". jawab Aldo singkat.

__ADS_1


Randi pun berlalu melewati di mana asistennya berada. lalu menuju ke parkiran dimana mobilnya terparkir. Aldo hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat keadaan tuannya sekarang.


Sesampainya di rumah sakit Tandi langsung ke ruangan di mana ibunya di rawat.


Ceklek


pintu ruangan pun dibukanya di dapati ibunya sedang tertidur dengan infus dan selang oksigen di hidung, ada rasa iba di hati nya melihat keadaan ibunya seperti itu.


" ayah". Panggil Randi kepada ayahnya.


" Maafkan Randi yah". kata Randi lagi dengan raut wajah menyesal.


" Kanu tidak salah nak, ibumu hanya syok saja dengan keadaan ini kata pak Dani membohongi Randi. Pak Dani tidak ingin putra semata wayangnya itu banyak pikiran dengan adanya kejadian ini.


Dani sedih melihat keadaan anaknya seperti sekarang ini, ada perasaan bersalah di benaknya namun beliau tidak bisa berbuat apa apa seperti pepatah nasi sudah menjadi bubur itulah yang di alami oleh keluarga ini sekarang.


Dani mendekati Randi Bug terus memeluknya dengan erat, Randi pun demikian ada rasa nyaman disana, bebannya sedikit berkurang ketika ada di pelukan ayahnya.


Di kediaman Kusuma Wijaya sedang melakukan makan malam bersama

__ADS_1


"Ma kenapa ayah tidak juga datang menjemput kita". kata Raja penasaran.


" Sudah nggak usah sedih, nanti kalian pergi jalan - jalan ke Singapura ya dengan Oma". Kata eyang dengan semangat dan senyum lebar. sementara eyang putri hanya tersenyum menanggapi.


" Kita perginya bareng papa kan Eyang?" tanya raja lagi membuat aku seketika menjadi sedih.


" OOO kali ini tidak, kalian bertiga saja tanpa papa, nanti kalau papamu sudah tidak sibuk, pasti akan menyusul kalian nanti". Kata eyang penuh semangat.


" Iya sudah, sekarang Raja ke kamar ya sama bibi. ada yang ingin Eyang bicarakan dengan mama". Kata eyang membujuk raja, tanpa waktu lama Raja pun beranjak menuju ke kamarnya.


" RAN" Kata eyang kemudian memecah keheningan.


" iya opa". jawab ku tersentak karena sedikit melamun memikirkan mas Randi.


" buatkan Opa kopi ya lali bawa keruang tv, ada beberapa yal yang ingin eyang ungkapkan. kata eyang sambil tersenyum menatapku.


" Oma juga Ran". Kata Oma juga ikut menimpali.


" oh iya Oma, Opa". jawab Rani singkat.

__ADS_1


Selesai membuat kopi, Rani pun pergi ke ruang keluarga Tak lupa pula membawa cemilan ringan yang iya beli di supermarket dimana aku singgah beli tadi ketika kami lewat.


" Wah lihat cucu Oma, semakin cantik deh'. kata Oma menggoda ku.


__ADS_2