Hargai Aku

Hargai Aku
" PERPISAHAN"


__ADS_3

Tiba - tiba mulutnya ada yang menutup dan tangannya di tarik agar menjauh dari tempat tersebut.


Sesampainya di tempat aman Anjas pun melepas tangan Jeni.


" Ih kalian ngagetin aja tau gak sih". kata jeni kesal seraya merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan.


" Lho ngapain tadi?" tanya Anjas pura pura tidak tau dengan apa yang dilakukan Jeni, karena Anjas tau siapa Jeni dan siapa Luki, hanya Selfia yang tidak tau Luki dan hanya Jeni yang tidak tau Siapa Dayu itu.


" kalian yang kenapa, bisanya ngancurin rencana gue". kata Jeni dengan nada ketus dan kesal dengan dua sahabatnya itu. baru saja dia akan berhasil membuka kedoknya siapa sebenarnya bang Luki, namun keburu teman temannya menggagalkan rencananya, Jeni kesal sekali.


" yuk kita pulang". ajak Anjas kepada Jeni dan Selfia.


" yuk jawab Selfia antusias, namun beda dengan Jeni, di nampak bingung.


" Udahlah Jen, lihat wajah kamu tuh udah mulai keriput karena pancaran sinar matahari". kata Anjas mengalihkan pembicaraan.


" Iya deh aku ikut pulang". kata jeni kemudian karena memang sudah lelah.


Akhirnya mereka bertiga pun pulang dengan pemikiran masing - masing


Dayu dengan Luki masih asyik bercengkrama dan wajah mereka pun sudah kelepotan ice cream.


" Terimakasih ya udah nemenin aku hari ini". kata Luki diiringi dengan senyum termanisnya.


" Iya sama - sama, aku juga seneng kok bisa nemenin kamu jalan - jalan hari ini, dari pada aku di rumah juga nggak ada kerja, bosen banget pokoknya":kata Dayu tak kalah ."


" Oh iya ini sudah jam empat lho, apa Tante sama om nggak nyariin kamu mas, kasian mereka". kata Dayu sambil mengembangkan sedikit senyumnya.


" terimakasih ya kamu perhatian banget sih". kata Luki seraya mencolek dagu Dayu.


" mama sama papa sudah pulang dari tadi kok di jemput sama sopir aku". kata Luki menjelaskan.


". ooo" kata Dayu singkat seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Kita sekalian nungguin pemandangan tenggelamnya matahari ya, kamu nggak apa - apa kan? tanya Luki karena tau bahwa Dayu punya hobi kesini sekedar melihat matahari tenggelam tanpa di ketahui Dayu dia dapat info dari Bu Saras namun Bu Tika yang memberi tahu.


" iya mas nggak apa apa kata Dayu tersenyum.


" wah idaman banget belum apa apa dah tau apa yang aku suka". batin datu lalu tersenyum ke arah Luki.


Di kediaman pak sami, semua sibuk bercengkrama sambil menikmati rebusan jagung dan sambal kelapa yang begitu menggugah selera.


" Ayok, kasi habis jagungnya, besok sudah tidak ada lagi". kata ibu Salma bercanda .


"jagungnya enak, jadi ingat masa - masa dulu, di mana sulit untuk memperoleh segenggam beras, jadi hanya jagung satu - satunya pengganjal perut agr tidak mati kelaparan". kata pak sami panjang lebar, dan sesuai dengan keadaan.


" betul itu pak sami, jawab pak Dani yang masih berstatus mertuaku.


" Makanya jangan malu - malu makannya, nanti sudah tidak ada lagi" ibu ikut menimpali sambil tertawa.


tak terasa tibalah saatnya perpisahan antara Rani dengan kedua orang tuanya.


" Bu, Pak, aku pamit ya". Seru Rani hampir tak terdengar karena menahan tangis enggan untuk berpisah.


" wi mbak pergi dulu ya jaga bapak dan ibu baik - baik " pesan Rani sambil berpelukan tanda perpisahan.


" Nek, kakek, Tante Tiwi, Raja pulang dulu ya, kalau mama dan papa punya waktu luang, pasti mereka ajak Raja main ke sini lagi. kata raja membuat air mata mereka berjatuhan, Bu Salma, pak sami dan Tiwi hanya bisa menganggukkan kepala lalu ketiganya memeluk raja penuh dengan kasih sayang


nama - nama mereka sudah di panggil, semua melambaikan tangan tanda perpisahan.


Raja melambaikan tangan kearah mereka setibanya di atas pesawat. mereka pun membalas lambaian tangan raja penuh haru.


Di kampus Rahma senyam senyum sendiri sambil menyimpan kembali handphone nya di dalam tas.


" Rasanya ingin cepat pulang ke rumah saja". batinnya setelah menerima telepon bahwa mereka sudah sampai.


" Oiiii kenapa lho senyam senyum sendiri kayak habis kesambet aja". sapa Mario kepada Rahma yang dari tadi melamun.

__ADS_1


" Ah e Lo gangguin aja kerjanya, nggak bisa apa lihat gue lagi seneng dikit". jawab Rahma sambil ngeloyor kepala Mario asal karena kesal nya.


" Btw kenapa sih lo?" tanya Mario masih penasaran.


" GU lu jawab Rahma asal lalu pergi meninggalkan Mario sendirian menuju ke kantin.


" Ra tungguin gue dong, Lo belum jawab pertanyaan gue". kata Mario menarik tangan Rahma.


" Hehehe, nggak ada apa kok, hanya kabar nyokap gue udah sampai di rumah barusan mbak Rani ngasi gue info.


"OOO". gue kira apa jawab Mario kesal.


" Heh kalian dari mana saja hah dari tadi juga di tungguin". sapa Selfia disaat Rahma dan Mario sudah sampai di kantin.


" Sorry booo, tadi gue Nerima telpon dari nyokap dulu". Kata Rahma menyahuti.


" Tuh Gue dah pesan, sorry ya Ma Lo nggak ada bilang apa apa mana tau gue kalau Lo masuk kampus hari ini. kata Selfia kepada Mario ada perasaan bersalah, mau pesan tanggung karena dikit lagi udah mau masuk kelas.


" Udahlah ma, kita join aja". kata Rahma ngajak Mario makan sepiring berdua. hal itu sudah biasa mereka lakukan begitulah keakraban mereka ketika ada di kampus atau dimanapun berada dalam situasi ngumpul.


selesai makan dan ngobrol dikit mereka pun masuk ke kelas.


Di kediaman pak Dani setelah semua beres habis bersih bersih mereka pun kumpul diruang keluarga. Tuan Wijaya dan Bu Kumala pun sudah ada di tengah - tengah mereka.


Raja yang dari tadi ada di pangkuan eyang putrinya pun di ambil alih oleh bi Minah agar bermain di halaman belakang dan tidak mendengar percakapan orang dewasa, karena tidak baik untuk pertumbuhan mentalnya.


" mi, mami apa kabar tanya bibi Ijah memecah sekaligus menyapa mertuanya.


" Mami, seperti yang kamu lihat nak ". seperti biasa Bu Kumala selalu bersikap ramah kepada siapa saja. apalagi dengan bibi Ijah. bibi Ijah merupakan menantu kesayangan Bu Kumala. karena bibi Ijah selalu menurut apa kata Bu Kumala memang sesuai dengan jalur yang ada. bukan karena faktor pilih kasih. seperti kata kata yang selalu di ucapkan oleh ibu mertuaku yang selalu menganggap Oma pilih kasih padahal itu tidak benar.


" Terimakasih ya, sekarang papi boleh ya bicara". kata opa membuka pembicaraan kali ini. pak Dani dan om Danu pun hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan tuan Wijaya.


ibu mertuaku hanya mendelik sebal melihat keakraban bibi Ijah dengan Bu Kumala selaku mertua mereka. bibi Ijah berhati keibuan sementara ibu mertuaku sifatnya masih kekanak kanakkan.

__ADS_1


__ADS_2