Hargai Aku

Hargai Aku
POV : Jeni


__ADS_3

" Mas aku mau keluar sebentar ya?" pamit Tari kepada Luki.


" Memangnya kamu mau kemana sayang?" tanya mas Luki tetap dengan nada bicara yang lemah lembut seperti biasa.


" Kebetulan ada Jeni Mas yang temani aku.


" iya kan Jen??"


" aku pun hanya menganggukkan kepala.


" Ya Sudah, hati - Hati ya". pesan mas Luki seraya memeluk pinggangku lalu mengecup keningku.


" Assalamualaikum Mas ". ucapku sembari berlalu pergi bersama Jeni


" Alaikum Salam". sahut mas Luki.


Aku dan mbak Tari pun berjalan keluar rumah sampai di teras ternyata sudah nampak sebuah taksi online menunggu kami, kami pun buru - buru segera naik. taksi pun berlalu meninggalkan rumah Mbak tari sementara mas Luki sendirian di rumah.


Sesampainya ditempat tujuan kami pun turun. kami hanya pergi ke taman kota, rindu sudah lama kami tidak ke tempat ini, sejak mbak Tari nikah kami jarang bertemu dan jalan - jalan bersama lagi.


Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman. akhirnya kami pun mendapatkan apa yang kami mau. begitu duduk kami pun memesan minuman dan beberapa cemilan untuk menemani kami ngobrol.


" Memangnya kamu mau ngomong apa Jen?" Tanya mbak Tari memecah keheningan.


" Mbak, Mas Luki sayang banget ya sama mbak? tanyaku pada mbak Tari, namun mbak tari hanya tersenyum, senyum yang sangat sulit diartikan.


" Begitulah Dek, makanya kamu nanti kalau cari pasangan usahakan orangnya menerima kita apa adanya dan penyayang". kata mbak tari dengan lancarnya.


" Insya Allah kak". doaku semoga harapan begitu adanya.


" Eiiit kuliah dulu yang benar, baru macem - macem seperti biasa mbak tari menasehati dengan gaya khas nya.


" Nggih Dor Ooo Ha ha haha ". kami pun tertawa terbahak.


" Ah padahal tadinya ngajak mbak Tari kesini mau kasi lihat foto itu, kenapa aku nggak tega ya menghancurkan kebahagiaan mbak tari, belum tentu juga yang aku lihat itu begitu adanya". Batinku.


" Oh iya Dek, Tadi kamu bilang kamu mau bicara penting sama mbak, ayok ngomong toh dek. kata mbak Tari mendesak aku.


" Oh iya. Mbak masih ingat kan dengan mas Randi suaminya mbak Rani


" iya mbak tau, ada apa dengan mereka Dek?" tanya mbak Tari penasaran.


" mbak tau mereka hampir saja cerai". jawabku singkat.


Namun karena kekuatan cinta mereka, mereka bersatu lagi.

__ADS_1


" Wah seperti cerita - cerita di novel iya Dek, seru, mbak turut senang mendengarnya.


" Iya mbak tradisi tidak boleh di hilangkan kebiasaan tanggung.


" Bagaimana kabar mereka Dek?" Tanya Tari antusias.


"sekarang mereka baik - baik saja mbak". jaWab ku Singkat.


Di Kampus Mereka pada nongkrong di sebuah kafe yang ada di sekitar kampus.


" JENI kemana ya hari ini nggak masuk kuliah.


" Tau, sama gue juga nggak ada kabar". Anjas ikut menimpali.


" ya udah sebentar aku rencana mau kerumahnya sekalian ngasi ni tugas ke dia biar besok dah kelar". ujar Selfia.


" Aku ikut ya Sel". rengek Mario seperti biasa tak mau ketinggalan jika mengatakan ke rumah Jeni.


" Iya - Iya bawel" . jawab Selfia berkelakar.


" gue ikutan juga Ah". sahut Anjas menimpali


" Ah Lo nggak usah ikut" nntar habis semua makanan Jeni Lo bikin malu gue aja". ucap Selfia pada Anjas. teman teman yang lain pun semuanya tertawa bersorak Sorai sambil menunjuk Anjas.


akhirnya mereka pun sampai di rumah Jeni.


" Siang Tante". Ucap Selfia memberi salam mewakili teman - temannya.


Terdengar suara sendal mendekat.


" E E kalian, sini - sini kata Tante sila sembari menunjuk jalan kepada kami agar mengikuti nya.


" Hei kalian apa kabar?" suara laki laki menyapa itu om Vito.


" Kabar baik om' ucap kami hampir serempak.


Tante Sila dan Om Vito adalah orang tua Kandung Jeni. bapak Jeni dua orang bersaudara, keduanya laki Laki saudara laki laki om Vito adalah om Rama. om Rama itulah orang tuanya Tari.


" Wah Om kok tau aja kalau kami lagi lap.....


belum selesai bicara tangan Anjas di selaber sama Selfia.


" Ayuk duduk kok pada bengong". kata Tante sila yang datang membawa piring untuk kami.


Ayok sekalian kita makan siang bareng. JENI biar saja tidak makan siang bareng kita hari ini, dia kan ada sama kakaknya. katanya lagi kangen". kata Tante sila yang sudah menjawab pertanyaan kami tanpa kami ucapkan, kami pun pura pura tau akan hal itu.

__ADS_1


" OOO iya Tante memang Jeni kalau sudah ketemu mbak Tari lupa kacang akan ku....UPS maaf Tante maksud aku lupa segalanya termasuk kami, Dia sudah lupa kalau kami harus datang siang ini.


" Harap maklum aja ya nak" kata om Vito menampakkan wajah yang sedih sesaat.


" Ayuk kenapa pada melamun, dimakan do g makanan nya.


Kembali ke taman dimana Jeni dan tari berada.


" Mbak mungkin berapa hari kedepannya aku belum bisa kuliah.


Tari tersendat kaget mendengar pernyataan kau


" Memangnya kenapa De, apa kamu ada masalah di Kampusmu, dengan Temanmu?"


" Coba ngomong yang jelas dong." kata mbak Tari sangat jelas dan tegas.


" Kenapa De?" tanya mbak tari lagi.


" nggak ada kok mbak, semua baik - baik saja. kataku menjelaskan


" semoga mbak tari nggak tau kalau aku boros hari ini.


" Kamu itu kuliah yang bener Dek, jangan macam mbak gagal karena tergila - gila dengan laki - laki". kata Mbak tari dengan mata sayu.


" mbak masih bisa lanjut kan, mbak masih muda, kalau mbak mau". kataku meyakinkan.


" Tidak Dek mbak udah terlanjur, mbak mau fokus sama keluarga saja sekarang, apalagi mbak lagi ikut program hamil, Doakan mbak ya Dek, biar mbak dan mas Luki berhasil kali ini". ucap mbak Tari dengan semangatnya.


" Pastinya dong kak". kataku seraya memperlihatkan tangan jempol ke arah mbak tari. Akhirnya kami pun berpelukan setelah sekian lama tidak melakukannya karena efek Corona.


" Dek udah sore kita pulang yuk". ajak mbak Tari untuk pulang bersamaku.


" Ayuk" jawabku sambil meminta tagihan, setelah selesai kami pun mencari taksi online yang sudah parkir menunggu kami.


Taksi yang kami tumpangi pun melaju di keramaian membelah jalanan, hanya butuh dua puluh menit saja kami sudah sampai di rumah mbak Tari.


" Mbak aku nggak singgah lagi ya, aku mau langsung pulang. pintaku seraya melakukan cipika cipiki, setelah itu mbak Tari pun turun dari mobil.


" Bye....". aku melambaikan tangan dibalas oleh mbak tari akhirnya mobil pun berjalan menuju jalanan yang lain. butuh waktu dua puluh menit juga aku sudah sampai di rumah.


Aku dapati mereka lagi santai makan buah yang mereka petik di sekitar pekarangan rumah.


" Assalammualaikum". sapa ku mengucapkan salam seraya berdoa.


" Alaikum Salam, jawab mereka serempak.

__ADS_1


__ADS_2