
Pak sami dan Bu Salma pun terkejut dan segera menoleh ke arah datangnya suara, dengan segera mereka menyeka air matanya masing - masing agar tidak terlihat oleh Rani, namun sudah terlambat. ibu pun tersenyum getir melihat siapa yang datang.
" Nak kamu belum tidur sapa bapak mencairkan suasana.
" Iya kenapa belum tidur nak, ini sudah larut". kata ibu menimpali.
" Aku tadinya mau ke dapur Bu, tapi aku mendengar suara ibu dan bapak, maaf jika aku mengganggu kalian". kataku merasa bersalah karena sempat mengganggu bapak.
" Sini nak" kata bapak sembari menunjuk kursi kosong di antara mereka berdua untuk duduk.
Aku teringat ketika aku masih kecil, ibu dan babak sangat menyayangiku, walaupun setelah empat tahun, ada Tiwi, kasih sayang ibu tak pernah berubah sampai sekarang. perasaan yang sama yang dirasakan oleh pak salam dan Bu Salma mengingat sangat memanjakan Rani dari kecil. namun Rani walaupun di manja Dia tetap jadi anak yang patuh pada orang tua, dari kecil rajin dan taat beribadah. Rani terpaksa tidak lanjut sekolah ke perguruan tinggi karena keadaan keluarga yang tidak memungkinkan. namun Rani memiliki tekad yang kuat agar adiknya Tiwi bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi dan akhirnya cita citanya pun terwujud Tiwi kuliah di sebuah akademi kesehatan yang ada di Jogyakarta. mengambil jurusan apoteker dan syukur sekarang sudah bekerja bisa membantu menopang kehidupan keluarga.
nah Tiwi banyak menjadikannya teladan dikalangan kampus maupun kalangan masyarakat. termasuk Rahma sangat mengagumi sosok Tiwi yang begitu ulet dengan keadaan pas Pasan Tiwi bisa menyelesaikan studinya dengan baik dan meraih gelar Komelaut . namun Tiwi tidak pernah sombong, tetap rendah hati dan mau menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongannya..
" Bu, pak... terimakasih ya karena kalian tetap ngertiin aku". kataku pada bapak dan ibu.
" Apa sih ndok yang kamu bilang?" kata ibu,
__ADS_1
" kami ini orang tuamu, siapa lagi yang ngertiin kamu kalau bukan kami". kata bapak menimpali.
Mereka pun memelukku erat. aku teringat masa kecilku jika dalam keadaan seperti ini. aku paling takut yang namanya petir. jika ada petir bapak dan ibu langsung memelukku seolah - olah melindungi ku dari suara petir.
" Kamu yang sabar ya, ini namanya suratan takdir yang harus kamu jalani dalam bahtera rumah tangga.selalu memohon pada Allah agar terlindungi dari hal - hal yang tidak tita inginkan". kata ibu panjang lebar.
"" Sekarang kamu istirahat ya, bapak dan ibu juga mau istirahat". kata bapak sembari bangun dari tempat duduknya lalu pergi ke kamar. Rani pun ke dapur untuk mengambil air minum setelah itu Ia pun pergi ke kamar untuk istirahat.
Keesokan harinya
" Dasar orang kampung ya tetap kampungan". keluh Bu Ambar sampai di halaman rumah Rani.
" Biar saja pak, ibu kesal banget sama mami apa apa harus di kut maunya".. kata Bu Ambar masih mengomel dengan kesalnya.
" Selamat pagi pak, Bu". Sapa ibu - ibu yang kebetulan lewat depan rumah Rani.
" selamat pagi". jawab pak Danu dengan ramah sedangkan ibu memasang muka juteknya membuat para ibu - ibu senewen melihatnya.
__ADS_1
" Ih amit Amit kok Rani dapat mertua macam itu ya". kata salah satu ibu ibu dengan bisik - bisik namun di dengar juga oleh Bu Ambar.
" Heh Awas ya kalian ngata - ngatain saya". kata Bu Ambar sambil melotot kearah ibu ibu yang numpang lewat.
" Aduh Bu Lili gawat nih aku ke keceplosan ngomongnya tadi, bagaimana ini kata ibu Lela merasa khawatir.
" Tidak usah di ladeni Bu kita kan cuma numpang lewat". kata Bu Lela menenangkan Bu lili.
pintu rumah terbuka.
". Eh Bu, pak, sudah lama ya sampai ya
" Eh....
Bu Ambar mau bicara banyak di halangi oleh pak Dani.
" Jangan bikin malu bapak, Bu ini di kampung orang". kata bapak menekankan.
__ADS_1
" Eh ada Bu Lela dan Bu lili juga ya, ada bisa di bantu Bu
" oh nggak Bu Salma kebetulan kami lewat sekalian cari eee ternyata Mereka yang duluan ngata - ngatain kami.