Hargai Aku

Hargai Aku
" PILU" POV : Rani


__ADS_3

" RAN kamu dari mana aja sih kok baru jenguk ibu lagi?"


" Maaf Bu kalau Randi buat ibu Khawatir dan mikir yang nggak - nggak, berapa hari ini Randi hanya ingin menyendiri Bu, Randi Hanya di rumah kok Bu nenangin diri Randi.


Bu Kumala mendengar pengakuan cucunya hatinya bagai tersayat sembilu namun beliau berusaha menahan agar nampak baik baik saja di depan mereka. begitu juga halnya dengan tuan Wijaya, di hati mereka menangis menyaksikan keadaan cucunya seperti sekarang ini, namun mereka tidak bisa berbuat apa apa demi memberikan


efek jera kepada Randi maupun ibunya, yang selalu ingin bertindak tanpa mempertimbangkan baik buruknya terlebih dahulu, mereka sudah sepakat hanya sekali ini saja mereka ikut campur terlalu dalam dalam rumah tangga cucunya karena menurut mereka ini sudah kelewatan. dan apa yang di alami oleh Randi pun di ketahui nya karena ada anak buahnya yang di perintahkan untuk mengawasi setiap gerak gerik Randi namun mereka terpaksa menahan diri hanya diam namun tetap berdoa agar cucu - Cucu mereka selalu di beri hidayah keselamatan kesabaran, serta kekuatan dalam menjalani masa - masa sulit ini.


untuk selanjutnya beliau hanya akan membimbing dan mengarahkan saja seperti biasa selebihnya terserah mereka bagaimana menjalaninya itulah niat tuan Wijaya dan Bu Kumala.


" Kamu cepat sembuh Ambar, kuatkan hatimu, kasian anak anakmu. mami sama papi mau pulang dulu". kata Bu Kumala seraya berpamitan.


sementara yang di beri support hanya mendelik saja dengan sebal.


Bu Kumala dan tuan Wijaya sudah matang dengan sikap menantunya seperti itu mereka tidak mau ambil pusing, mereka pun pamit dan keluar dari ruangan ini di ikuti oleh pak Dani.


" mami dan papi hati hati ya". kata pak Dani kepada kedua orang tuanya mereka pun berusaha tegar menghadapi dan berusaha senyum untuk memastikan bahwa mereka baik baik saja.


Sesampainya di rumah, Tuan Wijaya langsung keruang kerjanya di ikuti oleh Bu Kumala.

__ADS_1


mereka pun menangis sesenggukan sambil berpelukan. tangis ini dari tadi ditahan nya akhirnya keluar juga. hati mereka begitu lembut untuk memberikan hukuman. yang di hukum tersiksa namun yang lebih tersiksa adalah hati mereka berdua.


" semoga Tuhan memberikan mereka Hidayah Nya ya Mi". kata Tuan Wijaya yang sudah mulai tenang. Bu Kumala menanggapi hanya menganggukkan kepalanya.


" Amin ". Batinnya.


Setelah semua tenang mereka sepakat akan melaksanakan solat sebelum tidur, mereka pun beranjak dari kursi untuk keluar. namu baru membuka pintu....


" Maaf Tuan, Nyonya. jika saya mengganggu dan lancang, saya hanya memberi tahu tadi non Rani ada memangil katanya ada yang penting ingin di bicarakan, begitu tuan, nyonya". kata bi Surti sambil menunduk hormat kepada tuannya.


" Oh iya bi, terimakasih, sekarang bibi boleh istirahat". jawab Bu Kumala menanggapi dengan senyum dan lemah lembut walau mata mereka nampak sembab.


Di Singapura, menunjukan waktu dini hari, Aku Pun tak lupa melaksanakan kewajibanku untuk melakukan solat subuh dan berdoa. setelah itu aku beranjak ke kamar Raja, seperti biasa Raja tak pernah dibangunkan ternyata Dia pun habis melakukan hal yang sama dengan ku dan baru selesai juga


"Good morning mommy" sapanya dengan bahasa Inggris. tak dirasa sudah dua bulan kami di Singapura, Raja pun telah fasih berkomunikasi dengan sesama teman dan gurunya menggunakan bahasa Inggris.


" pagi sayang ". jawabku seraya mencium kening Raja, entah mengapa tiba - tiba iya memelukku.


" Ma...., Papa.... ". Raja menangis sesenggukan di pelukanku. rasa pilu hati ini tak tertahan kan.

__ADS_1


tak terasa aku pun ikut meneteskan air mata.dan membalas pelukan anak kecilku ini namun kadang memaksanya untuk berpikir dan bertindak dewasa seperti kata - katanya ingin menjagaku dan melindungi ku.


" anak mama tidak boleh cengeng". kataku sembari menghapus air mata agar tidak nampak menangis pula hingga membuat Raja tambah sedih dan mungkin Rapuh.


" Sudah dua bulan lebih kita disini ma, tapi papa jangankan jemput kita, nelpon kasi kabar pun tidak. dan anehnya semuanya seperti itu apakah mereka tidak sayang sama kita lagi ma?" tanya raja yang membuat hati ini semakin sakit dan pilu.


hati wanita mana yang sanggup melihat anaknya dalam posisi seperti sekarang ini.


" usssst jangan bicara begitu sayang. buktinya mereka memberikan kita liburan dan bersenang - senang di sini memangnya Raja selama ini tidak menikmatinya?'" goda Rani pada anaknya agar tetap semangat.


" Tapi tidak seru ma, kalau tidak ada Papa". kata Raja lagi yang mampu membuat Rani tersendat karena kaget dengan kata - kata Raja. Dia tidak sanggup jika ini jadi kenyataan harus bercerai dengan Randi bagaimana nasib raja kedepannya.


Rani menggeleng- gelengkan kepalanya.


" tidak sayang, papa akan menjemput kita disini, Raja yang sabar ya mungkin papa hanya masih sibuk saja hingga belum sempat menyusul kita kesini". kata Rani berusaha menghibur Raja.


" Iya ma". Raja pun menganggukkan kepalanya sembari menunjukkan senyum termanis nya walau masih ada sisa air mata di pipinya.


" Nah ini baru anak mama yang jago dan ganteng. "kata Rani sembari menghapus air mata raja dan menciumnya." sekarang kita sarapan yuk kan Raja ada les musik ya hari ini". Ajak Rani. kami pun menuju meja makan dan sarapan berdua saja biasa sesekali di temani bibi Maria kalau tidak sibuk.

__ADS_1


__ADS_2