Hargai Aku

Hargai Aku
" MEMANAS MANASI KEADAAN".


__ADS_3

" Kenapa juga kau selalu membela perempuan itu, perempuan itu tidak pantas untuk anak kita walaupun Dayu sudah menikah setidaknya masih banyak lagi wanita di luaran sana yang lebih pantas untuk nya" batin Bu Ambar dengan kesalnya.


" Bu, Bapak berangkat dulu ya". kata pak Dani berpamitan kepada istrinya.


" Ingat pak siangnya pulang, antar aku jalan - jalan ke mall. sudah lama aku tidak shopping". kata Bu Ambar lagi mengingatkan suaminya.


" Iya Bu, bapak masih ingat kok". kata pak Dani sambil berlalu menuju ke parkiran mobil lalu mobil melaju keluar dari halaman rumah.


" ibu...".


"Apa aku tidak salah dengar, ibu bilang apa tadi ke bapak". kata Rahma dengan senyum nakalnya.


" Kau dari mana saja jam begini baru pulang?" tanya Bu Ambar dengan kesalnya.


" Dari hotel lah Bu". jawab Rahma dengan santai tanpa beban.


Rahma baru pulang dari hotel, semalam dia jadi menginap dengan teman - temannya.


mobilnya sengaja di berikan kepada temannya yang bawa karena kepalanya masih sedikit pusing. namun sampai di pintu pagar rumah Rahma berhenti dan memilih untuk menyelinap sembunyi sampai bapaknya benar - benar pergi karena takut sang bapak akan menceramahi ya.


" Sejak kapan kamu jadi begini Rahma ". kata ibu menelisik kenapa Rahma sampai pulang pagi, pergi pagi atau sebaliknya.


" sudahlah Bu, kan Rahma mau jadi wanita sukses. elak rahma kepada ibunya


dan ibu Rahma semakin membuat Bu Ambar marah dan kesal.


": sudah lah ibu kan sudah Tua mending ibu kurangi saja marah- Marahnya . kata Dayu tanpa beban.


" Tapi ibu setuju kan sebentar ajak aku salon, ke mall". Iya mama setuju Tapi pulang bapak dari kantor ya.


" Bu.....". ibu tidak sarapan?" Tanya Rani yang sudah berada di meja makan dengan Randi.


namun Bu Ambar jangankan menyahut, menoleh saja.


"Iya Bu sini kita sarapan bersama". Randi menimpali Bu Ambar dengan dengan senyum simpulnya.


Kamu udah siap ran?" tanya mas Randi.


" ya sudah siap" jawab Rani mencairkan


" Sebentar saya dan Rani mau kekantor".

__ADS_1


"ngapain kamu ke kantor?" tanya Bu Ambar dengan sinisnya.


"Ada yang aku ingin bahas ke bapak Bu". jawab mas Randi lembut.


Mereka pun selesai sarapan, Randi dan Randi segera berpamitan kepada ibunya di ikuti oleh Rani.


" Kami pergi dulu". pamit Randi.


Iya kami berdua akan singgah dikantornya bapak.


Mereka pun akhirnya berlalu keluar dari rumah.


Di kediaman Wira Atmaja terdengar hiruk pikuk anak anak bermain dengan bahagianya dia adalah raja. sejak pulang dari Bandung raja dijemput oleh eyang Kakung dan di bawa ke kediaman tempat tinggal mereka.


" Eyang putri aku boleh pulang kan hari ini? " tanya raja dengan polosnya.


" Iya dong sayang, nanti kapan kapan kalau raja ada waktu Eyang putri jemput lagi ya". kata eyang putri dengan ceria sesungguhnya beliau tidak mau dan tidak ingin berpisah dengan cucu buyutnya.


waktu berlalu begitu cepat seminggu sudah raja bersama Eyang Kakung dan Eyang putrinya.


pak Atmaja dan ibu sari adalah orang tua dari pak Dani, Randi adalah cucu laki laki satu satunya. lalu ada raja buyut laki - laki satu - satunya yang akan mewarisi kekayaan mereka.


Pak Atmaja dan ibu sari sangat menyayangi kehadiran Rani ditengah tengah anggota keluarga mereka. apalagi Rani bisa memberikan buyut laki - laki untuk mereka. mereka sangat bahagia dan menyayangi Rani. apalagi Rani tergolong wanita yang baik, mandiri dan dewasa. berbeda dengan mantunya ibu mertua rani.


Randi mengikuti sifat ayahnya, namun mudah sekali dipengaruhi atau di panas panasi dengan keadaan yang bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri.


"Assalammualaikum" sapa Randi begitu sampai di rumah omanya.


" Waalaikumsalam"; jawab Bu sari dan pak Wira bersamaan.


" papa......". pekik raja dengan bahagianya.sembari berlari kecil dimana Rani dan Randi berdiri.


" Hei hati - hati sayang aduh cicit Eyang sudah ada yang datang menjemput rupanya". goda Eyang putri terhadap cicitnya.


Randi menyabut kedatangan raja seraya mensejajarkan tingginya dengan raja biar bisa berpelukan.


" Wah anak ayah ternyata sudah Dede Eyang ya ". Gelak Randi kepada raja.


" Tapi papa kangen juga kan???kata raja menggoda ayahnya.


Semua orang yang ada di rumah itu tertawa lepas dan bahagia.

__ADS_1


" Maaf ya Oma kami baru datang menjemput Raja". kata Rani mencairkan suasana.


" Tidak apa apa kok sayang".


Justru kalau kamu nggak bawa dia lagi Oma justru makin senang.


" Kalian kayaknya sibuk terus, jangankan mau buat anak, pehatian ke Raja saja ibu perhatikan kurang.


" Randi kapan sih kamu ngasi adik buat raja".


" Bagaimana mau ada ada anak mi toh mereka tak seranjang tidurnya mi". jawab Ambar tanpa beban, dan tanpa dosa.


Randi dan Rani sambil bertatapan


Setelah Rahma berseteru dengan Bu Ambar tadi mereka mengikuti kemana Randi dan saat


padahal Rancana mereka hari ini shoping, namun tidak jadi.


akhirnya mereka mengikuti kemana mobil Randi pergi.


"Mami harus tau bahwa Rani sudah tidak subur lagi untuk memberikan aku cucu".


" Bahkan Rani sudah mengikat kandungannya mi, biar dia nggak bisa punya anak lagi". kata ibu panjang lebar.


lagi - lagi Rani di buat terkejut oleh ibu mertuanya yang seolah olah memanas manasi keadaan agar Oma benci sama Rani.


" Bu kenapa ibu bicara seperti itu pada istriku?". tanya Randi bingung


" Alah, sudahlah kak tidak usah deh selalu menyimpan kebusukan Kakak ipar depan Oma." kata Rahma setelah sekian lama tidak muncul di kehidupan kami atau kami yang peduli sama dia


Ibu tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi mertuanya saat ini sepertinya akan ada yang terusir kali ini.


" Kamu pikir kamu siapa?" batin ibu merasa rencana memanas manasi keadaan akan berhasil hari ini dan berharap ibu mertuanya akan mengusir Rani secepatnya dari kehidupan Wira Atmaja.


" Rahma jangan sembarang kalau kamu bicara". kata Oma tegas kepada ibu mertua dengan lemah lembut.


" aku sudah tidak perduli la melahirkan anak atau tidak aku sudah tidak peduli yang penting mereka bahagia". kata Bu sari panjang lebar.


" Dan kamu kalau hanya kesini memanas manasi keadaan disini mending kamu pulang". kata ibu penuh penekanan.


" Nak sebaiknya kamu pulang saja urus kehidupanmu". akhirnya pak Wira juga ikut bicara.

__ADS_1


" Papi usir aku". tanyanya dengan mata memerah karena menahan emosi.


" Menurut kamu?" pak Wira bukannya menjawab pertanyaan dari menantunya melainkan bertanya kembali dengan senyum menyeringai penuh kemenangan karena beliau sangat tau bagaimana menghadapi menantunya yang selalu bermuka dua ketika datang berkunjung kerumahnya.


__ADS_2