
Ketika berpamitan kepada teman temannya, Selfia bukannya pergi kerumahnya melainkan pergi ke suatu tempat di mana seseorang sudah menunggunya.
yaitu sebuah kafe terkenal yang ada di kota Jakarta Selatan.
Tempat nongkrong dengan suasana nyaman dan interior unik yang menyajikan aneka menu internasional.
setelah sampai seseorang menyambut Selfia dengan ramah.
" Bagaimana hasilnya?" tanya Selfia dengan ekspresi dingin.
" Huh non Selfia kalau seperti ini kok kayak bapaknya ya". batin Ciko dalam hatinya bulu kuduknya tatkala merinding melihat kecantikan Selfia namun wanita itu dingin seperti karang salju saja.
" Semuanya sudah saya kerjakan dengan rapi bos, saya yakin tidak ada yang mengetahui keberadaan saya". kata Ciko Menjelaskan panjang lebar.
" Baik, terimakasih". jawab Selfia singkat sembari meninggalkan Ciko sendirian.
Di Kantor Dani merasakan perasaannya tidak enak, setelah pekerjaan pentingnya selesai Dani pun bersiap untuk pulang kerumahnya.
mobilnya pun melaju dengan kecepatan sangat pelan karena membelah jalanan yang begitu ramai hingga sedikit macet. menempuh waktu kurang lebih dua puluh menit Dani pun tiba dirumahnya namun ada pemandangan yang menyedihkan yang tak sengaja di lihatnya dilihatnya menantinya sedang bersimpuh dilantai terasnya dengan keadaan menyedihkan kaki bercucuran datang karena jatuh tersungkur di lantai, para tetangga yang ramai melototi Rani bak seorang hakim yang melototi terdakwa.
" Ada apa lagi ini ".batin Dani
Iya langsung memapah tubuh Rani dan membawanya ke mobil. Dani melajukan kembali mobilnya menuju rumah orang tuanya. dia memang tidak tau apa yang sedang terjadi, sebagai kepala keluarga dia berhak mengambil tindakan untuk meminimalisir kericuhan yang terjadi karena penilaian warga terhadap Rani entah perbuatan siapa dan apa masalahnya dia sendiri belum tau setidaknya Rani harus tertolong terlebih dahulu.
sesampainya di rumah ibunya satpam membukakan pintu gerbang, mobil masuk ke halaman rumah. di dalam ruang keluarga Bu Wulan yang akan menghidupkan televisi tidak jadi karena seperti ada mobil masuk di halaman rumahnya, beliau pun bergegas untuk keluar dan tentu saja beliau kaget dengan pemandangan yang ada.
" Mi...".
" ya ampun kenapa dengan Rani Dan?" Dan Masih banyak lagi pertanyaan.
" Mi boleh minta tolong panggilin dokter untuk kesini". pinta Randi.
" Pak Azis saya minta tong telpon dokter keluarga untuk segera datang kemari". perintah Bu Kumala kepada asisten rumah tangganya, tepatnya kepala asisten rumah
tangga.
" Baik Bu, beliau pun melaksanakan tugasnya. sementara Rani sudah di bawa ke kamar di mana itu memang di sediakan untuk mereka ketika acara keluarga atau mereka pulang ke rumah utama ini walau hanya sekedar jalan jalan lalu istirahat. setelah sampai di kamar Bu Kumala memanggil BI Surti untuk membantu Rani membersihkan diri.Bi Surti pun mengerjakan tugasnya dengan lincah.
" BI setelah ini buatkan sup buat Rani ya". sepertinya dia belum makan.
" Baik nyonya". jawab bi Surti.
setelah itu Bu Kumala menghampiri Anaknya Dani.
" Dan apa yang terjadi nak? " tanyanya dengan mimik sedih.
" Maafkan Dani mi". Dani hanya bisa minta maaf karena merasa tidak sukses mendidik anaknya sebagai kepala rumah tangga seharusnya lebih bijak menghadapi masalah.
__ADS_1
Bu Kumala menarik nafas berat. beliau paham betul apa yang di alami oleh anaknya adalah permasalahan uang sangat berat.
tak lama dokter pun datang.
Tok. Tok. Tok.
" pak Azis tolong lihat siapa yang datang". Punya Bu Kumala.
" Dokter Aldi ". Sapa pak Azis ramah ke dokter Aldi.
" Selamat siang pak Azis " sapa dokter Aldi tak kalah ramahnya.
"Silahkan Dokter Adi nyonya sudah menunggu diruang keluarga.
Dokter Aldi pun segera bergegas menuju ruang keluarnya nan mewah itu. beliau pun disambut ramah oleh pemiliknya.
" Hai Dok, apa kabar?" sapa Bu Kumala dengan senyuman manisnya"
" Mari saya antar". Bu Kumala segera mengantar dokter Aldi ke kamar di mana Rani sedang istirahat.
Dokter Aldi adalah Dokter keluarga besar Kusuma Wijaya.
setelah melihat kondisi Rani dokter Aldi pun memberikan beberapa resep berupa vitamin untuk pemulihan Rani.
Bu Kumala un memerintahkan pak Azis untuk menebus resep ke apotik yang tertera di resep.
" lecet di kedua kakinya lumayan parah, untung nyonya cepat ambil tindakan sebelum terjadi infeksi pada kaki nona Rani .
" namun saya sudah memberikan anti biotik dan beberapa vitamin agar nona Rani segera pulih.
" Amin". doa Bu Kumala.
" terimakasih dok sudah mau cepat datang untuk menolong cucu mantunya itu.
" Baik nyonya, saya akan segera pamit semoga nona Rani lekas sembuh". pamitnya dengan penuh sopan santun. Bu Kumala pun mengantar dokter Aldi hingga pintu depan rumah.
Dokter Aldi pun berlalu dari kediaman tuan Kumala Wijaya.
Bu Kumala menuju ke kamar di mana cucu mantunya berada. beliau mengelus lembut muka Rani lalu mencium keningnya. lalu menyelimuti Rani yang sudah terlelap tidur.lalu Bu Kumala pergi ke ruang keluarga di mana Dani sedang duduk di sana.
" Mi bagaimana keadaan Rani". tanyanya
" Rani sudah bisa istirahat, biarkan saja dulu Rani dan Raja disini sampai situasi aman.
" Baik mi, terimakasih atas pengertiannya". kata Dani singkat.
" Dani mau pulang dulu mi, salam sama papi" .
__ADS_1
" Ya.Nati mami Sampaikan".
Dani pun mencium kening maminya lalu punggung tangan.
" Dani pulang mi". pamitnya.
Bu Kumala menyapu lembut kepala anaknya.
" selesaikan apapun itu dengan kepala dingin, mami yakin semua akan baik baik saja". kata Bu Kumala
" Amin". Dani pamit mi.
" Assalamualaikum".
" Alaikum salam".
jawab Bu Kumala singkat.
Dani Pun berlalu menuju ke mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan raya yang begitu padat.
sesampainya di rumah Pak Dani langsung masuk ke dalam rumah sudah tidak ada lagi pemandangan yang seperti tadi. di ruang keluarga dia mendapati istrinya mondar mandir bagaikan setrika.
" mana Randi" tanyanya dengan dingin pada istrinya.
namun Bu Ambar bukannya menjawab pertanyaan suaminya melainkan bertanya balik seolah olah tidak pernah terjadi suatu apa pun di rumah ini.
" Bukannya Randi bersamamu pak?"
" Tidak usah basa basi Bu, aku sudah tau semuanya dari para tetangga jadi ibu jawab saja pertanyaan bapak, Randi di mana?" kata pak Dani dengan nada yang agak tinggi membuat Bu Ambar kegagapan. namun tiba - tiba Randi lewat.
" Nah rupanya kamu datang sendiri nak". kata pak Dani masih lembut.
" Kenapa, bapak masih mau melindungi manusia J*l*Ng itu pak?" kata Randi.
Plakkkk
Seketika pak Dani menampar Randi dengan kerasnya.
" Apa, ish". Randi mendesis sambil ujung bibirnya yang berdarah.
Plakkkk
Pak Dani melayangkan tamparan di sebelah pipi kiri Randi lagi.
" setidaknya kamu masih punya rasa malu dan masih menjaga nama baik keluarga kita". kata pak Dani dengan emosi.
.
__ADS_1
.