Hargai Aku

Hargai Aku
" KAMU JUAL AKU BELI 5".


__ADS_3

" Ma Kenapa papa tidak jemput kita ma". kata Raja polos, kasian raja sudah berapa hari di rumah eyangnya dengan harapan dijemput ayahnya namun sampai saat ini belum ada di jemput jemput.


" sabar ya sayang mungkin papamu lagi sibuk". kata Rani menghibur anak sematawayangnya.


" Aduh cicit eyang kita jalan jalan yuk". ajak eyang kepada raja siapa tau bisa menghilangkan rasa rindunya kepada ayahnya. sesungguhnya tuan Wijaya juga merasa heran mengapa Rendi sampai sekarang tidak menjemput anak dan istrinya.


namun belum lama demikian sebuah telepon masuk dari anak buahnya. dan tuan Wijaya mengangkatnya.


" Halo, kabar apa yang hendak kamu berikan padaku ha bodoh.


" cepat katakan". kata tuan Wijaya penuh penekanan karena 4 hari sudah tidak ada kabar dari rumah anaknya si Dani itu, Tris tidak ada kabar apa apa.


" Begini tuan ternyata nyonya Ambar ingin menjodohkan Den Randi kembali dengan anak konglomerat yang berasal dari perusahaan x tuan". jawaban dari sebelah telepon.


" Bagus kata tuan Wijaya singkat. lalu mematikan telepon dengan sepihak. lalu menelpon Asisten sekaligus orang kepercayaan tuan Wijaya.


" Halo tuan ". suara dari seberang telepon.


" Aku minta tolong blokir semua fasilitas yang melekat pada menantuku atas nama Ambar dan cucuku atas nama Randi.


" Tapi tuan". suara dari seberang telepon.

__ADS_1


" Tidak ada tapi - tapian"..


" baik jawab Aldo.


Tuan Wijaya pun mengakhiri sambungan teleponnya dan memasukkan di saku celananya.


" Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pemikiran cucuku itu". Batin tuan Wijaya.


beliau pun pergi ke ruang kerjanya sambil menyelesaikan beberapa dokumen yang masih terbengkalai. diantara kesibukannya tiba tiba tutt tuttt ada panggilan telepon masuk. beliau mengambil handphone yang terletak di atas mejanya.


" iya apa lagi yang akan kamu sampaikan?" tanya tuan Wijaya dengan raut muka yang sangat dingin.


" nyonya Ambar dengan tuan Randi hari ini mengadakan pertemuan sekaligus makan makan siang di sebuah restoran tuan.


" ikuti terus langkah mereka".


" jangan sampai ada yang terlewati". kata tuan Wijaya penuh penekanan.


" Baik tuan". jawaban dari seberang hp pun di matikan sepihak.


Di ruang keluarga Raja sudah siap akan ikut dengan ibu dan eyang putrinya jalan jalan.

__ADS_1


" Ran". panggil nyonya Kumala dengan lembut.


" Iya. Oma ini aku sudah bersiap".


" yuk lihat anakmu sudah tidak sabar lagi". kata Bu Kumala seraya melihat kebawah di mana keberadaan raja sudah menunggu lima belas menit yang lalu.


" Bu, Oma kalian lama banget sih". kata Raja dengan manja langsung menggelayut manja di lengan Rani.


" Anak ibu ganteng banget hari ini". puji Rani untuk putra sematawayangnya.


" yuk cicit eyang yang sudah tidak sabar lagi".


" Sayang aku berangkat ya". pamit Bu Kumala pada tuan Wijaya yang kebetulan sudah ada di sekitar mereka.


" Eyang kami pergi dulu ya". pamit raja mencium tangan dan pipi eyangnya.


" Opa Aku ikut Eyang ya". Rani pun ikut berpamitan sembari mencium tangan tuan Wijaya penuh dengan kasih sayang.


" Berbahagialah kalian. jangan lupa oleh - Oleh ya buat opa kelakar tuan Wijaya pada cicit kesayangannya itu. ingin rasanya beliau ikut namun ada beberapa masalah yang ingin beliau selesaikan tanpa melibatkan mereka.


Di sebuah restauran dimana Bu Ambar dan Randi sudah duduk manis mereka akan menunggu tamu istimewa.

__ADS_1


Lima belas menit menunggu akhirnya yang ditunggu - tunggu datang juga.


__ADS_2