
" Aku tak kan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau bersikeras seperti ini Ran". kata mas Randi seolah kebenaran hanya berpihak kepadanya.
Aku Gela nafas panjang berusaha tenang dan menata hati agar baik - baik saja berulangkali men sugesti diri kalau yang terjadi bukan akhir dari segalanya. berperang dengan batin remuk tak semudah berperang melawan orang lain, butuh kesabaran agar semua baik baik saja.
Aku bangkit dari duduk dan berdiri
" Maafkan aku mas". kataku singkat.
" semua sudah terjadi terima saja kenyataan yang ada semoga kamu bahagia dengan pilihan ibu di luaran sana, aku dan raja juga berhak untuk bahagia mas jawabku tanpa menatap matanya. sebab mulut ini boleh berkata apa saja namun tidak dengan hati ini. karena aku sangat mencintai mas Randi.
" Maafkan aku mas". batinku seraya meninggalkan mas Randi yang masih berdiri mematung tak berdaya melihat kepergian ku.
Di kediaman Dani, dimana Bu Ambar Menahan malu karena mendapat informasi dari sebuah restauran kartu yang di titipkan tidak bisa digunakan
***
Flash OF
Sementara Asyik bercengkrama dengan Bu Ningsih dan Maya tiba tiba
hp Bu ambar bergetar
"Halo pak ada apa" . jawabnya ternyata yang menelpon adalah pak Dani.
" Bu bisa nggak bawain bapak makan siang sekarang ?" kata pak Dani lewat telepon.
__ADS_1
" Huh bapak ibu ada dengan teman nih, nggak bisakah bapak minta pesankan sama karyawan atau sekretaris kah" kata Bu Ambar penuh dengan alasan.
" Aduh Bu, karyawan bapak sibuk semua, terus sekretaris bapak kan ibu tau dua hari lalu cuti". kata pak Dani lagi.
" Iya deh pak, nntar ibu bawain".
" Jangan Nntar buk, ibu tidak khawatir kalau mag bapak Kabuh karena lambat makan". kata pak Dani lagi.
" iya iya bapak nih bawel banget".
" Tunggu lima belas menit ibu tiba di kantor. kata Bu Ambar karena memang letak restauran tempatnya makan dekat dengan posisi kantornya pak Dani.
"Siapa jeng?" tanya Bu Ningsih.
" Ah biasa suami yang bucin padahal baru berapa jam pisah udah kangen aja bawaannya alasan lapar lagi he he he". kata Bu Ambar berceloteh.
" Santai Jeng sudah aku pesan kok makanannya. oh iya aku minta maaf ya nggak bisa nemenin lama lama disini jadi nggak enak nih masa tamu ditinggalin pergi duluan". kata Bu Ambar merasa tidak enak juga.
" nggak apa - apa kok jeng ini kami sudah mau pulang juga kok. terimakasih ya atas jamuannya hari ini". kata Bu Ningsih dengan senyum manisnya.
" Oh begitu ya, ya udah lain waktu kita akan bertemu lagi kan?"
" Pasti jeng". kata Bu Ningsih seraya cipika cipiki tanda perpisahan dengan sahabat lamanya. hal yang sama pula dilakukan oleh Maya.
" Terimakasih Ya Tan". kata Maya dengan senyum termanisnya.
__ADS_1
"Iya sama - Sama sayang seharusnya tante yang bilang begitu.
"Ya sudah hati - Hati ya bye". seru Bu Ambar seraya melambaikan tangan kearah mereka berdua akhirnya mereka pun hilang dari pandangan Bu Ambar.
Bersamaan dengan hilangnya tamunya dari pandangannya datang pula makanan yang dipesan untuk di bawa ke kantor suaminya atas permintaannya.
" Maaf nyonya agak lambat, kata pelayan agak gugup.
"Tidak masalah". kata Bu Ambar seraya mengambil black car tanpa batasan kepada pelayan restauran tersebut hal itu sudah sering dia lakukan apa bila sedang buru -
buru.
" Terimakasih". kata Bu Ambar seraya berlalu meninggalkan restauran tersebut.
***
Flash ON
" Pak sebenarnya apa yang terjadi, kenapa pihak restauran menelpon katanya kartu ku tidak bisa di pakai pak". Kata. Bu Ambar dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
" Itu akibatnya kalau kita menentang kemauan mami dan papi". kata pak Dani penuh penekanan.
Beda halnya dengan Dani masih di kantor sendirian, perasaan sedih, menyesal bercampur aduk menjadi satu setelah perginya Rani dari ruangan keluarganya.
" RAN kenapa sih baru sekarang aku merasa gila ketika kamu tinggalkan sayang". Randi monolog sendiri.
__ADS_1
" apakah ini yang namanya Galau" batin Randi sambil menjambak rambutnya dengan kasar.