
Malam sebelum pergi, Farisa menelepon om Raditya.
kring...kring...kring.... suara telepon Raditya
Halo .... Farisa
"selamat malam pa...!"
sapa farisa pada Raditya, ia telah mengganti panggilannya dengan papa, karena telah menjadi istri Ardan.
"selamat malam anak papa, Faris.! tumben menelepon papa... bagaimana kabarmu nak?"
"baik pa... "
"bagaimana Ardan ke kamu.." tanya sang papa
"baik pa ..., malah sangat baik " jawab farisa berbohong
"ada apa ris kok suaramu agak serak gitu?"
'begini pa.... farisa minta maaf kalau selama ini banyak salah pada papa... "
salah apa nak..? kamu tidak punya salah nak .... malah papa yang bersalah menikahkan kamu pada Ardan."
"tidak pa....papa tidak salah ."
"hei...sebenarnya ada apa kok kamu bicara kayak gitu?"
"apa yang sudah diperbuat Ardan padamu?"
"tidak ada pa..." Raditya mulai curiga..
Farisa yang mulanya ingin pamit pada papa Ardan, menjadi tidak tega. Farisa menyudahi panggilannya. udah dulu ya pa... salam buat mama juga...ya pa.
sementara di rumah Raditya, dia berbincang dengan istrinya maryam. "ma...mama..sini..
tadi dapat salam dari farisa ma."
"oh iya!...akhirnya dia menghubungi kita ya pa.."
"iya, tapi...."
"tapi apa pa...?"
"kayak ada yang tersembunyi dari ucapan farisa ma..."
"emang dia bilang apa, pa...? dia hanya minta maaf pada papa.."
"Perasaan dia gak ada salah pada kita..". sahut mama Maryam. "Bagaimana kalau besok kita ke sana pa..?" sela mama maryam.
"iya iya...besok kita ke sana." jawab papa Raditya. semoga tidak ada apa apa ..
"Udah ayo tidur mah, udah malam kita tidur ..jangan banyak prasangka buruk dengan rumah tangga anakmu." nasehat Raditya pada istrinya.
"ayok....." jawab mama Maryam
kokok ayam terdengar dari tetangga sebelah, tanda pagi sudah tiba. farisa terbangun
dari tidurnya. ia bergegas bangun menyiapkan sarapan untuk Ardan dan Anita. ia menatanya di meja kemudian bersiap meninggalkan rumah Ardan
Farisa menuju ke tempat kosnya dulu. karena memang kosan farisa sudah dibayar satu tahun ke depan sejak akan menikah dengan Ardan
farisa sampai di kosan masih pagi. ia masuk bersih bersih dan istirahat di dalam.
"akhirnya.....aku kembali ke habitat asliku...
terasa terangkat beban berat ku kali ini...
aku lega ..hah..."
Di rumah Ardan mama Maryam diantar Raditya telah sampai ke sana .jam tujuh pagi mereka sudah sampai.
tok ....tok....
__ADS_1
tok .....tok ......
lama mama Maryam menunggu
kembali mengetok ngetok pintu
tok....tok..tok
"ini anak mama kok bangunnya siang sih..
mentang mentang belum punya anak.."
Mama Maryam memegang handel daun pintu, ternyata pintu tak terkunci, kemudian ia masuk ke dalam rumah. tak terdengar suara orang.
menuju ruang makan, didapatinya meja telah penuh dengan makanan yang menggiurkan dan masih agak hangat.
"wah rajin benar menantu mama ini.
pagi pagi sudah siapkan sarapan untuk suaminya." gumaman mama Maryam
"Tapi dimana dia kok sepi? apa ia kembali tidur?"
Mama Maryam berteriak memanggil anaknya sambil menuju kamar Ardan. "Ardan.....ardan.." mendengar itu ardan membuka matanya...
"kayak suara mama..." ia membangunkan "Anita. Nit...nita..bangun sayang.,mama datang.'
Sedetik kemudian Mama sudah membuka pintu kamar Ardan dan melihat keduanya masih tertidur...
mamanya bingung karena mendapati wajah sang perempuan bukanlah sosok farisa yang ia kenal.
"heh ..bangun..! bangun..!
siapa kau?" tanya maryam pada anita
"beraninya kau tidur sama pria yang telah beristri..! Cepat turun, mama tunggu kalian berdua di bawah."
Mama Maryam menelpon Raditya, papanya Ardan.
"iya pa... papa...papa...kesini deh ..
cepat ya ..pa...!"
"emang ada apa ma?"
"pa...ini Ardan tidur sama wanita lain, sementara farisa tidak ada pa .....cepat sini ya...pa!"
"iya...iya..." jawab sang papa
tak lama keduanya turun kebawah
mama Maryam melihat keduanya turun dan memperhatikan Anita, terlihat perut Anita sudah membuncit
ketika Ardan dan Anita sampai di bawah
papa Raditya sampai di sana.
papa Raditya juga memperhatikan perut Anita yang terlihat membuncit.
"hei jxxxxx... sudah berapa usia perutmu ..?"
"lima bulan pa.."jawab Ardan
" diam...! aku gak tanya ke kamu..."
"lima bulan om, anak siapa yang kau bawa itu?"
"anak mas Ardan om..."
"terus istrimu dimana, dan..?"
"nggak tau pa..."
"nggak tau nggak tau .... masak istri sendiri kamu tidak tau"
__ADS_1
"tapi,... semalam masih di rumah pa... paling juga belanja...."
"paling...paling ... kamu itu gimana sih udah beristri masih bawa jxxxxx ke rumah. dimana hati nurani mu..? terus selama ini istrimu kamu anggap apa Ardan...?,pembantu ...! iya ....!" sahutan marah mama Maryam
,"Lihat pagi hari ke sini aja makanan sudah tersedia di meja, apa semua ini yang menyiapkan bukan istrimu.. apa semua kerja jxxxxx mu....?bukan kan... semua istrimu..."
"dia gadis baik baik. tidak seperti dia...sambil menunjuk ke arah anita" puji papa Radiya pada Farisa
"jawab Ardan ...jangan hanya diam.." bentak sang papa kembali
"Semalam aku menalaknya ma..pa...
dan aku mengusirnya..".jawab Ardan
"apa...,? kau menalak dan mengusirnya...?
salah apa dia, Ardan hingga kau mengusirnya..?" sesal sang mama
"dia mendorong anita ma...hingga hampir jatuh, padahal kondisi anita sedang hamil anak aku ma...."
"bisa aja kan itu hanya aduan anita semata.. pokoknya mama tak mau tau, cari dia sampai ketemu....!"
'ma...mama....dan papa...itu pasti tak tau..
farisa itu gadis seperti apa, dia penggoda ma...penggoda. Farisa udah bekasnya Aldo dan pria pria beruang yang lain ma,..pa..
apa kau bilang..?"
plak ..plak...
"kamu menuduh farisa begitu...?
tega kau ya...Ardan"
"farisa itu gadis baik baik... papa tau dia...
Aldo itu memang papa suruh untuk menguntit farisa, bagaimana tingkah laku farisa. bukan menjadi pacar farisa...."
karena Aldo kenal dengan farisa
dia kenal dengan farisa sejak masih sma awal tapi tak pernah jadi pacarnya tau...
karena memang papa berniat menjadikan farisa istri kamu
"udah sekarang cari farisa... cepat..!"
"terus aku bagaimana om?" tanya anita...
'itu terserah kamu...karena kamu berani meniduri suami orang ya...tanggung sendiri lah aibmu"
"oke nanti tes DNA aja...kalau itu benar benar anak Ardan maka anakmu aku yang asuh kalau bukan anak ardan ya.... asuh sendirilah....."
anita menangis....di depan Ardan, mengharap Ardan akan membelanya
"pa.. .itu anak Ardan pa .. aku tidur sama Anita sejak lama pa...setelah farisa dan aku menikah pa..,ma..."
"jadi selama itu kamu menyiksa farisa...?"
Ardan menganggukkan kepalanya
"selama itu apa Farisa pernah keluar rumah tanpa seijin mu...? tidak kan....?"
Ardan mengangguk
"apa selama itu Anita terus bersamamu...?
tidak juga kan ...!"
"iya...ya jika dipikir pikir memang benar kata papa..."
Anita tinggal terus sama Ardan belum lama.
monolog Ardan dalam hatinya.
__ADS_1