
Malam semakin larut, para undangan satu persatu undangan sudah berpamitan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga.
Di perjalanan Rani dan Randi tidak banyak bicara, mereka hanya berdua saja, Randi sengaja tidak memakai sopir pribadinya, sedangkan raja bersama eyang putrinya karena masih melepas rindu baru berapa hari tidak ketemu kayak setahun saja.
" Kamu kenapa Ran?"
"Dari tadi aku lihat kamu melamun terus".
" Tidak apa mas, aku hanya capek". Jawab Rani berdusta.
"Aku minta mulai sekarang tidak ada lagi yang disembunyikan Ran biar kita saling terbuka apapun masalahnya". kata Randi penuh penekanan.
" Jangan sungkan RAN".
"Maafkan aku jika selama ini sudah sering mengecewakan kamu".
" Aku sering membuat kamu tidak nyaman". kata mas Randi panjang lebar.
" Mas....".
" Maafkan aku".
" Aku lah yang pantas minta maaf".
" Karena sikapku yang selalu membuat kamu sakit hati".
" Belum lagi sikap ibu dan adik ku, itu semua yang sudah membuat kamu terbiasa memendam masalah sendirian". kata mas Randi seraya menepikan mobil lalu mengambil tanganku lalu dikecup dengan lembut dan kasih sayang.
" Masa lalu biarlah berlalu mas, tidak usah di ingat lagi". kataku menekankan mas Randi.
Di hotel ternyata masih ramai dan banyak tamu undangan yang ingin menghabiskan waktunya mereka juga memakan makanan yang ada.
Itulah yang dilakukan Rama bersama dengan teman - temannya. mereka semua sekelas dengan Laras, jadi mereka juga dapat undangan di acara resepsi kakaknya.
" Woiiiiii".
" ngelamun aja lho Ra". sapa Selfia dan Anjas tiba tiba sudah ada di belakang saja tidak di tau dari mana arah datangnya mereka.
" Eh kalian dari mana saja?" tanya Rahma pada temannya sambil menepuk jidatnya karena merasa konyol
" Biasa lah kan Ra, namanya juga ke pesta". kata Anjas seperti tanpa dosa sedikitpun.
" Terus jeni Mario sama Luna mana sel". tanyanya pada selfia.
" Mereka lagi ada di toilet dikit lagi pasti kesini ya? kata Anjas tanpa merasa bersalah.
" Ra malam ini kita nginap di sini saja ya". ajak JENI kepada temannya.
__ADS_1
" Emangnya yang lain juga mau nginap semuanya?"
" Pasti dong Ra". jawab Anjas tanpa beban.
" nah itu mereka udah datang". tunjuk Anjas kearah teman temannya yang baru datang mereka adalah Selfia, Luna dan mario. Mereka berteman akrab sejak duduk di bangku SD hingga kini duduk di bangku kuliah.
berbeda dengan Laras mereka bertemu di bangku kuliah.
" Gimana Ra perasaan kamu hari ini?" tanya Selfi kepada Rahma begitu sampai tepat di depannya.
" Maksud kamu apa sih Sel Nanyain aku seperti itu?" ucap Rahma penuh dusta.
" Sudah lah Ra nggak usah pura - pura deh lho". kata Anjas black - blakan.
" Dari tadi aku ngeliatin kamu itu gelisah Ra, mata kamu selalu tertuju ke pelaminan". kata Selfi lagi menggoda Rahma panjang lebar.
" Cz".
"Apa sih lho sel".
" Jangan sok tau deh!" kata Rahma masih saja mendustai teman - temannya.
" Kok Aku ngerasa lho tuh
blm bisa Mufon ya Ra". kata jeni lagi tanpa rem, atau remnya sudah blong.
Di Rumah Rahma tergolong anak yang manja dan sedikit Malas dalam hal apa saja.
Mungkin karena dia anak perempuan satu - satunya jadi Rahma dari kecil hidup berkecukupan tanpa kurang satu apapun. yang jelas Rahma merasakan hidup ini begitu sempurna.dia bekerja sama dengan ibunya untuk merusak hubungan kakaknya sendiri demi ambisinya memiliki ipar yang hidupnya mapan. karena keinginannya itulah makanya sampai hari ini Rahma tidak rela jika Dayu yang selama ini dia dan ibunya perjuangkan dan kagumi telah menjadi milik laki - laki yang jauh lebih sempurna dari kehidupan kakaknya sendiri. sindiran halus dari Jeni yang membuat dia bersemangat lagi karena ingin mendapatkan sesuatu yang belum perna iya raih.
" Sudah malam ini nggak usah banyak komen". kata Rahma.
"Jadi bagaimana Ra, jadi kan kita nginapnya di sini aja malam ini?" tanya jeni lagi.
" Yang lai bagaimana". tanya Rahma kepada yang lainnya.
" Aku sih nggak masalah jawab Mario dengan Anjas bersamaan.
" Ok, siapa takut!.
" Nah gitu dong ". jawab Selfia dengan senyum mengembang di bibir mereka semua tampak turut berbahagia.
Di kamar lain, di hotel yang sama dimana sepasang pengantin baru saja masuk ke kamar mereka. mereka takjub, kamar di dekorasi sedemikian rupa hingga nampak lebih romantis lagi.
Mereka di antar oleh orang tua mereka masing masing. setelah anak anak mereka masuk mereka pun menuju ke kamar masing - masing yang sudah disiapkan oleh keluarga Wijaya Kusuma.
Dayu sangat gugup malam ini begitu pula dengan Andi.
__ADS_1
" Apakah kau lelah?" tanya Andi seraya mencairkan suasana yang begitu kaku karena dia juga tidak kalah gugupnya sama bahkan lebih parah dari Dayu rasa gugupnya.
" Sedikit". jawab Dayu dengan suara terbata - bata.
"Aku akan mandi terlebih dahulu". kata Dayu dan Andi bersamaan.
mereka pun saling menatap antara satu dengan yang lainnya sehingga jarak antara keduanya sangat dekat.
" Astaga kenapa aku jadi gugup seperti ini sih". batin Dayu yang terpesona melihat dan menatap Andi dari dekat.
" Mungkin aku yang duluan mandinya". kata Dayu sembari menuju meja rias untuk melepaskan gaun yang dipakainya.
namun tak di sangka Andi ikut dari belakang dan tangan mereka tak sengaja bersentuhan di resleting gaun yang Dayu pakai.
" Maaf biar aku bantu". kata Andi dengan lembutnya.
terasa desiran yang sangat hebat di dada Dayu yang tak beraturan.
dan akhirnya mereka mandi bersama sama.
Di Rumah kediaman Randi, Bu Ambar selalu saja tidak menunjukan etika yang bagus.
" Aku tidak habis pikir apa yang aku rencanakan selama ini hancur percuma.
Dayu sudah menikah dengan laki - laki yang lebih mapan dari Randi. batin Bu Ambar panjang lebar.
" Ini semua pasti gara gara dia".
" Bu belum tidur". sapa pak Dani tanpa sengaja melihat sang istri berada di dapur. sementara Dia baru Turun dari ruang kerjanya.
" apa lagi sih yang kamu pikirkan Bu".
" Sudah Bu kita iklasnya saja".
"apa sih pa". tanya Bu Ambar dengan manisnya .
" Sudahlah ma, kita nikahnya sudah puluhan tahun, mana aku tidak tau apa yang kau pikirkan.
" Jangan sok tau deh pak". kata Bu Tika dengan dingin menata sang suami.
" Aku bukannya sok tau Bu, Aku hanya tidak ingin ibu sakit karena memikirkan yang anak kita.
" Mereka berhak bahagia".
" Apa kau lupa, bahwa dulu orang tuaku tidak menyetujui pernikahan kita. kata pak Dani mengingatkan Bu Ambar
" Bagaimana perasaanmu waktu itu?"
__ADS_1
" begitulah kira kira perasaan Rani saat ini Bu". kata pak Dani panjang lebar.