Hargai Aku

Hargai Aku
" PERASAAN HAMPA".


__ADS_3

Tanpa ku sadari air mataku jatuh berderai tak tertahankan. Ingin rasanya aku berteriak mengadu pada dunia tentang nasib ini. Tak ku sangka Mas Randi tega melakukan ini yang kedua kalinya setela anakku raja, kini anakku ku yang kedua pun di ambilnya tuk diasuhnya selama - lamanya.aku tak bisa berbuat lebih karena mas Randi sendiri ada di pihak orang tuanya, tidak tegas kepada orang tua agar tidak membawa anak kamu yang kedua.


Sakit hati ini yang ke sekian kalinya, tidak di hargai sebagai istri, sebagai ibu, sebagai menantu, sekaligus sebagai manusia. Mereka masih menganggap aku ini batu sehingga dengan mudahnya mereka bersikap ke padaku.


Tak lama ibu dan bapak begitu pula kak Arif datang dengan istrinya. Mereka celingukan mencari sosok yang dicari yaitu anak yang sudah di bawa raib oleh mertuaku tanpa sepengetahuanku.


" Dimana Anak mu RAN apa masih di ruang bayi, bukannya jam segini dia harusnya di susui? Pertanyaan mbak Ratih tidak bisa aku jawab hanya air mata ini yang mengalir tak kuasa menahan sedih. Jika ibu dan bapak juga mas Arif sudah paham dengan keadaan ini karena pengalaman pada raja di ambil juga oleh neneknya pada saat masih bayi. Namun tidak pada mbak Ratih yang masih penasaran dengan keadaan ini. Perlahan mas Arif menarik lembut tangan mbak Ratih. Mereka keluar dari ruangan ibu lalu mendekatiku dan memelukku.

__ADS_1


 " sabar nduk mungkin ini sudah takdirmu, yakinlah bahwa Tuhan punya rencana di balik semua ini". Kata ibu sementara bapak di sampingku hanya bisa mengelus rambutku tanpa sepatah kata yang bisa keluar aku tau bapak sangat menyayangkan ini semua terjadi namun sama seperti aku.tidak ada yang berani menentang kemauan ibu mertuaku meskipun itu bapak mertuaku.


" Kasian Rani mas". Kata mbak Ratih sembari duduk di luar di tempat ruang tunggu pasien.


" iya aku juga prihatin dengan dengan keadaan rumah tangga Rani. Randi tidak tegas sehingga orang tuanya dengan mudah ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka". Kata mas Arif dengan mata berkaca - kaca.


Siang ini aku sudah boleh pulang setelah menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan setelah melahirkan. Aku berusaha untuk lebih tenang. Berusaha men sugesti diri ini agar tetap kuat. dulu raja kecil masih bisa aku asuh walaupun di dominasi oleh ibu mertuaku namun aku masih bisa melihatnya. Nah bagaimana dengan Zaki tanpa ku sadari air mataku tak bisa aku bendung lagi ya Tuhan begitu berat cobaan ini. Rencana apa lagi yang Engkau berikan kepadaku. Ya Allah bukannya aku mengeluh, namun ini terasa berat untukku.

__ADS_1


Aku di bantu turun oleh ibu dan mas Arif. Semua mata tetangga yang kebetulan ada dirumahnya tertuju padaku.


";Wah aku dengar Bu Rani sudah melahirkan Bu?" tanya salah seorang tetangga salah satu dari mereka memang yang selalu berani mengutarakan pertanyaan pertanyaan yang harus dijawab.


" iya Bu Wiwik saya habis melahirkan.ini baru pulang dari rumah sakit". Jawabku dengan tegas.


" la bayinya mana Bu Rani?" tanya Bu Wiwik lagi yang membuat semua orang terkejut. Tanpa di sadari air mataku keluar kembali.

__ADS_1


" Maaf ibu - ibu anak saya mesti istirahat dulu".


__ADS_2