
" Iya Bu, walaupun saya Belum lama mengenal Tari, namun saya sudah memantapkan hati saya untuk mencintai dan menyayangi tari". kata mas Rama meyakinkan ibuku.
" Ya sudah nak, ibu dan bapak sih menyerahkan semuanya pada anak ibu, Dia anak ibu satu - satunya, pernah gagal juga dalam menjalani rumah tangga sekarang menyandang status janda, ibu malu nak Rama Apa kata keluargamu yang lain, teman teman kamu, kamu masih muda, belum pernah menikah masih banyak wanita diluar. yang lebih pantas untuk kamu nak Rama". kata ibu menjelaskan.
" Iya Bu, apa pun kondisi tari insyaallah saya terima. saya terima tari apa adanya". kata Mas Rama meyakinkan ibu dan bapak.
" Bagaimana nduk? " tanya bapak
" Kami serahkan semuanya sama kamu, kamu yang akan menjalani, bapak dan ibu hanya bisa merestui dan mendoakan jika kalian berjodoh kelak biar sukses dan bahagia". kata bapak panjang lebar menceramahi aku.
Aku awalnya bingung saat mas Rama menyatakan cintanya kepada ku, ada rasa curiga, ada rasa cemburu aku takut menjalani hubungan yang kedua kalinya. namun mas Rama selalu meyakinkan aku, walaupun kami baru enam bulan saling mengenal namun aku nyaman ketika bersama mas Rama.
aku tak mungkin melihat kebelakang terus, terjerumus di lubang yang sama walaupun aku sangat mencintai mas Luki akhirnya perlahan hati ini bis menerima mas Rama.
kami satu kantor namun beda manajemen. mas Rama sangat perhatian kepadaku, tak jarang Dia selalu menjemput dan mengantar aku pulang.
" pak, ibu. maafkan Tari, selama ini tari memang mempunyai rasa kepada mas Rama, kalau boleh Tari minta sama ibu dan bapak, tolong restui tari ,karena tari akan menerima lamaran mas Rama untuk menjadi istrinya". kataku langsung diaminkan oleh bapak dan ibu serta mas Rama secara bersamaan. ada kebahagiaan terpancar dengan tulus di wajah mas Rama, kami sama - sama saling mencintai, aku memang tidak bisa muf on dari mas Luki, namun setelah aku belajar menerima mas Rama akhirnya seiring berjalannya waktu aku bisa melupakan mas Luki.
" Ibu dan bapak lega mendengar keputusan kamu nak, kami selalu orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk anak - anaknya. kata ibu dengan penuh rasa haru.
" oh iya nak Rama sampai lupa mungkin minumnya sudah dingin untuk di minum bagaimana kalau Tari membuat minuman yang baru". kata kata ayah menawarkan minuman yang dari tadi tidak di sadari karena asyik dan tegang membicarakan acara pelamaran.
" Oh iya hampir lupa terimakasih Bu, pak atas sambutan dan jamuan untuk sore ini". kata mas Rama dengan senyum yang tulus.
" jadi kapan rencana kamu akan meresmikan hubungan kalian". tanya bapak kepada mas Rama.
" Maaf Bu, pak saya dan tari sudah mengajukan cuti ke perusahaan, jika tidak ada halangan insyaallah bulan depan.
****
__ADS_1
hari yang di tunggu - tunggu akhirnya tiba juga. di mana di hari pernikahan kami di rayakan sangat meriah. yang menjadi wali dari mas Rama adalah bapaknya JENI om aku karena mas Rama sudah yatim piatu agar pernikahan kami sah Dimata agama dan di mata Tuhan.
Setelah dua bulan menikah aku pun hamil, dimana saat saat itu perhatian mas Rama selalu ada untuk ku, aku mengidam akut, sedikit sedikit keluar masuk rumah sakit. untung mas Rama orangnya sabar dan penyayang sehingga tidak mempermasalahkan keadaanku yang seperti itu. ibu dan bapak sering menjengukku, kadang ibu berbulan Bulang tidak pulang karena harus menjaga aku karena mas Rama kadang lembur malam baru pulang namun mas Rama selalu menyempatkan diri untuk nelpon atau video call walau hanya beberapa menit saja.
Aku merasakan cinta dan kasih sayang mas Rama yang begitu tulus.
" Mom Ayah pergi dulu ya". pamit mas Rama lalu berjongkok mencium perutku yang sudah mengembang.
" Anak ayah jangan nakal dan rewel ya kasian momi dong". katanya meniru suara bayi.
" Iya ayah, ayah juga jaga diri baik baik ya, aku dan momi sayang ayah". jawabku sambil mengikuti suara bayi seperti yang mas Rama lakukan.
Setelah salim dan mencium keningku mas Rama pun meraih tas dari tangan ku akan berlalu pergi kekantor. kami pun sama sama melambaikan tangan tanda perpisahan.
" Bu sudah siap?" tanyaku kepada ibu, kebetulan selama aku hamil ibu juga siaga jagain aku.
" Oh iya Bu, aku tunggu ibu di ruang tamu ya" kataku seraya menuju ke ruang tamu.
agar tidak bosan aku melihat lihat alat alat pakaian bayi di online,
" Ah mending aku singgah di mall saja ya sebentar setelah cek dokter". batinku
Tak lama ibu sudah turun dari kamarnya.
" yuk ibu sudah siap". kata ibu dengan semangat.
" oh iya Bu kebetulan taksi online yang aku pesan sudah dekat". kataku sembari mengunci pintu lalu keluar ke halaman rumah .
benar saja begitu sampai di pintu gerbang mobil online yang aku pesan sudah parkir.
__ADS_1
Kami pun naik lalu mobil melaju meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang.
" Kamu sudah kasi tau Rama Ra kalau hari ini ada jadwal cek dokter?" tanya ibu karena khawatir.
" Sudah Bu, mas Rama bilang kalau tidak terlalu sibuk di kantor, Dia akan nyusul kita". kataku agar ibu khawatirnya tidak berlebihan.
" baguslah, ibu senang mendengarnya". kata ibu seraya tersenyum dan mengelus perutku dengan lembut. sampai di rumah sakit kami mengambil tempat duduk menunggu antrian, aku tidak melakukan pendaftaran kebetulan semua sudah mas Rama yang urus itulah satu lagi kelebihan mas Rama selalu siaga di bidang apa saja. pasien ibu - ibu hamil hari ini sangat banyak, sehingga aku menunggu agak lama agar tidak bosan aku melihat Handphone ku aku membuka aplikasi FB. dan yang lainnya namun cepat bosan lalu aku hanya membuka YouTube memutar lagu - lagu anak - anak dengan volume sedang.
tiba -:tiba ada yang menyapaku dan ibu.
" Wah cewek anaknya ya mbak? wah senangnya andai saja aku punya anak perempuan, mungkin suami aku tidak akan selingkuh ". katanya dengan sedikit Isak tangisnya
Kasian sekali aku melihat ibu tersebut, berapa kali kami bertemu Dia selalu sendiri tidak ada yang menemani. setelah sekian lama aku menunggu akhirnya aku di panggil juga.
" mbak yang sabar ya,, kataku menguatkan hatinya.
Namun baru beberapa langkah aku berjalan dengan ibu ku dengar mas Rama memanggil nama ku. ku palingkan pandanganku ke belakang, ternyata benar mas Rama.
" Mas". sapaku seraya mencium tangannya. begitu pula mas Rama mengambil dan mencium tangan ibu.
" maaf ya aku terlambat datang sehingga tidak bisa temani kamu dan ibu saat menunggu antrian tadi". kata mas Rama merasa bersalah.
" tidak apa apa mas, mas kan lagi kerja, aku maklum kok". kataku seraya menggelayuti tanganku di lengan mas Rama, seolah dunia hanya milik kami berdua.
" yuk mas aku sudah di panggil" kataku seraya mengajak mas Rama masuk begitu pula dengan ibu.
Setelah selesai pemeriksaan aku diantar oleh mas Rama ke Mall, belanja keperluan bayi, sampai saat ini kamu tidak mengetahui laki laki atau perempuan karena hasil USG tidak menampakkan jenis kelamin itu.
Kami sudah sepakat tidak mempermasalahkan hal itu, mau perempuan atau laki - laki bagi kami sama saja yang penting kami sama sama sehat hingga proses persalinan nanti.
__ADS_1