
" Saat Yang di tunggu- tunggu akhirnya tiba, perutku sakit tiada Tara, selama hidupku tak pernah aku merasakan sakit seperti ini, namun sekarang sakitnya bertubi - tubi.
" Ahk mas perutku sakit sekali". Keluhku serasa menahan rasa sakit di bagian belakangku yang rasanya mau pecah.
" wah kayaknya kamu sudah mau melahirkan. kata mas Rama dengan cepat ke kamar lalu mengambil persiapan alat alat bayi yang sudah aku persiapkan jauh sebelumnya. lalu dia pergi menyiapkan mobil, setelah mas Rama memapah aku ke mobil.
Akhirnya kamu pun tiba di rumah sakit.
" Suster tolong istri saya sudah mau melahirkan!" kata mas Rama sedikit berteriak karena tempat sister berada agak jauh Karana khawatir juga sudah bercampur aduk yang di sasakan mas Rama karena sayang dan cintanya terhadap diriku. Dia rela melakukan apa saja asal aku bahagia. Diruang bersalin mas Rama tidak di ijinkan untuk masuk, hanya aku dan dokter serta suster yang menolong aku. mas Rama dan ibu menunggu di luar. proses bersalin pun berjalan dengan lancar, hanya beberapa menit aku di ruang bersalin akhirnya lahir juga.
" Anak ibu perempuan cantik seperti ibu. namun wajahnya mirip bapaknya". kata dokter tersebut sembari tersenyum manis turut bahagia.
aku pun dipindahkan diruang rawat, setelah bayiku di mandikan dan di bedong mas Rama menghampiri aku dan mencium lembut keningku.
" Terimakasih ya kamu sudah melahirkan seorang putri cantik buat aku. putri kita sangat cantik seperti kamu, namun wajahnya mirip sekali dengan ku hehehe ". kata mas Rama nampak sangat bahagia seraya mengambil bayiku untuk di Azani.
" Oh iya bagaimana kalau anak kita kita beri nama Raya kata mas Rama yang Artinya luas supaya semua luas, rejekinya Budi pekertinya pokoknya yang terbaik". ucap mas Rama dengan semangatnya.
" Aku setuju mas, nama yang cantik terimakasih ya mas". kataku seraya mengelus bedong raya dengan lembut.
" Iya sayang".
__ADS_1
" Ah kalian, mentang mentang bahagia ibu kayak nggak ada di sini". protes ibu kesal.
" Ha ha ha maafkan Rama Bu". kata mas Rama seraya memberikan raya digendong sama ibu. ibu pun menerima dengan semangat dan bahagia.
" wah cucu nenek cantik sekali, siapa tadi namanya?"
" Raya Bu". jawabku hampir bersamaan dengan mas Rama.
Ceklek
" Assalamualaikum".
" Wah bapak apa kabar?" sapa mas Rama yang senang menyambut kedatangan bapak seraya Salim dan mengambil apa yang bapak bawa yaitu pisang dan buah lainnya yang di petik dipekarangan rumah tentunya.
" terimakasih nak kamu sudah memberikan cucu ke bapak dan ibu, yang lebih penting lagi menghapus gunjingan orang - orang tentang tari kalau dia mandul ini akan menjadi bukti bahwa apa yang mereka katakan tidak benar". kata bapak seraya meneteskan air mata bahagia karena terharu juga.
" sudah lah pak, yang lalu biarlah berlalu, Rama sangat merasakan apa yang bapak rasakan, sekarang ikhlaskan ya pak, bapak boleh gendong raya kapan saja, kan bapak kakek raya". kata mas Rama menghibur bapak.
" Iya dong" kata bapak tak mau kalah merebut raya dari gendongan ibu.
" lihat tuh kakek kamu sudah tidak sabaran". kata ibu kesal karena belum lama raya di gendong eee bapak malah main rebut saja.
__ADS_1
Hehehe Raya jadi rebutan.
" Mom bagaimana kabar kamu?" tanya mas Rama seraya duduk di dekat tempat tidurku, tangan kirinya mengelus kepalaku tangan kanannya menggenggam erat tanganku.
" Seperti yang ayah lihat, aku baik baik saja". jawabku dengan senyum mengembang di bibirku.
" Terimakasih ya mom, sudah mengandung sembilan bulan, terus sekarang raya lahir dengan selamat. kamu pasti sangat menjaga anak kita selama ini". kata mas Rama ".
" Iya Ayah, bukannya kita sama sama menjaganya". jawabku sembari memberi senyum termanis buat mas Rama.
***
Setelah tiga hari di rawat akhirnya aku dan raya diperbolehkan untuk pulang.
tak terasa Raya tumbuh dengan baik, karena kasih sayang yang kami berikan, Raya memang agak manja sehingga satu tahun delapan bulan baru bisa berjalan dan berbicara walaupun bicaranya masih cadel namun sudah bisa di pahami.
bapak dan ibu juga sangat menyayangi dan memanjakan raya, apa saja di minta selagi mampu pasti di penuhi. maklum dari dulu bapak dan ibu mendambakan seorang cucu namun Tuhan baru mengabulkan setelah aku menikah dengan mas Rama.
namun kebahagian tersebut tidak lah berlangsung lama, karena mas Rama telah di panggil terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat di sisinya, kejadian naas menimpa mas Rama saat pulang dari kantor mas Rama kecelakaan tertabrak truk yang berlawanan arah, menyebabkan mas Rama harus kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.
Aku tak percaya dengan semua ini. aku belum siap kehilangan mas Rama, air mata ini tak pernah berhenti ketika aku mengantarkan mas Rama ke tempat istirahat yang terakhirnya.
__ADS_1
Sepeninggalnya mas Rama, seminggu aku tidak bekerja ke kantor, karena bos aku orangnya pengertian, aku di berikan dua Minggu cuti. waktu cuti tak pernah aku sia siakan, aku selalu dan hampir setiap hari ziarah ke pemakaman mas Rama.
Hari - hari ku begitu berat aku jalani tanpa mas Rama, terasa baru kemarin aku mengenalnya kini sudah tidak ada lagi.