
Di kediaman Rumah pak Sebulan berlalu setelah acara tujuh bulanan kehamilan rani semua mengetahui bahwa Rani melahirkan kurang menghitung hari. perkiraan akhir bulan.
Rani sudah tidak sabar menunggu anak keduanya lahir di dunia ini. persiapan sudah dilakukan dengan matang. setiap Minggu Rani melakukan pemeriksaan di tri semester kehamilannya. namun ternyata ada yang lebih antusias, sejak tau Rani sedang hamil ada yang merencanakan sesuatu untuk memenuhi kepentingan pribadinya bahkan tanpa sepengetahuan orang lain dia sudah menyiapkan segala sesuatunya.
Di mengambil benda pipih di dalam tasnya lalu mendial salah satu nomor yang ada disana.
" Halo Bu ". jawab sambungan dari seberang.
" Ran kamu di kantor kan? " tanya Bu Ambar walau tau anaknya jam begini sedang di kantor.
" kenapa Bu, tumben menelpon jam kantor". kata Randi berbasa basi dengan nya. Padahal Dia sudah biasa jika keadaannya seperti ada hal yang diinginkan oleh ibunya tanpa sepengetahuan orang lain, namun kali ini dia belum tau apa yang diinginkan ibunya.
" RAN ibu cuma mau bilang kalau Rani sudah mau melahirkan kasi ibu info ya". kata Bu Ambar.
Deg.
Seketika jantung Randi berhenti berdetak, dia sudah tau apa maksud dan tujuan ibunya.
" Bu kali ini Randi tidak setuju kalau ibu yang Asuh anak Randi yang kedua bu.kata Randi memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
" Ran ibu kan hanya mengasuh, tidak mengambil anak kamu". kata Bu Ambar sekalu mengelak dengan kenyataan .
" Maafkan Randi Bu, kali ini Randi tidak akan biarkan ibu mengambil hak asuh dari Rani". kata Randi tegas kepada ibunya.
" OOO sejak kapan kamu durhaka sama ibu Ran, kamu lebih memilih mendengar perempuan itu ketimbang ibu yang sudah melahirkan kamu". kata bi Ambar menggunakan ajimatnya untuk meluluhkan hati Randi .
" Maaf Bu, aku tidak ingin berdebat dengan ibu". kata Randi lalu iya pun memutuskan telepon sepihak.
Bu Ambar sangat marah di buatnya di belum pernah ia diperlakukan seperti ini oleh Randi.
" Ini semua pasti karena perempuan itu". batinnya sudah sangat kecewa dengan perlakuan Randi.
__ADS_1
Di kantor Randi sangat gelisah memikirkan keinginan ibunya, Dia tidak menyangka jika ibunya ingin mengasuh juga anaknya yang kedua.
Di lain sisi Dia juga memikirkan Rani sebagai istri, sebagai seorang ibu tentu ingin sekali mengasuh dan membesarkan anaknya sendiri dari pada di asuh oleh orang lain. mana Rani sudah resign dari kerjanya memang di sengaja karena mau fokus mengasuh anaknya ketika sudah lahir.
" Akh!" teriak Randi frustasi menjambak kasar rambutnya.
" Aku sudah selalu mengorbankan perasaan Rani, sebagai wanita, sebagai istri, sebagai ibu, terlebih sebagai manusia". Batin Randi.
Tok Tok Tok
" selamat siang pak, maaf di luar ada Bu Ambar ingin bertemu Anda". kata sekretaris Randi.
Seketika Randi terkejut mendengar tiba tiba ibunya datang ke kantornya mau tidak mau dia harus menghadapinya.
" HM kenapa di biarkan di luar tidak menyuruh beliau masuk". kata Randi dengan nada dingin kepada sekretarisnya.
" maaf pak sesuai dengan aturan akan tetap saya laksanakan". kata sekretaris dengan tegas.
lalu keluar dari ruangan Randi menuju dimana Bu Ambar berada.
" iya bu, anda dipersilahkan masuk". kata sekretaris mas Randi.
" Tentu saja, saya bilang juga apa, kamu saja yang dari tadi ngeyel di bilangin".. kata Bu Ambar dengan sombongnya masuk menabrak sekretaris mas Randi.
sekretaris mas Randi sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Bu Ambar Makanya tidak heran hanya geleng geleng kan kepala saja.
Prakkkkkk
bunyi pukulan meja yang di lakukan oleh Bu Ambar.
" Kamu ya sudah berani membantah mama!" kata Bu Ambar dengan emosinya melabrak meja Randi, Randi pun terkejut dan syok di buatnya. tidak pernah Dia lihat ibunya semarah ini dengan emosi yang meletup letup diluapkan diruang kerja Randi kali ini sudah menangis di depan Tandi pula membuat Randi bingung tidak tau mau lakukan apa.
__ADS_1
Dira sekretaris mas Randi pun terkejut namun tak bisa berbuat apa apa, toh hubungan mereka antara ibu dan anak, jadi Dira tidak peduli.
Randi sendiri hanya mondar mandir melihat tingkah laku ibunya kali ini. di dihampirinya bu ambar.
" Bu Maafkan Randi, ibu jangan seperti ini Bu, ibu harus sadar ini di kantor Bu, bukan di rumah, bagaimana kalau ada klien yang datang, aku malu Bu". kata Randi berusaha membujuk ibunya agar berhenti marah dan menangis. namun bukan Bu Ambar namanya jika berhenti sebelum berhasil rencananya. Dia sudah nekat datang jauh jauh dari Jakarta ke Bandung hanya untuk meluluhkan hati anaknya Randi karena dia tau persis kelemahan Randi tidak bisa melihat ibunya menangis.
" Bu Randi mohon Bu jangan bersikap seperti ini". kata Randi kepada ibunya namun Bu Ambar semakin histeris.
" Berarti kamu ingin ibu cepat mati Randi, kamu sudah berani melawan ibu, untuk apa ibu hidup lama jika hanya melihat anak - anaknya ibu yang durhaka". kata Bu Ambar histeris sembari melirik ke arah Randi. untung saja ruangan ini di lengkapi dengan penyedap suara, sehingga tidak terdengar oleh para karyawan yang ada di luar.
" Huh kenapa sih Randi kali ini keras banget di bilangin, biasanya Dia paling nggak bisa lihat air mataku, tapi sekarang....apa dia sudah mulai mencintai Rani dengan tulus". batinnya
" Akh....". teriak Bu Ambar histeris membuat Dira melompat karena saking terkejutnya. untung saja ruangan ini dilengkapi dengan penyadap suara sehingga suara ibu tidak terdengar oleh karyawan yang ada di luar.
" kalau kamu tidak jawab jangan salahkan ibu jika keluar dari kantor kamu ibu tinggal nama". ancam Bu Ambar akan bunuh diri jika keinginannya tidak di kabulkan.
" Aduh gawat kalau sudah begini ibu pake ngancam segala lagi". batin Randi.
" O...
Ceklek
kata kata Randi terputus, karena ada yang datang tiada lain adalah Rahma.
FLASH OF
Tanpa sengaja Rahma mendengar pembicaraan ibunya dengan kakaknya lewat telepon. Ambar pun mengikuti kemana ibunya pergi. namun sampai di bandara Rahma kehilangan jejak Bu Ambar sudah tidak di temukan keberadaannya. diapun memesan taksi, Dia sudah menduga pasti ibunya ke kantor kakaknya namun lagi lagi Rahma kehilangan jejak karena macet di jalanan setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Rahma rampai juga di kantornya Randi. karena kantor ini milik Randi maka Rahma masuk tanpa basa basi karena semua orang kantor sudah tahu bahwa Rahma adiknya Randi Diapun dengan leluasa masuk ke gedung utama menggunakan lif VIV. setibanya di ruangan Randi Rahma mengetuk pintu dan Dira segera membukakan pintu untuk Rahma
" Wah untung Mbak cepat datang kayaknya ada yang nggak beres di dalam mbak". sambut Dira dengan ramah.
FLASH ON
__ADS_1
Bu Ambar tak kalah terkejutnya dengan kedatangan Rahma. matanya melotot karena syok.
" gawat aksi pura - pura akan terbongkar nih oleh nih bocah". batinnya dengan kesal.