
Suasana di tempat pertemuan keluarga di sebuah perusahaan ternama sangat tegang, semua diam membisu dengan perasaan mereka masing masing. begitu pula dengan hatiku saat ini aku berusaha menata suasana hatiku agar tidak membunuh batin. namun semua tak semudah membalikkan telapak tangan. air mata ini dari tadi di tahan agar tak berjatuhan, agar tak nampak lemah dihadapan mereka, bukan berarti aku tidak punya perasaan, namun aku masih ingat akan ikatan suci pernikahan kami yang tak bisa di permainkan begitu saja.
" Oma aku ijin ke toilet sebentar". pamit ku ke Oma untuk pergi ke toilet menenangkan hati ini walau hanya sebentar. aku pun melangkah ke kamar mandi dengan sedikit sempoyongan belum bisa menerima semua kenyataan ini yang begitu berat bagiku.
pernikahan ku terhitung masih seusia jagung, belum terlalu mapan dalam hal menata suasana hati kami masing - masing.
" Bagaimana perasaanmu Ambar?" tanya tuan Wijaya, dengan nada dingin dan mencekam.
" ini tidak benar Pi". kata Bu Ambar masih ingin mengelak
" Memang tidak benar yang kau tuduhkan kepada Rani.
" Kau selalu membuat cucuku menderita karena ambisimu, kau tidak memikirkan perasaan orang lain". kata tuan Wijaya penuh penekanan.
" Aku tidak menyangka jika kau akan melakukan hal serendah ini, bagaimana kalau ada yang menyebar video ini tentu itu akan menghancurkan reputasi perusahaan Ooo tunggu atau kau sengaja melakukan semua ini agar usahaku bangkrut". kaya tuan Wijaya kepada Bu Ambar mertuaku. walau aku sedang berada di dalam kamar mandi aku bisa mendengar semuanya.
Setelah merasa hati ini tenang aku perlahan membuka pintu kamar mandi lalu menuju kembali di tempat di mana mereka berkumpul. setibanya di ruangan tersebut aku duduk ditempat semula aku duduk. tiba- tiba aku di dekati oleh mas Randi.
__ADS_1
Bruk
sesampainya di hadapanku mas Randi langsung bersimpuh di hadapanmu
Yang lain pun tercengang melihat sikap Randi
" RAN.....". Suaranya tercekat menahan tangis penyesalan.
Aku tak berdaya dengan sikap mas rangi seperti ini, aku berusaha kuat walau hati ini sakit dan sedih.
kali ini berusaha untuk kuat dengan sifat mas
" Mas jangan seperti itu". kataku sambil menahan air mana yang hampir menangis,
" Akhirnya aku dengar lagi kata - kata maaf dari mulutmu sendiri mas ". sapaku ke mas Randi.
" Tidak mudah Randi". kata Oma penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Mas Randi beralih menatap Omanya, selama ini selalu menyayanginya.
" Rani Kau sudah memaafkan namun tidak dengan aku". kata Oma tegas.
Aku Pun tak bisa menghadapi ketegasan Oma.
" sekarang semuanya tergantung Oma, bukannya aku tidak punya pendirian Oma, namun hati ini masih pilu mendengar dan melihat sendiri, aku bukan malaikat, namun aku berusaha tegar.
ibu mertuaku menolah pada ku, dengan tatapan sinisnya" berhenti Ambar "
" jangan lagi kau sakiti cucuku". kata tuan Wijaya kepada Bu ambar.
Ibu mertuaku, melirik ku lalu tersenyum smir.
" Maafkan Aku Mas, Aku masih butuh waktu". kataku karena masih ragu dengan dengan keadaan ini.
" betul biarkan Rani menyendiri masing masing agar bisa mengintropeksi diri untuk sementara waktu". kata opa enjoy dengan bijaksana memberi kami watu untuk membenahi diri sendiri
__ADS_1
" aku setuju adapun menyadari. kesalahannya bukan berarti aku sudah memaafkan mu mas ". kata Rani terbata bata ingin menangis namun di tak bisa.