Hargai Aku

Hargai Aku
" HASIL TES"


__ADS_3

Namun aku sudah terbiasa dengan sikap Bu Ambar.


" Sini Bu biar aku yang bantu". kataku sambil mengambil apa yang ibu bawa, lagi - lagi ibu menolak.


" Bu sudahlah jangan Ketut gitu sama Rani". kata pak Dani pada ibu. namun ibu hanya cuek saja.


" tidak apa - apa pak mungkin ibu lagi capek saja". kataku agar bapak tidak selalu merasa bersalah karena sikap ibu kepadaku.


" Ya sudah bapak ke kamar dulu ya ajak ibu mu istirahat.". kata bapak sembari menggandeng tangan ibu menuju ke kamar mereka.


Aku Pun melanjutkan pekerjaanku di dapur yaitu menata makanan untuk makan siang hari ini karena mas Randi sudah bilang juga akan pulang siang ini ingin melihat keadaan ibu sekalian.


Selama ibu sakit mas Randi membantu bapak menyelesaikan tugas bapak di kantor sedangkan pekerjaan mas Randi di luar kota sudah di handle oleh asistennya. karena mas Randi sangat menyayangi ibu, makanya enggan meninggalkan ibu di saat ibu sedang sakit.


Di tempat lain di sebuah kampus semua sedang istirahat habis mengikuti kuliah mereka sesuai dengan jurusan mereka masing- masing. begitu pula dengan Rahma, Dia ingin sekali pulang melihat keadaan ibunya yang baru keluar dari rumah sakit namun di urungkan, karena siang ini masih ada dua mata kuliah yang harus di lalui.


" Aku dengar nyokap Lo udah pulang siang ini Ra ?" tanya Anjas mencairkan suasana siang yang begitu panas dan menegangkan karena banyaknya mata kuliah hari ini.


" Iya Jas, kayaknya ibu sudah di rumah sekarang". jawab Rahma seraya melempar senyum karena rasa bahagianya.


" Wah selamat ya Ra, atas pulangnya Tante Rahma. gue salut sama Lo, Lo sabar banget dengan semua ini". kata Selfia menyemangati Rahma.


" Tidak mudah loh Ra, menghadapi masa - masa seperti itu". Mario menimpali turut merasakan apa yang Rahma sasakan hampir dua bulan tidak berkumpul dengan orang orang yang kita cintai dengan situasi yang bahkan sangat - sangat menyedihkan.


" oleh karena itu guys keluarga gue nntar malam ngerayain kepulangan mana dalam keadaan sehat walafiat bentuk syukur keluarga aku juga, aku mengundang kalian semua untuk ikut makan malam di rumah gue, itu ide nyokap gue". kata Rahma dengan senang hati.


" Wih dengan senang hati Ra". jawab Selfia dengan semangat.


" Tunggu emangnya nyokap Lo ngundang siapa saja tari.


" Hanya keluarga kok nah kalian kan sudah menganggap kalian keluarga. jadi gue ngundang kalian juga.


"Terimakasih Ya Ra insya. Allah aku akan datang


" BTW mbak tari gimana keadaannya ya?"Tanya Selfia kepada Jeni.


" itu dia semenjak mas Luki di penjara mbak tari tidak di rumah lagi


mbak Tari sudah gugat cerai mas Luki dan

__ADS_1


sudah tidak tinggal di rumah itu lagi". kata jeni menjelaskan.


" Kasian ya kisah cinta mereka harus berakhir seperti itu, amit amit deh". kata Selfia lagi.


Ketika Asyik bercerita, Bel masuk sudah mulai berbunyi, mereka pun dengan cepat masuk di kelas masing - masing.


Di tempat lain, di mana Luki sedang menjalani


tahanan selama lima tahun.


Seorang penjaga menghampirinya,


" maaf ada yang ingin menemui anda'. kata penjaga tersebut sembari membuka pintu jeruji dan mengeluarkan Luki dari sana dengan keadaan tangan di borgol.


" Mas kamu apa kabar?" sapa tari di temani oleh jeni.


" Seperti yang kamu lihat". kata mas Luki dengan nada ketusnya.


" maaf mas aku kesini hanya mau antar ini". kata Tari seraya menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Luki.


Luki mengambil amplop tersebut dari tangan Tari lalu membukanya seketika tangannya gemetar setelah tau isinya.


" seandainya waktu bisa di putar mungkin aku tak akan melalukan hal yang sebodoh ini". katanya meratapi nasibnya sendiri.


" Sudahlah mas keluar dari tempat ini mas akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku yang bisa memberikan mas keturunan". kata tari memberi support kepada Luki


Luki hanya bisa menganggukkan kepalanya " terimakasih kamu sudah sering jenguk aku selama ini jika kamu masih ada waktu datang lah kemari ". pinta Luki mengharapkan kedatangan tari.


" Iya Mas Insya Allah aku akan selalu datang walaupun statusku bukan istrimu lagi". kata tari yang tak kalah sedihnya.


Tari sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari semua orang bahwa Luki mandul.


Tiga tahun yang lalu, lima bulan setelah menikah ibu mendesak kami untuk melakukan cek kesehatan kami berdua


" Luki ibu ingin kamu melakukan tes kesehatan bersama. tari ". kata ibu


" Iya ma aku akan ke rumah sakit sebentar bersama tari.


Sesampainya di rumah sakit mereka menjalani rangkaian berupa tes kesuburan supaya di tau apa masalah mereka.

__ADS_1


Ketika hasil belum keluar tiba - tiba Luki mendapatkan panggilan agar segera kekantor, ada yang Urgen yang harus di selesaikan.


pergilah Luki ke kantor meninggalkan Tari seorang diri.


" Sayang, papa ada nelpon aku harus segera kekantor kata mas Luki,


" iya mas pergilah mungkin hasil tesnya agak lama keluarnya, jadi biar aku menunggu di sini nanti biar aku yang ambil, aku bisa pulang dengan taksi online.


Tidak lama setelah Luki berlalu ada panggilan untuk Tari bahwa hasil tesnya sudah ada dan harus segera di ambil di leaf.


Tari pun segera beranjak karena ingin tau bagaimana hasilnya. setelah membuka kedua amplop tari meneteskan air mata karena ternyata mas Luki mandul. tari memalsukan dan menukarkan hasil tes tersebut.


Setelah selesai iya pun pulang ke rumah dengan taksi online.


sesampainya di rumah Bu Sarah bertanya kepada tari,


" jadi bagaimana hasilnya ?" tanya Bu Sarah mendesak. aku pun ragu memberikan kedua amplop di tanganku namun Bu Sarah merampas dari tanganku dan segera membaca.


" ternyata dugaanku benar, kamu mandul! kata Bu Sarah dengan ketusnya aku pun hanya bisa meneteskan air mata, aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


" sabar ma, itu hanya sementara, ada solusinya". kataku menenangkan Bu Sarah yang sudah tersulut emosi.


" solusi kamu bilang memangnya kamu ikhlas suamimu menikah lagi?"


deg


jantungku bagaikan disambar petir aku tidak memikirkan sejauh ini efeknya.


" apakah aku akan kehilangan mas Luki setelah ini". batinku.


" Maksudku bukan begitu ma, maksud ak....


Belum aku selesai bicara mertuaku sudah memotong pembicaraanku dengan kata - kata yang sangat menyedihkan


" kalau mandul ya tetap mandul, kamu harus ikhlaskan kalau suami kamu menikah lagi untuk memiliki keturunan .


Lagi - lagi aku hanya bisa menangis meratapi nasibku.


" jangan hanya memikirkan kebahagiaan kamu, pikirkan juga kebahagiaan Luki, mama, dan papa". kata Bu Sarah seraya berlalu meninggalkan aku seorang diri. aku pun beranjak ke kamarku menumpahkan rasa sedih ini.

__ADS_1


" ternyata begini rasanya jika tidak dianggap oleh mertua". batinku seorang diri.


__ADS_2