Hargai Aku

Hargai Aku
" TERHARU"


__ADS_3

Laras semakin kesal saja misinya untuk menyatukan kakaknya dengan Rani sia sia sudah. sekarang dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri, sudah banyak uang yang di keluarkan dan habis namun hasilnya nihil.


" Laras coba sini dulu kata Bu kumala sembari menghampiri Laras yang sedang mendongkol tidak jelas.


" Apa sih ma". jawab Laras masih dengan nada kesal.


" Nih lihat di sosmed mereka mesra sekali". kata Bu Kumala seraya memperlihatkan handphone nya pada Laras. Laras pun melirik sekilas namun dia tidak peduli karena sudah terlanjur kecewa.


" Ma relakan saja mereka bahagia. kelak bang Andi pasti dapat wanita yang bisa menerimanya apa adanya, terpenting lagi tulus mencintai bang Andi".


" Amin". seru mereka bersamaan.


Di kediaman Rani dan keluarganya masih ramai sekali semua menikmati hidangan dengan Antusias kecuali Bu Ambar yang masih berstatus mertuaku namun seperti bulan ibu mertua.vdari tadi sibuk mengibas - ngibaskan slayernya di kepalanya karena merasa kepanasan padahal hawa saat ini sangat sejuk.


" pak Sami, Bu Salma maafkan kami mungkin kedatangan kami kurang tepat sehingga kesannya sedikit merepotkan ". kata bapak mertua dengan lembut.


" wah besan santai saja, kami maklumi, kami yang minta maaf kurang respek terhadap masalah anak - anak kita sehingga keluarga di sini tidak tau apa Apa ". kata bapak penuh penyesalan.


" Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita perbaiki kedepannya tingkatkan komunikasi agar meminimalis mis komunikasi". kata om Dani menimpali percakapan antara bapak dan bapak mertua. Setelah selesai makan mereka semua beranjak menuju ke salah satu penginapan yang ada di desa ini untuk beristirahat.


" Pak kita langsung pulang saja yuk". ajak Bu Ambar kepada bapak mertua.

__ADS_1


" Sabar Bu, masih ada yang akan kita selesaikan di sini besok. mending ibu istirahat saja ya biar lebih tenang". kata bapak membujuk ibu agar lebih tenang.


" Buk aku mau pulang duluan". kata Ambar berpamitan akan ke Jakarta duluan.


" Ibuk ikut ya Ra?" kata ibu mertua.


" tidak bisa Bu, aku pesan tiketnya tadi cuma tiga, aku Oma, dan opa.


" Kamu kenapa tidak bilang Bilang sama ibu Ra, ibu kan ingin cepat - cepat pulang


" lah bapak kan masih di sini Bu, ibu kan mau cek up juga.


akhirnya Rahma pun pergi ketempat di mana Bu Kumala adalah eyang Kakung dan eyang putrinya sendiri. Kasian Oma Dan Opa kali ini harus ikut bukan hanya menjaga buyutnya, namun juga turut menyelesaikan masalah yang menimpa mas Randi dan mbak rani.sementara Rani dan Randi akan tidur di rumah pak sami yaitu orang tuanya sendiri.


" Mas maafkan aku ya". kataku ketika kami berada di kamarku yang tak begitu luas ketimbang kamar di rumahnya mas Randi. sementara Bu Salma dan Tiwi masih beres - beres membersihkan perabotan yang kotor di bantu oleh ibu - ibu tetangga sekitar rumahnya. Setelah semua selesai tak lipat Bu Salma membungkukkan sisa makanan yang masih banyak untuk mereka bawa pulang,mereka pun senggang dan mengucapkan terimakasih.


" Bu kasian mbak Rani ya". kata Tiwi yang selalu peduli dengan keadaan Rani.


" usttt jangan berisik takutnya mengganggu ". kata ibu seraya menempelkan jari telunjuk di mulutnya.


Tiwi pun terdiam. Dari dulu Tiwi sudah memperingati Rani agar tidak terburu buru dalam memilih pasangan.

__ADS_1


" Mungkin ini takdir Mbak Rani kali ya". Batinnya. lalu Ia pun beranjak menuju ke kamarnya untuk beristirahat. tinggallah Bu Salma dan pak sami duduk di ruang tamu. mereka nampak berpikir keras setelah apa yang dialami oleh Rani.


" Pak....". Bu Salma memecah keheningan malam kini sudah menunjukkan 22. 45 WIB yang seharusnya dari tadi mereka sudah berada di dunia mimpinya masing - masing, namun ini masih ada di dunia nyata yang masih berpikir tentang nasib yang selalu menimpa Rani.


" I ..iya buk ". jawab pak sami kegalauan karena sedikit melamun.


" ini ibu bawakan wedang jahe kesukaan bapak". seraya menyodorkan secangkir teh Jahe buatannya karena Bu Salma tau bahwa malam ini suaminya sedang tidak baik baik saja.


" OOO iya terimakasih ya buk". jawab bapak dengan mata sendu.


" Yang sabar to pak, semua sudah terjadi. Doakan Saja anak kita semoga dia mampu melewati cobaan - cobaan dan godaan dalam berumah tangga kedepannya". kata Bu Salma. dan sahuti anggukan kepala oleh pak sami.


Di kamar Rani tidak bisa tidur, karena Randi ribut dengan dengkurannya mungkin sedikit lelah karena tadi siang berjalan kaki cukup jauh.


Rani pun membuka pintu akan menuju ke dapur karena lupa membawa air minum, iya merasakan tenggorokannya kering dan ingin minum. namun sebelum belok ke dapur Dia melirik keruang tamu masih terang dan sayub - sayub mendengar seperti ada yang bercerita


dengan rasa penasaran Dia melangkah, semakin dekat semakin jelas siapa yang ada di sana dan apa yang sedang di bicarakan


Air matanya menetes karena terharu mendengar pernyataan ke dia orang tuanya .


" Bu.... Pak...".

__ADS_1


__ADS_2