Hargai Aku

Hargai Aku
" SEBUAH KEPUTUSAN" POV : RANI


__ADS_3

Setelah satu jam menyelesaikan masalah di ruang keluarga belum ada yang berkata jujur siapa yang menjadi dalang adanya kejadian ini. karena ibu Ambar bersikukuh mengatakan bahwa ini semua bukan perbuatannya. Aldo asisten Randi pun menelpon orang orang suruhannya agar membawa orang orang suruhan Bu Ambar keruangan ini tanpa sepengetahuannya.


" Enak saja menuduh aku sembarangan video itu bisa saja hasil rekayasa mereka karena mereka orang berduit apa yang tak bisa dilakukan". kata Bu Ambar sedikit berbisik kepada suaminya pak Dani.


" Maaf aku tidak bisa membantumu jika ini memang kesalahanmu, kau sudah terlalu batas membuat kesalahan yang begitu besar, aku malu pada keluargaku yang tak bisa membimbing mu, mendidik anak - anak kita terutama Randi". kata pak Dani penuh penyesalan.


" kau terlalu memanjakan Randi, sebenarnya dia sudah senang bersama istri dan anaknya, namun karena ambisimu yang tidak masuk akal aku tak tau entah apa yang akan terjadi pada mereka ke depannya". kata pak Dani penuh penekanan.


" Aduh bagaimana ini, kalau aku ada di sini terus bisa - bisa mereka akan tau semua". batin Bu Ambar yang mulai gelisah dan mulai berpikir bagaimana caranya keluar dari ruangan ini. ruangan ini memang luas, namun penjagaan yang begitu ketat hari ini sulit untuk keluar maupun masuk tanpa alasan yang tepat.


" Kenapa kau terlihat resah seperti itu?" tanya pak Dani kepada istrinya penuh selidik.


" Ah tidak, aku hanya sedikit kebelet ingin buang air". katanya beralasan.


lalu bergegas ke kamar mandi dengan tergesa - gesa dia membuka tasnya dan mengambil benda pipih yang ada di sana lalu mendial nomor seseorang. namun


Tut..... Tut.... Tut....

__ADS_1


nomor yang dihubungi tidak aktif.


" Kurang ajar, giliran dibutuhkan tidak aktif". makinya menggerutu sendiri di kamar mandi.


Dia segera Mondial nomor yang lain namun lagi lagi hasil nya sama.


" Kenapa sih disaat genting seperti ini tidak ada yang bisa di hubungi". umpatnya dalam hati masih mondar mandir di kamar mandi yang berukuran sangat luas tersebut.


" apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya monolog sendiri. dia enggan untuk keluar dari kamar mandi. namun tak berselang lama dia pun mendengar kegaduhan, karena merasa penasaran dia pun cepat- cepat keluar dari kamar mandi ingin memastikan siapa yang datang sebenarnya.


sesampai nya di tempat pertemuan, diapun nampak syok melihat siapa yang di sana.


" Habislah aku sekarang. batin Bu Ambar. yang nampak semakin pucat setelah anak buahnya tertangkap.


" Tuan ini mereka, yang merupakan suruhan dari nyonya Ambar". ucap Aldo tanpa basa basi lagi.


" Kerja yang bagus".kata tuan Wijaya dengan wajah yang sangat dingin dan mencekam.

__ADS_1


"Apakah kau mengenalku". tanya tuan Wijaya tanpa ekspresi. ketiga orang preman itu menunduk ketakutan.


" Tenang kalian tidak perlu takut, bahkan jika kalian bisa menjawab dengan jujur aku akan menjadikan kalian bodyguard - bodyguard ku, dan akan aku bayar sepuluh kali lipat, bagaimana?" Kata tuan Wisnu sekaligus melakukan penawaran.


Ketiga preman tersebut saling tatap, salah satu dari mereka melirik Bu Ambar, Bu Ambar


membalas dengan menatap tajam preman yang meliriknya.


" Ternyata kau masih punya nyali untuk melirikku. Dasar bedebah". makinya dalam hati.


" Bagaimana dengan tawaranku". Kata tuan Wijaya lagi sambil menghempaskan tangannya di atas meja hingga membuat semua yang ada di ruangan tesebut terkesiap.


" Aku tidak punya banyak waktu, menjadi Bodyguard ku atau masuk penjara". seketika membuat mereka terperanjat.


" Pi, kenapa papi lebih percaya mereka da....


Belum Bu Ambar selesai bicara tuan Wijaya mengangkat tangannya bertanda beliau tidak ingin ada yang ikut campur dalam urusannya. " ini adalah sebuah keputusan. agar harga diriku tidak di injak injak walaupun oleh keluargaku sendiri". kata tuan Wijaya yang merupakan sindiran tersendiri bagi Bu Ambar.

__ADS_1


kali ini wajahnya semakin pucat pagi bagaikan bulan di siang hari.


__ADS_2