
Aku akui di umur aku yang sudah tidak muda lagi, namun aku yakin aku masih bisa hamil seperti apa yang di katakan oleh dokter. menunggu waktunya tiba pasti akan ada, aku yakin itu.
Di luar rumah ku dengar keramaian, ternyata ada Raja datang bersama kakek dan neneknya.
" ma ". sapa raja sembari memelukku.
Aku pun membalas erat pelukan raja.
walaupun kami jarang bertemu namun kami sering berkomunikasi.
" Mana Randi?" Apa dia ke kantor hari ini?" Padahal mama sudah pesan bahwa mama akan datang hari ini". omel ibu dengan berbagai macam pertanyaan.
" Sudahlah Bu, sebentar juga kan dia pulang". kata bapak yang selalu bijaksana.
" Kamu sendiri ngapain di rumah saja, enak bener ya, suami kerja kamu cuma tidur - tiduran di rumah". kata - kata ibu tetap pedas tidak pernah berubah
" Bu". bapak memberi kode agar diam namun ibu kayaknya nggak bisa kalau nggak ngomel.
" Alah bapak Melain dia terus. makana dia jadi besar kepala mentang mentang tinggal berdua saja lagak sok tuan Puteri". kita ibu lagi
" Bu, sudahlah, kenapa ibu jadi senewen gini sih?" kata bapak yang kesal karena sikap ibu.
Jelas lah, pasti Dia yang sudah memerintah Randi ke kantor terus dia enak - enakan di rumah, kan aku sudah pesan sama Randi bahwa hari ini aku datang". kata ibu dengan nada tinggi.
Aku hanya diam, Raja mungkin sudah mengerti dengan situasi aku dan ibu. Raja menarik tanganku.
" Nek jangan marah Mulu dong, ibu ada di rumah mungkin karena kurang sehat. ini saja badan ibu agak hangat". kata raja membela ibunya.
" Ran, kamu sakit ?" Tanya bapak kepada ku sembari mendekatiku dan menyentuh keningku.
" Buk sudah ngomel terus apa, Rani kayaknya perlu ke rumah sakit badanmu panas nak". kata bapak dengan lembut.
" Alah palingan juga cuma demam biasa, manja banget sih". kata ibu masih saja tetap julid sama aku.
" Pak Aku tidak apa - apa sebentar saja hilang". kataku menolak di ajak ke rumah sakit. " Bu, pak. aku buatin minum dulu ya". kataku seraya pergi ke dapur.
Dari kemarin sore kepalaku pusing dan mual - mual. makanya hari ini aku ambil cuti tidak masuk ke kantor, bukan berarti bermalas - malasan seperti kata ibu mertuaku. ibu mertuaku memang seperti itu dari dulu, ini sudah mending, mungkin karena kami berpisah, jadi kadang ada rasa rindu ingin bertemu. karena ibu mau datang maka mas Randi juga memberi aku ijin tuk cuti hari ini karena kata dia muka aku pucat sekali, kamu di rumah saja, kalau bisa masak, ya masak.kalau nggak, nggak usah maksa nanti pesan saja makanannya '. kata mas Randi.
Aku pun bersyukur hari ini walaupun rasanya oleng aku juga sempat memasak walau hanya makanan tradisional, setidaknya aku bisa membuat masakan kesukaan Raja Aku sudah sangat bersyukur dan bahagia. karena sejak kami berpisah Raja jarang makan masakan aku.
__ADS_1
maka dari itu bagaimana pun keadaanku, tija raja Datang atau jika aku pulang ke rumah ibu, tetap aku berusaha memasak buat Raja.
" Ma aku ke kamar raja dulu ya". kata raja sembari berlari kecil menuju ke kamarnya. sedangkan ibu dan bapak juga ada kamar mereka disini sehingga tidak menempati kamar tamu.
" jangan lama ya Nak, kita akan segera makan siang mama sudah masak kesukaan kamu ". kataku sedikit berteriak karena raja cepat sekali larinya.
" Kamu masak apa hari ini?" tanya ibu sembari menghampiri meja dapur.
" Maaf Bu, pak. Tidak ada yang istimewa untuk menyambut kedatangan kalian. mungkin sebentar malam mas Randi yang akan ngajak kalian untuk dinner di luar". kataku sembari tersenyum lebar ke arah bapak.
" Harus dong ". kata ibu dengan sinisnya.
" Asyikkkk". seru Raja sembari mendekati kami di meja makan.
" Ma, papa tidak pulang siang ini?" Tanya Raja
" Tidak nak, papa katanya agak sibuk hari ini makanya tetap kekantor walaupun tau kalian akan datang hari ini." Maafkan papa Ya". kataku sembari mengelus lembut kepada Raja yang duduk di sampingku.
Selesai makan Bapak dan ibu menuju ke kamar untuk Istirahat, sementara Raja masih di meja makan menemani aku beres - beres.
Di kantor hari ini mas Randi memang sibuk karena tau bapak akan datang, mas Randi mempersiapkan segala sesuatunya karena biasa bapak akan datang tiba - tiba ke kantor.
" Pak jam makan siang sudah lewat". kata Cici mengingatkan mas Randi.
" oh iya terimakasih ya sudah ngingetin saya". kata mas Radi ke mbak Cici
" tolong aku pesankan makanan ya
untuk aku, kalau kamu mau terserah mau pesan apa. mas Randi
mengeluarkan lima lembar uang seratusan di Berikan kepada Cici.
tak berselang lama pesanan makanan pun datang.
Mas Randi makan di temani oleh Cici, sehabis makan Cici yang beres - beres.
Aku kembali ke meja kerja, aku melihat hp ada bapak memanggil.
" Assalamualaikum " . sapa seberang telepon tiada lain adalah pak Dahi
__ADS_1
," Alaikum salam". jawab mas Randi.
" Nak kamu di mana saat ini ". tanya bapak
" kantor pak". jawabku singkat.
" Nak kamu ada di rumah sakit, istrimu tadi tiba - tiba pingsan, lalu kami langsung membawanya ". kata bapak di seberang telpon.
". kamu langsung kesini ya kami ada di rumah sakit harapan bunda sekarang kata pak Dani.
Tanpa berpikir panjang aku pun langsung ke rumah sakit sesuai alamat yang di berikan pak Dani kepadanya .
Sesampainya Di rumah sakit, Randi langsung ke ruang rawat dimana aku di rawat. mas Randi pun menatapku kwartir.
" Mas ". sapaku.
" Kamu kenapa sih RAN?"
semua diam tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.
" Aku tidak kenapa - kenapa mas ". jawabku
" Tidak kenapa - kenapa bagaimana sekarang kamu ada di rumah sakit". Omel mas Randi.
" Aku hanya kecapean mas, dan butuh istirahat sebentar saja sembuh dan ....
Aku mengambil sesuatu lalu ku berikan kepada mas Randi.
" Apa ini?" kamu?" benarkah?" pertanyaan beruntun dari mas Randi lalu reflek mengecup keningku dengan lembut. namu aku sempat melirik ibu, aku lihat ibu selalu sewot jika melihat aku bahagia, saat mas Randi perhatian kepadaku ibu selalu tidak suka. aku juga tak mengerti apa sebabnya sudah sepuluh tahun pernikahan kami,dan akhirnya aku hamil lagi anak kedua kami yang sudah lama di nanti - nanti. ku lihat mas Randi sangat bahagia dengan berita ini.
" Akhirnya yang kita tunggu - tunggu membuahkan hasil juga, kamu hamil sayang". kata mas Randi seraya menggenggam erat tanganku.
" Iya mas Akhirnya aku Hamil Dokter bilang kandunganku sudah berumur sebelas minggu. dan sehat.
" Syukurlah aku senang mendengarnya, bagaimana dengan jenis kelaminnya?" tanya mas Randi lagi karena penasarannya.
" Belum bisa di ketahui mas, kamu yang sabar mas ya". kataku seraya mengelus lembut lengan lengan mas Randi.
" Tidak apa apa sayang mulai sekarang kamu tidak boleh terlalu capek, jaga kandunganmu baik - baik untuk ku
__ADS_1