Hargai Aku

Hargai Aku
" WASIAT "


__ADS_3

FLASH ON


" Mom jangan sedih ya, Raya akan selalu jaga mommy siapa pun tak boleh menyakiti mommy". kata Raya seraya memeluk ku.


" Sudah tiga tahun kamu menjanda, apa kamu tidak ada niat nak untuk mencarikan bapak seorang ayah?" kata ibu menyarankan aku agar membuka hati untuk laki - laki lain.


" Aku belum siap Bu. aku masih ingin fokus sama raya dan karirku". kataku kepada ibu yang selalu mendesak agar aku menikah lagi.


Aku tidak bisa melupakan almarhum mas Rama, aku belum siap untuk menikah lagi. bukannya aku tidak mau menerima jika masih ada jodohku, namun jangan sekarang, aku masih ingin menata hatiku dulu yang pernah terluka, yang pernah di angkat lalu jatuh lagi, aku hampir rapuh seperti pertama namun sekarang untung ada raya yang selalu menghiburku.

__ADS_1


" Iya sudah, ibu dan bapak juga tidak memaksa kamu, kami hanya ingin melihat kamu dan raya bahagia, raya juga butuh sosok seorang bapak.


" Jadi kamu pikirkan baik baik jangan egois, pikirkan juga kebahagiaan anakmu.


" Iya pak, Bu, aku pikirkan dulu. aku butuh waktu. jawabku agar menghibur bapak dan ibu dan tidak mendesak lagi.


Di keluarga Randi sibuk mempersiapkan acara Tujuh bulan kehamilan Rani, acaranya sederhana hanya di hadiri oleh sanak keluarga saja dari pihak Rani maupun dari pihak Randi. Bu Salma sudah datang dari tiga hari yang lalu, ada bapak dan Tiwi juga. terus Oma dan opa juga turut hadir hari ini sengaja acara nya di laksanakan di rumah agar mereka tau bagaimana sitasi keluarga kecil Tandi sesungguhnya.


ada juga beberapa tetangga yang datang membantu mempersiapkan menu, ada juga yang membantu dekorasi, pokoknya kali ini seru karena mas Randi setuju aku yang merancang acara tujuh bulanan umur kehamilanku.

__ADS_1


Keesokan hari nya hari ha acara pun di awali dengan pengajian dari anak anak pesantren yang di undang langsung oleh Oma dan opa. agar turut mendoakan anak yang aku kandung. nampak Bu Ambar yang terlihat sedikit tidak suka atas sikap mertuanya, anggapannya hanya membuang buang waktu dan uang saja. di lain sisi bibi Ijah dan om Deni antusias mendampingi Oma dan opa memberikan santunan sepada anak anak pesantren dan beberapa anak anak yatim piatu dari panti asuhan yang sempat hadir hari ini.


walaupun umur Oma dan opa sudah tidak muda lagi bahkan boleh dikatakan sudah lansia namun karena mereka murah senyum dan ramah kepada siapa saja hingga umur mereka hampir sepadan dengan ibu mertuaku.


Acara inti pun De mulai, aku dan mas Randi duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk melaksanakan ritual mandi. kami pun dengan khusuk melakukannya di pandu oleh seorang ulama dan di bantu oleh kedua orang tua kami masing masing dan semua yang hadir turut mendoakan kami.


berapa jam berlalu kegiatan pun selesai para undangan disekitar tetangga sudah mulai pulang, sementara keluarga masih ada di tempat kebetulan hari ini semua keluarga berkumpul seperti biasa opa akan meminta waktu untuk memberikan sedikit wejangan kepada semua anak cucunya menyangkut kehidupan yang akan datang.


Oma mempunyai dua orang putra, yaitu mertuaku dan om Deni, namun pewarisnya hanya satu yaitu mas Randi, sedangkan om Dani mempunyai dua orang putri serta dua orang cucu putri juga. jadi warisan tujuh puluh lima persen jatuh di tangan Randi. sedangkan yang 25 persen diberikan kepada Rahma, Ningsih dan Ratmi. itulah keputusan opa hari ini. semua keputusan opa tidak bisa diganggu gugat semua menerima dengan legowo kecuali ibu mertuaku selalu tidak puas dengan apa yang di dapat.

__ADS_1


__ADS_2