Hargai Aku

Hargai Aku
" SAKIT" POV: Rani


__ADS_3

"Well come to singapura". sambut seseorang ketika kamu tiba di sebuah rumah namun bagaikan sebuah istana.


"Nyonya tidak usah sungkan, saya juga orang Indonesia. " nama saya Maria dan ini suami saya Jordi". katanya lagi dengan ramah serta memperkenalkan nama mereka.


" saya....


belum selesai aku bicara namun


" pasti nyonya Rani dan ini anak ganteng tuan muda Raja". jawabnya lagi.


" maaf Ndoro tuan sudah cerita semua kepada kami bahwa nyonya akan tinggal disini untuk beberapa bulan ke depan atau terserah nyonya sampai kapan no problem". katanya lagi panjang lebar bercampur dengan bahasa Inggris.


" Terimakasih, tapi jangan panggil aku nyonya, panggil saja aku Rani". kataku.


" OOO soal itu nyonya kami minta maaf tidak bisa melakukannya karena kalau tidak kami akan dipecat tanpa pesangon.


" He he sepertinya nyonya belum memahami siapa Ndoro tuan dan Ndoro putri yang sebenarnya". kata suami Maria lagi menjelaskan panjang lebar.


" Ayo nyonya, Den silahkan masuk jangan cuma bengong". kata Maria sambil menunjukkan dimana kamarku dan kamarnya Raja. sementara pak Jordi mendorong koperku dan kopernya raja di bantu oleh asisten rumah tangga lainnya.


Tenyata Maria adalah kepala Asisten perempuan, di rumah ini sehingga semua tunduk patuh dan hormat kepadanya. sedangkan Pak Jordi merupakan kepercayaan tuan Wijaya untuk mengurus rumah ini beserta isinya. Raja Pun di ambil alih oleh baby sister yang mengurusnya.l

__ADS_1


Aku bagaikan ratu di rumah ini. semua di layani.


" Nah ini kamar nyonya, nanti kalau butuh apa apa nyonya tinggal pencet tombol ini". tunjuknya pada tombol yang ada di dalam ruangan.


" HM panggil saja aku bibi Maria". Katanya seraya tersenyum manis.


" Iya bibi, terimakasih". jawabku singkat. lalu aku masuk ke kamar yang begitu luas lebih luas dari kamar yang aku tempati di rumah Oma. aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu beristirahat.


Di kediaman Wijaya kusuma bingung dengan kedatangan Randi segera menelpon tuannya.


" Halo tuan, maaf jika saya mengganggu tuan, di rumah ada Aden Randi yang menanyakan keberadaan tuan dan non Rani, saya bingung mau jawab apa tuan". kata bi Surti lewat sambungan telepon.


" Bilang saja yang sebenarnya bi". jawab tuan Wijaya singkat.


Bi Surti pun bergegas menuju pintu utama di mana randi sedang duduk di teras rumah.


" Den ternyata Tuan dan nyonya belum pulang dari ngantar non Rina dan Aden Raja ke Bandara". Kata bi Surti menjelaskan, membuat Randi membeku seketika.


" Bandara, memangnya Kemana istri dan anakku bi?" tanya Randi sendu.


" Singapura Den ya Singapura". kata bi Surti membuat Randi semakin tak karuan.

__ADS_1


" Bibi tidak berbohong kan?" tanya Randi tak percaya dengan kenyataan yang iya terima.


" Tidak Den". jawab bi Surti yang tidak tega melihat mas Randi yang nampak syok dengan berita yang di dengarnya.


" RAN benci itukah kamu padaku".


" maaf Den bibi harus ke dalam lagi". pamit bi Surti yang tidak tega melihat keadaan mas Randi yang kelihatan terpuruk dan rapuh.


" Mas, Mas kenapa?" Rahma tiba tiba datang.


" Ran...maafkan aku Ran ". kata mas Randi hampir tak terdengar.


" Astaga badan mas Randi panas sekali". Batin Rahma.


" Tolong..... tolong.....!" teriak Rahma minta tolong karena nampak sepi.


Bi Surti yang mendengar ada orang berteriak langsung pergi ke tempat dimana suara berasal.


" wah Den Randi kenapa Non?" tanya bi Surti bingung, sebab waktu ditinggal tadi dia baik - baik saja, kenapa tiba - tiba pingsan.


" Bi tolong teleponkan Ambulance". kata Rahma meminta tolong.

__ADS_1


" Baik Non". jawab bi Surti seraya kedalam menelpon.


Di rumah sakit tempat mas Randi di rawat tidak jauh dari di mana ibu mertua di rawat. sama - sama ruang VIV. Randi di nyatakan mengalami mag akut sehingga harus menginap untuk di rawat dengan intensif.


__ADS_2