
Akhirnya Selfia merasa senang dan lega setelah mengungkapkan apa yang seharusnya di lakukan. walaupun dari raut wajah Rani sangat kecewa namun tidak ada jalan lain selain yang sudah dia lakukan saat ini dengan situasi tegang makanan yang di pesan pun akhirnya datang juga.
" Asyik!" teriak raja dari kejauhan, dengan berlari kecil menghampiri di mana Oma dan ibunya berada.
" Sayang sudah selesai bermainnya ?" tanya Rina walau hati kecewa namun sebisa mungkin berperan baik di hadapan anak semata wayangnya. dia tidak mau Raja yang masih kecil ikut merasakan masalah yang di hadapi kedua orang tuanya dan Rani berharap agar semua dalam keadaan baik - baik saja.
" Eh ada bibi cantik". kata raja menyapa Selfia.
" bibi cantik bersama bibi Rahma? lalu dimana dia?" tanya Raja dengan polosnya dengan pertanyaan beruntun.
" Oh iya tadi tapi bibi Rahma duluan pulang katanya ada urusan yang lain yang akan di selesaikan". jawab Selfia beralasan. Sementara Rani sudah menarik nafas menata jawaban yang tepat untung Selfia sudah duluan menjawab.
" wah sayang banget, padahal aku merindukan bibi Rahma Ma, Oma kata Raka tulus.
" Kamu sabar ya sayang setelah urusan papamu selesai pasti kalian akan segera di jemput". kata Oma berusaha menghibur buyut kesayangannya.
" Nah benar tuh kata eyang, kan masih ada bibi Selfia di sini temani Raja makan siang". Selfia pun ikut menimpali akhirnya raja pun tersenyum.
" Terimakasih bibi cantik". kata raja antusias.
" Yuk kita makan entar keburu dingin lho Tris nggak enak deh dimakan.
Di Perusahaan Nugraha Pratama, tuan Wijaya sangat tegang setelah mendapat laporan dari anak buahnya.
" Halo pi". jawaban dari seberang telepon.
" Bisa keruangan papi sekarang juga". perintahnya dingin membuat siapapun yang mendengar pasti akan mati kutu.
" Baik Pi". namun belum selesai bicara telepon sudah dimatikan sepihak.
" Huh papi kebiasaan deh. tapi kenapa perasaan aku tidak karuan seperti ini ya, perasaanku tiba - tiba tidak enak ada apa ya dengan papi?" pak Dani monolog dalam hati dan kesal belum selesai bicara teleponnya sudah dimatikan. Beliau pun segera menemui tuan Wijaya di ruang utama.
sesampainya di ruangan utama tiba - tiba tuan Wijaya melemparkan dokumen ke hadapan Pak Dani. Beliau pun terkejut tanpa bertanya lagi beliau langsung membuka dokumen tersebut karena beliau tau betul seperti apa sifat orang tuanya ketika marah, sangat tegas.
Mata Tuan Dani melotot melihat semua berkas, di luar dugaan jika yang akan di lihat dan disaksikan sesuatu yang tidak berkenan di hatinya Emosinya pun memuncak sampai di ubun - ubun.
Tuan Wijaya tersenyum menyeringai melihat perubahan raut wajah putra di depannya ini.
" Kau masih menyangkal dengan kenyataan ini". kata tuan Wijaya dengan murka. pak Dani pun tak bergeming dengan kata kata ayahnya.
__ADS_1
" Memalukan". ungkap tuan Wijaya kesal dan penuh emosi yang meluap - luap.
" Terus kau tunggu apa lagi". ucap tuan Wijaya penuh penekanan.
Pak Dani yang sudah tau apa maksud ayahnya langsung pergi dari ruang utama.
Sesampainya di ruangannya beliau pun mendial sebuah nomor.
" Halo pak". sapa Randi menjawab telepon dari pak Dani.
" Kamu dimana, segera temui bapak di kantor. ada hal penting yang ingin bapak bicarakan". kata pak Dani penuh penekanan.
lalu beliau mematikan telepon sepihak. kepalanya mendadak pusing.bagaimana tidak merasa bodoh kenapa sampai ayahnya duluan tahu tentang masalah ini dari pada dia. tentu ini adalah ancaman bagi kehidupan keluarganya. karena tuan Wijaya tidak pernah main main dalam mengambil keputusan.
" Ada apa RAN". tanya Bu Ambar melihat perubahan raut wajah putranya.
" Itu Bu". jawab Randi gugup.
" Ada apa jeng tanya Bu Ningsih yang ikut berhenti makan karena merasakan perubahan situasi pada sahabat dan putranya.
" Ah tidak apa - apa jeng, ini hanya urusan kantor, mungkin Randi dengan terpaksa harus duluan meninggalkan kita, tidak apa - apa kan Jeng". kata Bu Ambar berusaha tersenyum menyembunyikan perasaannya yang resah.
" Ah tidak apa - apa jeng justru kami yang nggak enak mungkin menyita waktu kalian". kata Bu Ningsih dengan senyum merekahnya.
Sampainya di kantor pak Dani memandang tajam kearah Randi.
" Apa sih mau kamu Ran?" tanya pak Dani pada putranya. pak Dani tau bagaimana sika Randi selama ini. sikap manja karena perbuatan ibunya yang selalu mendukungnya karena sikap manjanya itu sehingga Randi tidak pernah bijaksana dalam menyelesaikan masalah.
" Pak....". kata Randi masih gugup
"Masalah ini sudah di tau sama opamu". kata pak Dani penuh penekanan dan emosi.
Setelah puas shoping, Bu Kumala pun pulang ke rumah. Selfia pun dapat kecipratan kebahagiaan hari ini mulai makan gratis, Selfia juga bebas memilih apapun yang dia inginkan bukan karena sogokan, namun Bu Kumala tulus melakukan dengan siap saja yang sudah akrab dengan beliau.
Sesampainya diparkiran mereka pun berpisah.
" Sel, terimakasih ya sudah mau menemani kami terutama raja.
" Dengan senang hati kak, sama sama". jawab Selfia sungkan.
__ADS_1
" Sel Sering Sering ya temui kami". kata Oma dengan senyum ramahnya.
" iya Oma, sama sama". jawab Selfia mengangguk dengan hormat.
Sampai di rumah Raja di titip sama bi Surti agar menjaga raja selama mereka tidak ada di rumah.
Mereka pun menuju kekantor karena di panggil oleh Tuan Wijaya.
" Sayang apakah kau baik - baik saja?" tanya Bu Kumala melihat raut wajah suaminya yang begitu kusut dan berantakan.
Tuan Wijaya pun menatap cucu mantunya dengan sendu. lalu membuka kedua tangannya bersiap memeluk cucu mantunya. Rani pun mengerti dan terhanyut dengan situasi Rani pun memeluk Opa dan menangis tersedu - sedu.
" Maafkan aku Opa". ucap Rani sesenggukan menangis diam. Oma pun tanpa sadar meneteskan air mata merasakan sakit yang di yang di alami cucu mantunya selama ini akibat menantu dan cucunya sendiri. beliau merasa sangat bersalah dan terpukul dengan semua yang terjadi, sangat di sayangkan.
" Kamu tenang saja ya Opa akan memberikan pelajaran yang setimpal pada mereka.". kata opa kepada Rani.
" Tidak Opa". kata Rani hampir tak terdengar seraya menggelengkan kepala.
Di saat bersamaan Randi pun datang dengan Bu Ambar dan pak Dani.
Di kantor Nugraha Pratama sengaja disiapkan ruang khusus untuk pertemuan keluarga ketika emergensi.
Bu Ambar menatap Rani sinis.
" Hamm ternyata perempuan ular itu ada disini". batin Bu Ambar menatap Rani.
" Mi.... Pi. sapanya kepada tuan Wijaya dan Bu Kumala. namun yang di sapa menatapnya dingin.
" Aldo putarkan kami film terbaik hari ini". kata tuan Wijaya ke asisten Aldi penuh penekanan.
" Baik tuan". jawab Aldo seraya menuju ke tempat televisi yang cukup lebar yang berada di ruangan tersebut.
Semua tegang, Kecuali Bu Ambar yang masih terlihat santai karena tidak tau ada hal apa dia dipanggil berkumpul di ruangan ini.
Namun ketika layar menyala Bu Ambar pun membelalakkan matanya tak percaya.
" Apa maksud papi dengan semua ini?" tanyanya masih pura pura tidak tau dengan masalah ini.
" Ini pasti perbuatan kamu?" Tanya bi Ambar tajam kepada Rani.
__ADS_1
" Maaf Mas, Bu, Kamu bisa jual aku pun bisa membelinya bahkan lebih mahal yang kalian tawarkan ke aku.
Bu Ambar syok mendengar pernyataan dari Rani. beliau pun tidak menyangka jika Rano berani berbicara seperti itu di hadapan keluarga besar.