
" Pak Kok aku rasa ibu mertuanya Rani belum berubah ya". kata ibuku yang masih ragu dengan perubahan mertuaku.
" Oalah Bu, bapak kira cuma bapak yang melihat mertuanya Rani begitu". kata bapak ikut merasakan apa yang ibu rasakan
" ibu itu kasian Lo pak sama Rani, ini dia lagi hamil ibu mertuanya itu Lo, bukannya senang akan dapat cucu lagi kok malah begitu sikapnya, aneh". kata ibu sangat kesal.
" Sudah buk, yang penting si Randi itu Lo bisa bertanggung jawab, jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, kita doakan saja semoga anak yang di kandung Rani sekarang sehat walafiat serta proses persalinan nanti lancar bapak pengen puas puas gendong cucu hehehe". kata bapak panjang lebar hingga terkekeh saking bahagianya.
" Oalah pak semoga Tiwi nanti kalau dapat jodoh, dapat juga mertua yang baik, tidak kayak mertuanya Rani, sombong dan angkuh banget pak sifatnya.
" Amin" . kata bapak dan ibu hampir bersamaan.
Ceklek
pintu kamar mereka ada yang buka, ternyata Tiwi.
" Lo kamu belum tidur nduk?"
__ADS_1
tanya bapak dengan lembut.
" belum pak, Bu aku dari kamarnya raja baru saja dia tidur setelah aku bacain dongeng tidur". kata Tiwi menjelaskan kepada ibu.
"Kamu sudah bicara sama mbakmu". tanya Bu Salma kepada anaknya Tiwi.
" Belum Bu, tadi ada tamunya , Nanti aja jika mbak Udah nggak sibuk lagi.
" Sekarang mending kamu tidur aja nnduk jika tidak ada kesibukan". kata ibu sambil baring - baring.
Tiwi memang sangat manja, berbeda dengan Rani, dari kecil setengah mati karena Tani lah tipuan keluarga di rumah.
" Bapak mau ke dapur di Ah".kata bapak seraya berlalu pergi ke dapur.
" Oalah pak nanti nggak bisa tidur ngopihati yang b terus". tegur ibu pada bapak Yan punya Riwayat jantung.
" Dari pagi bapak belum ngopi buk". kata bapak seraya melangkah terus ke dapur.
__ADS_1
bapak terus melangkah ke dapur, tanpa sengaja bapak mendengarkan seseorang sedang berbicara, dari suaranya bapak kenal betul siapa lagi kalau bukan Bu Ambar. bapak terpaksa terdiam sesaat karena tidak ingin merusak suana hati apalagi mengganggu yang sedang berbicara.
":iya jeng, aku sudah nggak sabar menunggu lahiran cucuku yang kedua, setelah lahir aku akan membawanya pergi jauh seperti raja akan aku jauhkan juga dia dari ibunya" kata Bu Ambar lewat teleponnya.
" [ hahaha kok Jeng bisa melakukan hal itu ya pada anak sendiri]". balasan telepon dari seberang.
"[ Iya Dong, Tujuanku belum terpenuhi memisahkan Randi dengan istrinya setidaknya mudah memisahkan mereka dari anak anaknya, siapa tau Randi menceraikan istrinya biar nggak susah payah lagi mengambil hati anak - anaknya]" . sahut Bu Ambar lewat teleponnya.
" [ Wah jeng licik juga ya jadi orang jika aku biar jahat sama mantu, namun aku nggak tega misah anak - anak mereka]". kata telepon di seberang lagi.
" Astagfirullah ". ucap bapak dalam hati
" ternyata ibu mertuanya Rani masih punya niat jahat sama Rani, Ya Allah lindungilah anakku, dan cucuku". doa bapak dalam hati lalu bapak tidak melanjutkan ke dapur malai kan kembali ke kamar.
" loh bapak sudah selesai ngopinya?" tanya Tiwi yang penasaran dengan perubahan sikap bapak malam ini tiba tiba berubah.
" Ah kamu, bisa aja jangan sok tau dong sama bapak, maafkan bapak ya, bapak belum bisa memberikan ya g lebih layak kepada kamu bahkan kakakmu". kata bapak membuat Tiwi sedih juga.
__ADS_1