
Pagi ini Randi sudah melaksanakan kegiatannya seperti biasa, selesai sarapan bersama Randi berpamitan pada anak dan istrinya akan pergi kekantor melakukan tanggungjawabnya yang diberikan oleh bapak nya untuk mengelola perusahaan. dan hari ini juga Randi akan menjadikan anaknya yang terbaik d sekolah tersebut.
" ma kapan aku bisa sekolah?" katanya dengan lembut menggenggam tanganku sembari menuju kolam renang.
"Sabar ya sayang papa masih cari sekolah yang dekat dan bagus untuk kamu".Jawabku sembari mengecup keningnya dengan lembut.
" Terimakasih ya ma".
" Aku sayang mama dan juga papa". jawabnya.
" iya sayang, anak mama pintar ya". jawabku sambil memeluknya.
" Iya dong ma, siapa dulu dong mama papanya". jawabnya sembari membusungkan dada karena bangganya.
***
Ditempat lain dimana dua orang paruh baya masih berada di dalam rumah,
mereka masih di liputi perasaan sedih yang begitu mendalam.
Wajar saja karena ini pertama kalinya mereka berpisah dengan cucu semata wayang mereka.
" Pa bagaimana kalau kita susul mereka". Tiba - tiba Bu Ambar buka suara setelah beberapa waktu hening dengan pemikiran mereka masing - masing.
" Jangan Ma, Rina adalah wanita yang sangat lembut dan penyayang, serta wanita yang bertanggung jawab".
" puji terus pa". kata Bu Ambar serasa memanyunkan bibirnya karena kesal suaminya terus membela dan memuji menantu kesayangannya.
" Bukan begitu ma maksudnya".
__ADS_1
" kalau bukan begitu apa lagi kata Bu Ambar seraya menghentakkan kakinya seperti anak kecil saja.
pak Dani segera melirik lalu memeluk istrinya dengan romantis.
" Beri mereka kesempatan ma".
" Mereka juga berhak untuk bahagia".
" Kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu egois dan terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka". kata bapak panjang lebar sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
" Kapan - kapan kita bisa datang kunjungi mereka. kalau papa tidak terlalu sibuk di kantor kata pak Dani lagi. seketika wajah Bu Ambar ceria.
Ditengah - tengah kebahagiaan mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
Tok tok tok
Tok tok tok bunyi pintu diketok dengan kerasnya.
Sejenak mereka saling berpandangan
" Siapa yang datang malam - malam begini pak?"
" Bapak juga tidak tau Bu". jawab pak Dani singkat.
" Biar aku yang bukakan pintu pak". pinta ibu kepada bapak seraya beranjak menuju ke depan di ikuti oleh bapak dari belakang.
Namun terkejutnya Bu Ambar ketika pintu di buka dan tau siapa yang datang.
" Selamat malam Tante, om ". sapanya tanpa rasa malu, siapa lagi kalau bukan Dayu.
__ADS_1
" Ma...malam ". jawab Bu Ambar sedikit terbata karena kaget.
" Apalagi urusannya dia kesini". batin Bu Ambar tercengang melihat kedatangan Dayu dengan tiba - tiba.
" Tante, Om apa kabar?"
tanya Ambar dengan santainya
" Boleh aku masuk Om, Tante ?" tanyanya lagi.
" maaf ini sudah malam kami sudah mau istirahat". jawab Bu Ambar karena tidak mau berurusan lagi dengan yang namanya Dayu.
" Oh begitu ya Tante". kata Dayu tersenyum menyeringai.
" Aku juga tidak lama, Aku hanya mau memberi kabar bahwa aku akan menikah dengan tunanganku yang tentunya lebih kaya raya dibandingkan anak Tante si Randi itu". kata Dayu seketika membuat Bu Ambar tercengang dengan apa yang dikatakan Dayu.
"A ....apa ?" jawabnya terbata.
" Iya Tante, ini undangannya". kata Dayu seraya mengambil sesuatu di dalam tasnya lalu memberikannya ke Bu Ambar.
Dengan tangan sedikit gemetar Bu Ambar mengambil undangan yang diulurkan Dayu kepadanya.
" Pupus Lah harapanku". batinnya.
" Baiklah Tante, Om aku pamit dulu".
" Aku harap Tante dan Om dapat meluangkan waktu untuk datang ke acara pernikahanku nanti". kata Dayu nampak tersenyum penuh kemenangan melihat gelagat Bu Ambar.
" Baik Nak akan kami usahakan". Kali ini bapak yang menjawab.
__ADS_1
" terimakasih Om".
"Selamat malam Tante, Om". kata Dayu sembari berlalu meninggalkan Bu Ambar dan pak Dani dengan perasaan berkecamuk Bu Ambar memandangi punggung Dayu sampai menghilang dari pandangannya.