Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
Bab 117. Ini kertas Surat Perceraian kalian.


__ADS_3

Sudah satu Minggu Andre dan Alisa seperti pengantin baru. Setiap hari mereka selalu memadu kasih, Alisa pun agak heran dengan Suaminya yang selalu meminta jatah tiap hari bahkan dua kali sehari. Suaminya begitu perkasa dan begitu menikmati hubungan intim Suami Istri yang mereka lakukan.


Sampai suatu hari, Andre tampa sepengetahuan Alisa yang sedang tertidur nyenyak di waktu tengah malam.


Andre menulis surat untuk istrinya, dengan penuh linangan air mata.


Selesai menulis surat, diapun menyimpan sebuah kertas yang bermaterei di atas meja rias di dalam kamar tidur mereka. Andre pun menyimpan pakaian nya di sebuah tas dan membawanya keluar kamar.


Diapun kembali ke kamar Istrinya, dan menatapnya dengan penuh linangan air mata.


"Maafkan aku sayangku, aku terpaksa memilih jalan ini, untuk kebahagiaan kalian, bersamaku sayang, kalian hanya akan menderita dan terhina."


Andre menghapus air matanya dan mendekati istrinya dan mengecup keningnya, berulang kali, dan mengecup bibirnya lembut.


Andre pun segera keluar dan segera memesan mobil on line.


Andre pun keluar dari rumah dan tak berselang lama, mobil yang dipesannya sudah datang menjemputnya.


Andre berbalik memandang rumah yang ada istrinya di dalamnya, yang tidak tahu kalau Suaminya akan meninggalkan dia, dan telah menandatangani surat cerai yang sudah dia urus Andre dengan Paman Alisa. Bahkan orang tua Alisa pun, sudah mengetahuinya.

__ADS_1


Flashback Andre dan keluarga Alisa.


Andre 5 hari yang lalu mendatangi rumah Paman Alisa.


Mereka pun duduk berhadapan.


"Bagaimana Andre, sudah kamu pikirkan permintaan kami. Alisa akan jauh lebih baik hidup tampa kamu, begitu juga kamu, tidak akan menerima kebencian dari kami lagi."


"Baiklah Paman, hanya satu yang perlu Paman tahu kalau aku sangat mencintai anak dan istriku, dan aku saat ini berkorban untuk kebahagiaan Anak dan Istriku."


Menatap sendu dan mulai meneteskan air mata kepedihan.


Andre menghapus air matanya.


Paman Andre memberinya sebuah kertas yang ada materei nya.


"Ini kertas surat perceraian kalian , dan tanda tangan di bawah ini, dan berikan pada Alisa."


Andre mengambil kertas itu, membacanya dan membuatnya kembali meneteskan air mata, dan segera membubuhi tanda tangannya di sana.

__ADS_1


Andre pun menyimpan kertas itu setelah melipatnya, dan menyimpan di dalam tasnya.


"Berikan saya waktu 5 hari lagi, untuk bersama istri saya Paman."


",Baiklah, Apa kamu tidak mau terima cek tunai ini, ? untuk modal usaha kamu. Karna keluarga kami, yang sangat di segani dan di hormati dan Alisa adalah cucu tertua di keluarga kami, dan kami menganut sistem perjodohan, kami tidak mau semua sepupu Alisa menjadikan contoh Alisa, dan menjadi pembangkang. Dengan berpisahnya kalian itu sudah contoh bagi mereka, jika lebih baik mengikuti kehendak orang tua."


Andre termenung dan berbicara dalam hati.


"Ya Allah...berikanlah saya ketabahan untuk menghadapi hambamu, yang telah di butakan


oleh harta dunia, dan sangat tega, memisahkan Suami dengan istri yang di cintainya dan memisahkannya Ayah dengan anaknya yang dia cintai dan sayangi.


Anakku Afkar...jangan membenci Ayah nak, Apapun Ayah korbankan demi kebahagiaan kalian."


Andre pun berdiri dan berbalik dan air matanya pun berderai sangat sedih, akan kehilangan kedua orang yang begitu di cintainya.


Sedangkan Paman Alisa tersenyum sumringah, dan menelpon Kakaknya yakni Ayah Alisa, mengabarkan jika Andre sudah setuju bercerai dengan Alisa.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2